BALIEXPRESS.ID – Ancaman kebakaran kembali meningkat di Kabupaten Buleleng di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.
Dalam sehari, Senin (7/9/2026), sebanyak enam kejadian kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari kebakaran lahan hingga kebakaran rumah.
Enam kejadian tersebut tersebar di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu; Desa Pangkung Paruk dan Desa Ularan, Kecamatan Seririt; Banjar Dinas Konci, Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar; Jalan Jalak Putih LC Baktisraga; serta Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada.
Baca Juga: Kepercayaan Nasabah Dorong Penghimpunan Dana, DPK BRI Capai Rp1.580 Triliun dan Didominasi CASA
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Buleleng langsung mengerahkan personel dan armada ke lokasi setiap kali menerima laporan.
Langkah cepat tersebut dilakukan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah kebakaran menjalar ke wilayah maupun bangunan di sekitarnya.
Kepala Damkarmat Kabupaten Buleleng Gede Arya Suardana mengatakan, dari enam kejadian yang ditangani, tiga di antaranya merupakan kebakaran lahan.
Baca Juga: Utamakan Komitmen Keselamatan, UPT Bali laksanakan Refreshment Prosedur Penyelamatan di Ketinggian
Luasan lahan yang terbakar masing-masing sekitar 50 are di Desa Ularan, serta sekitar 30 are di Banjar Dinas Konci, Desa Tigawasa dan Desa Pangkung Paruk.
Sementara itu, tiga kejadian lainnya terjadi pada bangunan rumah. Kebakaran di Desa Gitgit menghanguskan bagian dapur dan sejumlah bagian bangunan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan PLTS Gilimanuk, PLN UPT Bali Siap Dukung Integrasi Energi Hijau
Kebakaran juga terjadi di kawasan Jalak Putih LC 8 Blok B dengan objek yang terdampak antara lain atap rumah, kompor dan pakaian. Satu kejadian lainnya dilaporkan terjadi di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu.
“Setiap laporan yang masuk langsung kami tindak lanjuti dengan mengerahkan petugas ke lokasi. Kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat membesar, terlebih apabila disertai angin,” kata Arya saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).
Dalam keseluruhan penanganan tersebut, Damkarmat mengoperasikan sekitar lima tangki air.
Satu tangki digunakan untuk menangani kebakaran lahan di Ularan, sementara tiga tangki dikerahkan untuk penanganan kebakaran di Tigawasa dan Pangkung Paruk. Satu tangki lainnya digunakan dalam penanganan kebakaran rumah di Gitgit.
Menurut Arya, durasi penanganan di masing-masing lokasi berbeda. Api di lahan Desa Ularan berhasil dipadamkan sekitar satu jam, sedangkan penanganan di Tigawasa berlangsung sekitar satu jam 40 menit.
Sementara kebakaran rumah di Gitgit, kawasan LC, dan Desa Bengkel dapat dikendalikan dalam waktu sekitar 45 menit.
Kecepatan penanganan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah dampak kebakaran semakin besar, terutama untuk kebakaran lahan, kondisi vegetasi yang kering dapat membuat api dengan cepat berpindah mengikuti arah angin.
“Yang kami lakukan bukan hanya memadamkan titik api, tetapi juga melakukan pelokalan supaya api tidak merambat. Personel harus memperhatikan kecepatan, keselamatan dan ketepatan saat berada di lapangan,” jelasnya.
Damkarmat kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
Aktivitas yang melibatkan api, termasuk pembakaran sampah maupun lahan, perlu dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak meninggalkan api dalam kondisi tanpa pengawasan.
Masyarakat juga diminta memastikan kompor maupun peralatan listrik dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah.
Apabila menemukan titik api atau melihat adanya indikasi kebakaran, laporan diharapkan segera disampaikan kepada petugas agar dapat ditangani sebelum api berkembang luas.
“Jangan menunggu api membesar. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula petugas bisa melakukan penanganan dan mengurangi risiko kebakaran meluas,” tutup Arya. (*)
Editor : I Made Mertawan