746 Hektare Sawah Tabanan Kekurangan Air, Petani Mulai Tunda Tanam Padi

IGA Kusuma Yoni • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 06:42 WIB
Petani di beberapa kawasan di Tabanan sengaja membiarkan lahannya kosong karena tidak mendapat pasokan air. (DOK BALI EXPRESS)
Petani di beberapa kawasan di Tabanan sengaja membiarkan lahannya kosong karena tidak mendapat pasokan air. (DOK BALI EXPRESS)

BALIEXPRESS.ID- Dampak musim kemarau dirasakan oleh petani di Kabupaten Tabanan.

Selain sudah mengalihkan jenis komoditi yang ditanam, para petani juga berencana untuk menunda waktu tanam pada periode saat ini karena banyak lahan sawah yang mengalami kekeringan.

Dari data Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan per bulan Agustus lalu mencatat ada 746 hektare lahan sawah di Tabanan kekurangan air selama musim kemarau tahun ini.

Baca Juga: Sehari Enam Kebakaran Terjadi di Buleleng, Warga Diminta Waspada

Lahan tersebut ada di enam Kecamatan antara lain Pupuan, Selemadeg Timur, Tabanan, Kerambitan, Selemadeg Barat, dan Selemadeg.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Pradnyana, mengatakan lahan sawah yang terkena dampak musim kemarau paling luas terjadi di Kecamatan Selemadeg, dimana banyak subak mengalami penurunan debit air.

“Sehingga kondisi tersebut membuat di Kecamatan Selemadeg harus menyesuaikan komoditas yang ditanam. Bahkan ada beberapa kawasan yang harus menunda masa tanam padi karena tidak ada pasokan air,” jelasnya Selasa (8/9/2026).

Baca Juga: Kepercayaan Nasabah Dorong Penghimpunan Dana, DPK BRI Capai Rp1.580 Triliun dan Didominasi CASA

Adapun Subak yang kekurangan air selama musim kemarau saat ini berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, adalah, Subak Serampingan di Desa Serampingan tercatat kekurangan air pada 79 hektar  lahan.

Kemudian Subak Aseman II terdampak 75 hektar, disusul Subak Andel Dewa di Desa Selemadeg seluas 51 hektare.

Baca Juga: Utamakan Komitmen Keselamatan, UPT Bali laksanakan Refreshment Prosedur Penyelamatan di Ketinggian

Selanjutnya di Desa Berembeng, kekurangan air terjadi di Subak Lanyah Bajera I seluas 40 hektare, Subak Lanyah Bajera II seluas 44 hektar, dan Subak Lanyah Bajera III seluas 41 hektar.

Dampak paling luas tercatat di Subak Bulung Daya, Desa Antap, dengan lahan terdampak mencapai 138 hektare dari luas baku sekitar 142,42 hektare.

Selanjutnya di Kecamatan Selemadeg Barat, kekurangan air juga terjadi Subak Antosari, Desa Antosari.

Untuk mengatasi mengecilnya debit air akibat musim kemarau, Pradnyana mengatakan penggunaan pompa menjadi upaya yang dapat dilakukan subak yang masih memiliki sumber air, meski debitnya terbatas.

“Namun, apabila kondisi lahan benar-benar kering dan tidak tersedia sumber air, petani tidak dianjurkan memaksakan penanaman padi atau mengistirahatkan lahan. Tujuannya mengembalikan kesuburan tanah secara alami,” lanjutnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
sawah kekeringan musim kemarau tabanan