BALIEXPRESS.ID – Festival Semarak Jembrana 2026 tidak hanya menjadi rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-131 Kota Negara.
Gelaran yang dirangkaikan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali ini juga menjadi panggung untuk memperkuat eksistensi seni dan budaya lokal Jembrana.
Mengusung tema “Negaroa Pride!: Taman Sari Bhineka Tunggal Ika”, Festival Semarak Jembrana menghadirkan beragam pertunjukan kesenian tradisional yang melibatkan ribuan seniman, pelajar, sekaa teruna, hingga komunitas seni dari seluruh wilayah Jembrana.
Baca Juga: Pemkab Bangli Sadur Lontar Kuno, Hasilnya Jadi Koleksi Perpustakaan
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana Anak Agung Komang Sapta Negara menyampaikan, rangkaian kegiatan seni dalam Festival Semarak Jembrana menjadi momentum untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menampilkan sekaligus melestarikan seni dan budaya daerah.
“Festival ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang apresiasi dan pelestarian seni budaya Jembrana. Kami ingin generasi muda ikut terlibat secara aktif sehingga kesenian tradisional tetap hidup dan terus berkembang,” ujar Sapta Negara.
Menurut dia, keterlibatan pelajar dalam berbagai lomba kesenian juga menjadi bagian penting dari proses regenerasi seniman.
Baca Juga: Viral! Sumber Air Telaga Tunjung Tabanan Mengering, Ternyata BWS Lakukan Pemeliharaan
Dengan memberikan kesempatan tampil dan berkompetisi, para generasi muda diharapkan semakin mengenal serta mencintai seni budaya daerah.
Rangkaian kegiatan seni telah dimulai sejak Minggu (16/8/2026) dan berlangsung hingga Minggu (23/8/2026).
Baca Juga: Singgung Kulkul Bulus, Parta Minta Kasus Juwuk Legi Ditangani Secara Proporsional
Salah satu pertunjukan yang menjadi perhatian adalah Lomba Gong Kebyar Anak-Anak yang digelar di Arda Candra Pura Jagatnatha Jembrana.
Pada Minggu (16/8/2026) malam, Gong Kebyar Anak-Anak mempertemukan perwakilan Kecamatan Jembrana dengan Kecamatan Pekutatan.
Selanjutnya, pada Selasa (18/8/2026) malam, giliran Kecamatan Negara berhadapan dengan Kecamatan Mendoyo.
Pertunjukan Gong Kebyar kemudian dilanjutkan pada Rabu (19/8/2026) malam dengan penampilan Kecamatan Melaya bersama pendamping.
Tak hanya Gong Kebyar, festival juga memberikan ruang besar bagi seni musik tradisional lainnya.
Pagelaran Musik Bambu digelar selama dua malam, yakni Selasa (18/8/2026) dan Rabu (19/8/2026), di Gedung Kesenian Dr. Ir. Soekarno.
Sebanyak lima sekaa dengan total sekitar 150 seniman terlibat dalam setiap pagelaran.
Kemeriahan berlanjut melalui Lomba Baleganjur yang melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.
Pada Kamis (20/8/2026), sebanyak 12 sekolah mengikuti lomba Baleganjur tingkat SD dan SMA/SMK dengan total sekitar 385 seniman.
Di hari yang sama, turut digelar Lomba Baleganjur Ngarap antar-sekaa teruna desa. Tiga peserta yang ambil bagian berasal dari Desa Yeh Sumbul, Desa Baluk, dan Desa Kaliakah.
Sementara itu, Lomba Baleganjur tingkat SMP se-Kabupaten Jembrana menjadi salah satu agenda yang melibatkan peserta dalam jumlah besar.
Kompetisi tersebut diikuti sekolah-sekolah dari seluruh kecamatan di Jembrana dan dijadwalkan berlangsung dalam dua hari, yakni Jumat (21/8/2026) dan Sabtu (22/8/2026).
Selain menjadi ajang kompetisi, rangkaian lomba tersebut sekaligus menjadi ruang regenerasi seniman.
Pelajar diberikan kesempatan untuk mengenal, memainkan, sekaligus mengembangkan kesenian tradisional Bali di tengah perkembangan budaya modern.
Semarak seni dan budaya kemudian mencapai puncaknya melalui Parade Budaya yang dijadwalkan berlangsung Minggu (23/8/2026) sore.
Parade mengambil rute sepanjang Jalan Ngurah Rai dengan panggung utama berada di depan Pasar Umum Negara. Kegiatan ini melibatkan sekitar 1.500 seniman.
Tak kalah menarik, pada Minggu (23/8/2026) pagi juga dijadwalkan Lomba Penjor antar-Desa se-Kabupaten Jembrana. Sebanyak 51 desa ikut ambil bagian dengan melibatkan sekitar 255 orang.
Sebagai penutup rangkaian seni, masyarakat juga akan disuguhkan Drama Gong Dharma Sanggraha Budaya dari Desa Yehkuning. Pertunjukan tersebut dijadwalkan berlangsung Minggu (23/8/2026) mulai pukul 20.00 Wita.
Sapta Negara menambahkan, keberagaman bentuk kesenian yang ditampilkan dalam festival tersebut sejalan dengan tema “Taman Sari Bhineka Tunggal Ika”. Menurutnya, keberagaman seni dan kreativitas masyarakat merupakan kekuatan budaya yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kami berharap Festival Semarak Jembrana menjadi momentum untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap seni dan budaya daerah. Semangat kebersamaan dan keberagaman inilah yang ingin kami tampilkan melalui seluruh rangkaian kegiatan,” pungkasnya.
Dengan berbagai pertunjukan tersebut, Festival Semarak Jembrana 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat. Lebih dari itu, festival menjadi ruang apresiasi, pelestarian, sekaligus regenerasi seni budaya Jembrana di tengah semangat perayaan HUT ke-131 Kota Negara. (*)
Editor : I Made Mertawan