BALIEXPRESS.ID – Semangat ngayah dan gotong royong menjadi kekuatan utama di balik suksesnya Festival Semarak Jembrana 2026. Digelar selama 10 hari, festival dalam rangka memperingati HUT ke-131 Kota Negara, Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, serta HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu tetap berlangsung meriah meski daerah tengah menghadapi efisiensi anggaran dan kondisi keuangan yang cukup ketat.
Beragam kegiatan seni, budaya, olahraga, ekonomi kreatif hingga kegiatan sosial tetap mampu menyedot perhatian masyarakat. Puncak rangkaian festival ditandai dengan Pawai Budaya yang berlangsung Minggu (23/8/2026).
Pawai mengambil rute dari Puri Negara menuju Tugu Adipura Jembrana melalui Jalan Gatot Subroto hingga Jalan Ngurah Rai. Mengusung tema “Taman Sari Bhineka Tunggal Ika”, pawai melibatkan sekitar 1.912 seniman dan peserta. Ribuan masyarakat tampak memadati sepanjang jalur parade untuk menyaksikan beragam atraksi seni dan budaya yang ditampilkan.
Rangkaian pawai diawali dengan penampilan musik khas Jembrana, Jegog dan Kendang Mebarung. Pembukaan kemudian ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Bupati Jembrana yang didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali selaku perwakilan Gubernur Bali, Wakil Bupati Jembrana serta jajaran Forkopimda.
Gebyar Jegog Kolaborasi menjadi penanda dimulainya parade. Penampilan dilanjutkan dengan Tari Cepaka Putih, Payas Agung, uparengga, rias karnaval hingga barisan pakaian adat dan pakaian suku Nusantara.
Kreativitas generasi muda juga mendapat ruang dalam pawai tersebut. Di antaranya melalui Tari Kolosal Anak-Anak Sanggar Tari Pradnya Swari serta garapan tari modern Padukuhan Seni Tibu Bunter.
Sejumlah instansi dan kelompok masyarakat turut ambil bagian, seperti Universitas Triatma Mulya, Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Polres Jembrana, Marching Band Etnic Universitas Warmadewa, BPD Bali, Perumda Air Minum Tirta Jati Amerta hingga barisan yowana.
Yang tidak kalah menarik adalah parade dari lima kecamatan di Kabupaten Jembrana. Kecamatan Pekutatan, Melaya, Mendoyo, Negara dan Jembrana tampil membawa identitas serta kesenian khas masing-masing.
Setiap kecamatan menampilkan pedeengan, gebogan, penari rerejangan, uparengga hingga tabuh pengiring. Kelima camat juga turut ambil bagian dalam penampilan tersebut. Keterlibatan langsung para camat menjadi gambaran semangat kebersamaan sekaligus partisipasi unsur pemerintahan dalam menyemarakkan festival.
Selain Pawai Budaya, Festival Semarak Jembrana 2026 selama 10 hari juga menghadirkan berbagai kegiatan yang tersebar di tiga zona utama.
Area Parkir Pemkab Jembrana menjadi pusat kegiatan UMKM, ekonomi kreatif dan job fair. Sementara Pura Jagatnatha menjadi ruang pementasan seni tradisi seperti Gong Kebyar, Baleganjur dan Drama Gong.
Sedangkan Gedung Kesenian Dr. Ir. Soekarno menghadirkan pertunjukan kontemporer, konser musik, Jegog, Joged Bumbung hingga Wayang Kulit.
Bupati Jembrana menegaskan, kemeriahan festival tidak terlepas dari semangat ngayah dan gotong royong seluruh pihak. Menurutnya, kondisi keuangan daerah yang ketat tidak menjadi alasan untuk menghilangkan ruang hiburan dan ekspresi masyarakat.
“Kita ingin menghadirkan hiburan yang memang dibutuhkan masyarakat. Di tengah situasi sulit saat ini, kunci utamanya adalah gotong royong. Panitia semua ngayah, seniman juga ngayah, ditambah dukungan swasta, BUMN, BUMD, hingga komunitas,” tegasnya.
Semangat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sebuah perhelatan besar tidak selalu harus bertumpu pada besarnya anggaran. Dengan kebersamaan, partisipasi masyarakat dan semangat ngayah, kegiatan seni dan budaya tetap dapat berlangsung serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan berekspresi.
Festival Semarak Jembrana 2026 pun menjadi gambaran keberagaman seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat Jembrana. Semangat tersebut diharapkan terus menjadi kekuatan dalam mempererat kebersamaan sekaligus mendorong kreativitas masyarakat menuju Jembrana yang maju, harmonis dan bermartabat. (tor)
Editor : Wiwin Meliana