Atasi Macet Jalur Gilimanuk-Denpasar, Koster Siapkan Jalur Laut Truk Logistik Ketapang-Celukan Bawan

Rika Riyanti • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 09:26 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat diwawancara usai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (21/9)
Gubernur Bali Wayan Koster saat diwawancara usai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (21/9)

 

BALIEXPRESS.ID— Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan sejumlah rencana pembangunan infrastruktur transportasi untuk mengatasi kemacetan, khususnya yang terjadi di jalur Gilimanuk-Denpasar. Salah satu langkah yang didorong adalah pengalihan sebagian angkutan logistik dari jalur darat menuju sejumlah pelabuhan di Bali.

 

Koster mengatakan, truk logistik menjadi salah satu penyebab utama kemacetan di jalur Gilimanuk menuju Denpasar. Karena itu, pihaknya telah berdiskusi dengan Menteri Perhubungan untuk mencari solusi terhadap persoalan tersebut.

 

“Kemudian saya dengan Pak Menhub berdiskusi terkait kemacetan dari Gilimanuk ke Denpasar. Ternyata truk-truk logistik ini yang paling bikin masalah,” kata Koster saat menyampaikan perkembangan pembangunan insfrastuktur dalam Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (21/9).

 

Menurut Koster, saat ini pembangunan dermaga baru di Pelabuhan Celukan Bawang tengah dilakukan oleh ASDP. Dermaga tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada periode arus mudik Lebaran mendatang.

 

“Sekarang dibangun dermaga baru di Pelabuhan Celukan Bawang oleh ASDP. Target selesainya itu paling tidak bisa beroperasi waktu mau mudik lebaran itu,” ujarnya.

 

Pembangunan tersebut diharapkan dapat mencegah terulangnya kemacetan seperti yang terjadi pada periode mudik sebelumnya. Nantinya, sebagian truk logistik dari Ketapang tidak perlu menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk, tetapi dapat langsung menuju Celukan Bawang.

 

“Supaya tidak terulang lagi kejadian macet tahun yang lalu. Nah, rencananya nanti adalah truk logistik dari Ketapang itu sebagian enggak usah nyebrang ke Gilimanuk. Langsung ke Celukan Bawang,” kata Koster.

 

Selain Celukan Bawang, pemerintah juga merancang pengembangan sejumlah pelabuhan lain, yakni Sangsit, Amed, dan Kusamba. Koster menyebut dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan agar pembangunan Sangsit dan Amed dapat dibiayai melalui APBN.

 

“Saya sudah bicara sama Menhub minta tolong untuk Sangsit sama Amed supaya bisa didanai dari APBN,” ujarnya.

 

Untuk pembebasan lahan, Koster mengatakan Pemerintah Provinsi Bali akan menyiapkannya pada 2027. Sementara pembangunan di Kusamba, Klungkung, akan melibatkan investasi swasta dan saat ini telah masuk dalam tahap feasibility study (FS).

 

“Lahannya pemprov akan dibebaskan 2027. Yang di Kusamba investasi swasta bupatinya ada kerja sama. juga sudah masuk dalam FS. Hal-hal ini sudah jalan semua,” katanya.

 

Dengan pengembangan sejumlah pelabuhan tersebut, distribusi truk logistik diharapkan tidak lagi seluruhnya bertumpu pada jalur darat Gilimanuk-Mengwi.

 

Selain mengurai distribusi logistik, infrastruktur pelabuhan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata bahari di Bali.

 

“Sehingga nanti selain untuk urusan logistik juga akan dimanfaatkan untuk mengembangkan wisata Bahari di Bali. Ini yang sedang kita laksanakan,” katanya.

 

Koster juga menyampaikan perkembangan pembangunan jalan tol Gilimanuk-Mengwi. Menurut dia, terdapat perubahan konsep pada ruas Gilimanuk-Pekutatan yang tidak lagi dibangun sebagai jalan tol, melainkan peningkatan kapasitas jalan nasional.

 

“Tol yang sebetulnya dari Gilimanuk ke Mengwi, atas pertimbangan tertentu tol Gilimanuk-Mengwi yang dari Gilimanuk ke Pekutatan itu tidak tol melainkan peningkatan kapasitas jalan nasional,” ujar Koster.

 

Sementara itu, ruas Pekutatan-Mengwi tetap direncanakan sebagai jalan tol. Proses tender ditargetkan berlangsung pada akhir tahun.

 

“Dari Pekutatan Mengwi, baru tol. Akhir tahun ini tender, informasi dari Kementerian PU ketika dilaporkan pada saat raker di Komisi 5 DPR RI,” katanya.

 

Koster berharap perubahan konsep tersebut tidak kembali menghambat pelaksanaan proyek. Ia menyebut perubahan frase berdampak pada perubahan perencanaan dan anggaran.

 

“Mudah-mudahan ini tidak ada halangan. Karena ada perubahan frase sehingga ada perubahan perencanaan, perubahan anggaran,” ujarnya.

 

Jika proses berjalan sesuai rencana, pembangunan ditargetkan mulai pada awal 2027.

 

“Jadi, mudah-mudahan ini berjalan dengan lancar, sehingga dengan ini itu target bisa ee tercapai awal 2027 mulai ee pemgerjaan,” kata Koster.

 

Selain pelabuhan dan jalan tol, Koster juga mengungkapkan rencana pembangunan trem untuk mengatasi kemacetan dari kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju Canggu.

 

Menurut Koster, rencana tersebut merupakan arahan Menteri PPN/Kepala Bappenas kepada Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). KAI disebut telah melakukan tiga kali pemaparan terkait rencana tersebut.

 

“Atas arahan Menteri Bappenas kepada Dirut Kereta Api Indonesia untuk mengatasi kemacetan dari wilayah Ngurah Rai ke Canggu. KAI sudah tiga kali paparan, sudah oke, anggarannya juga disiapkan. Jadi mulai 2027 akan dibangun,” ujarnya.

 

Koster mengatakan pihaknya tengah mengupayakan agar peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek tersebut dilakukan langsung oleh Presiden.

 

“Sedang diupayakan yang akan di ground breaking itu adalah Bapak Presiden langsung. Karena beliau memerintahkan pada dirut KAI untuk urusin Bali,” katanya.

 

Ia menilai pembangunan trem tersebut akan mendukung karakter Bali sebagai destinasi pariwisata sekaligus selaras dengan budaya Bali.

 

“Kerennya keren banget. Beda sama yang di sana. Ini pasionnya, pasion pariwisata. Keren sekali cocok sama budaya Bali,” ujar Koster.

 

Koster menargetkan berbagai pembangunan infrastruktur tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap persoalan kemacetan di Bali dalam beberapa tahun ke depan.

 

“Nah, kalau ini selesai semua saya kira 2028 kita tidak lagi menghadapi masalah yang macet-macet kayak begitu. 2028-2029 lagi, selesai semua semua astungkara,” katanya.

 

Menurut dia, pembangunan infrastruktur transportasi tersebut juga akan memperkuat fondasi perekonomian Bali dan meningkatkan daya saing daerah.

 

“Maka dengan demikian Bali ini akan memiliki pondasi yang lebih kokoh, lebih kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi maupun juga meningkatkan daya saing peserta Bali,” kata Koster.(ika)

Editor : Wiwin Meliana
koster logistik truk