BALIEXPRESS.ID — Gubernur Bali Wayan Koster menargetkan seluruh aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang belum memiliki sertifikat dapat dituntaskan hingga Desember 2026.
Dari total sekitar 5.900 bidang aset Pemprov Bali, saat ini masih terdapat 511 bidang yang belum bersertifikat.
Koster mengatakan percepatan sertifikasi aset menjadi salah satu pekerjaan yang sedang dikebut Pemprov Bali agar seluruh aset daerah memiliki status administrasi yang jelas dan tertata.
“Lahannya 5.900 bidang tinggal 511 bidang yang belum bersertifikat. Akan saya tuntaskan sampai Desember ini,” tegas Koster saat penyampaiannya dalam Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (7/9).
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, 13.000 Penumpang Terdampak dan 108 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali Bata
Koster mengungkapkan dirinya telah melakukan rapat bersama jajaran terkait untuk memastikan proses sertifikasi ratusan bidang aset tersebut dapat diselesaikan sesuai target.
“Kemarin saya sudah rapat dengan BPN Bali agar selesai tuntas sertifikat yang lahan-lahan yang belum bersertifikat supaya rapi. Astungkara Desember selesai,” ucapnya.
Menurut Koster, penertiban administrasi aset merupakan bagian dari upaya Pemprov Bali dalam mengoptimalkan seluruh kekayaan daerah.
Dia menilai masih banyak aset pemerintah yang belum dikelola secara maksimal, bahkan sebagian di antaranya dikuasai atau dimanfaatkan pihak lain.
“Dan mengoptimalkan pengolahan aset. Aset yang baru baru ini berkeliaran di mana-mana. Tapi enggak terurus. Ada ditempati oleh orang liar. Dikuasai segala macam, tumbuhi rumput. Begini kondisinya. Sekarang saya harus kerja keras beresin ini,” tuturnya.
Koster menegaskan aset milik pemerintah tidak boleh dibiarkan menganggur.
Menurutnya, aset harus mampu memberikan manfaat dan produktivitas bagi daerah.
Baca Juga: Jadi Tantangan Dinas Pariwisata, Kunjungan ke Desa Wisata Badung Belum Merata
“Supaya saya ini betul-betul dia bekerja. Saya ikut pendapatnya Ibu Sri Mulyani Menteri Keuangan terdahulu. Kalau di Negara Maju, aset banyak bekerja, orang sedikit yang bekerja, lebih produktif. Di Negara Berkembang, asetnya diam, orang yang terlalu pakai kerja. Kita harus mengikuti model ini. Punya aset, jangan dibiarin tidur nyenyak. Bahkan mau diambil dengan orang,” katanya.(***)
Editor : Rika Riyanti