Tumpek Uye Dirayakan 5 September, Koster Ajak Masyarakat Bali Memuliakan Satwa

Rika Riyanti • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 13:19 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan terima kasi kepada wisatawan asing melalui pernyataan dalam bentuk konten grafis dan video yang diluncurkan secara resmi di Gedung Kertha Sabha, Sabtu (16/5/2026). (Ist) 
Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan terima kasi kepada wisatawan asing melalui pernyataan dalam bentuk konten grafis dan video yang diluncurkan secara resmi di Gedung Kertha Sabha, Sabtu (16/5/2026). (Ist) 

 

 

BALIEXPRESS.ID – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pelaksanaan Rahina Tumpek Uye pada Sabtu, 5 September 2026.

Perayaan yang bertepatan dengan Saniscara Kliwon Uye tersebut dilaksanakan secara niskala dan sakala sesuai Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru.

Rahina Tumpek Uye merupakan hari untuk memuliakan hewan, satwa, atau fauna sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan alam beserta seluruh isinya.

Dalam penegasan yang dikeluarkan pada Kamis, 3 September 2026, Koster menjelaskan perayaan Tumpek Uye mengandung pesan agar manusia tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga melakukan tindakan nyata untuk menjaga dan memberikan kembali kepada alam.

Baca Juga: Hanura Bali Siapkan Kebangkitan, Targetkan 36 Kursi DPRD dan Satu Kursi DPR RI di 2029

Secara niskala, pelaksanaan Tumpek Uye dilakukan melalui persembahyangan atau mabhakti bersama di wilayah masing-masing.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga selesai dengan sarana upakara sesuai dresta Bali.

Sementara secara sakala, masyarakat dapat melaksanakan kegiatan pelepasan burung, tukik, ikan, maupun jenis binatang lainnya sesuai kondisi di masing-masing wilayah.

Kegiatan sakala tersebut juga dapat dikembangkan dalam kegiatan yang lebih besar pada Minggu, 6 September 2026.

Koster menekankan, pelaksanaan Tumpek Uye bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga pengetahuan warisan leluhur Bali mengenai hubungan manusia dengan alam.

“Sebagai Gubernur Bali, titiang mengajak seluruh Komponen Masyarakat di Bali untuk bersama-sama merayakan/melaksanakan Rahina Tumpek Uye dengan sebaik-baiknya serta penuh rasa tanggung jawab demi Nindihin Gumi Bali,” kata Koster, Kamis (3/9).

Ia menyebut nilai yang terkandung dalam Tumpek Uye mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam.

Manusia dinilai merupakan bagian dari alam sehingga keberlangsungan kehidupan perlu dijaga dengan memelihara kelestarian lingkungan.

Baca Juga: FOMO: Ketika Kebahagiaan Diukur dari Kehidupan Orang Lain

Pelaksanaan Rahina Tumpek Uye juga ditegaskan menjadi tanggung jawab berbagai unsur masyarakat, mulai dari lembaga vertikal, pemerintah kabupaten/kota, Majelis Desa Adat, lembaga pendidikan, desa dinas dan adat, organisasi kemasyarakatan, pihak swasta, hingga berbagai komponen masyarakat lainnya.

Melalui pelaksanaan secara niskala dan sakala tersebut, masyarakat Bali diharapkan tidak hanya memaknai Tumpek Uye sebagai hari penghormatan terhadap satwa, tetapi juga menerapkan nilai keseimbangan antara manusia dan alam dalam kehidupan sehari-hari.(***)

Editor : Rika Riyanti
bali wayan koster satwa tumpek uye