Menbud Fadli Zon Buka Utsawa Bali Sani 2026, UNHI Rawat Semangat Ngayah dalam Seni Budaya

I Gede Paramasutha • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 22:09 WIB
Menteri Kebudayaan (Menbud) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Prof. (H.C.) membuka Festival Utsawa Bali Sani ke-11 Tahun 2026 yang digelar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Kamis (25/9). (Bali Express/I Gede Paramasutha)
Menteri Kebudayaan (Menbud) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Prof. (H.C.) membuka Festival Utsawa Bali Sani ke-11 Tahun 2026 yang digelar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Kamis (25/9). (Bali Express/I Gede Paramasutha)

BALIEXPRESS.ID - Menteri Kebudayaan (Menbud) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Prof. (H.C.) membuka Festival Utsawa Bali Sani ke-11 Tahun 2026 yang digelar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Kamis (25/9). Festival tersebut menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, seni, pendidikan, dan kebudayaan sekaligus bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan budaya Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon hadir didampingi Koordinator Dewan Penasihat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Putu Supadma Rudana. Kehadiran mereka disambut Rektor UNHI Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., Ketua Yayasan Widya Kerthi Kolonel (Purn.) Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, serta Ketua Senat UNHI sekaligus Kurator Utsawa Bali Sani, Prof. Dr. Ida Bagus Gede Yudha Triguna, M.S.

Fadli Zon menyampaikan apresiasinya karena Utsawa Bali Sani kembali digelar setelah sempat vakum selama enam tahun. Menurutnya, keberlanjutan festival tersebut menjadi momentum penting untuk merayakan kekayaan ekspresi budaya sekaligus memperkuat komitmen dalam menjaga seni dan budaya Bali.

Baca Juga: Indonesia Comeback Dramatis, Tiongkok Takluk 3-2 dan Emas Asian Games 2026

"Suatu kehormatan bagi saya pertama kali bisa hadir di acara Utsawa Bali Sani ke-11 tahun 2026. Dan Pak Rektor ini berhasil sekarang ini menghidupkan kembali Utsawa Bali Sani setelah enam tahun. Tentu ini satu prestasi dan tentu sudah dirintis oleh beberapa pendahulu sebelumnya," kata Fadli.

Ia menilai Utsawa Bali Sani tidak sekadar menjadi festival seni, tetapi juga ruang pendidikan, apresiasi, dialog, serta penciptaan karya. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa kebudayaan merupakan bagian yang hidup dalam keseharian.

Fadli juga menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, termasuk perguruan tinggi, seniman, budayawan, komunitas, dan generasi muda.

Baca Juga: Guruh Soekarnoputra Kritis, Belum Sadarkan Diri di RS Siloam Semanggi

"Melalui pendidikan, apresiasi, dialog, dan penciptaan karya, Utsawa Bali Sani ini menjadi ruang perjumpaan yang menumbuhkan kesadaran bahwa kebudayaan merupakan bagian yang hidup dalam keseharian kita," ujarnya. Menurut Fadli, pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian yang berdiri sendiri merupakan wujud komitmen pemerintah dalam memperkuat pemajuan kebudayaan nasional. 

Ia merujuk Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Amanat konstitusi tersebut kemudian diturunkan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. 

Dalam implementasinya, pemajuan kebudayaan mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Fadli mengatakan Bali memiliki posisi penting dalam konteks tersebut. Menurutnya, Bali telah dikenal luas di dunia salah satunya karena kekuatan seni, budaya, serta adat istiadatnya.

"Kenapa Bali terkenal? Salah satunya adalah karena kuatnya seni budaya dan adat istiadat yang ada di Bali," tandasnya. Ia menyebut ekosistem kebudayaan Bali telah berkembang sejak lama dan menjadi salah satu contoh bagi daerah lain dalam membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan. Namun, kekayaan tersebut tetap membutuhkan upaya pelindungan dan regenerasi agar tidak kehilangan pelaku serta pendukungnya.

Fadli kemudian mengingatkan bahwa pemajuan kebudayaan mencakup 10 objek, yakni tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Khusus bidang seni, Kementerian Kebudayaan saat ini mengembangkan lima ekosistem melalui program Manajemen Talenta, yakni film, musik, seni pertunjukan, seni sastra, dan seni rupa. Pengembangan tersebut dilakukan bersama berbagai kementerian dan lembaga.

Ia berharap perguruan tinggi, terutama kampus yang memiliki basis budaya, adat istiadat, dan agama, dapat mengambil peran dalam institusionalisasi warisan budaya Indonesia. "Perguruan tinggi, apalagi yang berbasis budaya, adat istiadat, dan juga agama, ini menjadi bagian penting dalam institusionalisasi warisan budaya kita," ucapnya.

Baca Juga: 411 Orang Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Batang, Dapur SPPG Ditutup 30 Hari

Dalam kesempatan itu, Fadli juga memaparkan percepatan pemerintah dalam pencatatan dan penetapan warisan budaya. Ia menyebut jumlah cagar budaya peringkat nasional yang tercatat telah meningkat dari sebelumnya kurang dari 200 menjadi 1.485 hingga September 2026.

Menurutnya, percepatan pencatatan tersebut diperlukan untuk mencegah berbagai situs budaya hilang, dibongkar, terbengkalai, atau tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Selain warisan budaya benda, pemerintah juga mempercepat pencatatan warisan budaya takbenda atau intangible cultural heritage. Fadli menyebut saat ini telah tercatat 2.727 warisan budaya takbenda dan jumlah tersebut masih akan bertambah.

Ia juga menyinggung sejumlah warisan budaya Indonesia yang telah masuk dalam daftar UNESCO. Ke depan, pemerintah tengah mendorong budaya tempe dan Mak Yong untuk diajukan sebagai warisan budaya takbenda. Dalam konteks Bali, Fadli menilai kekayaan budaya dapat menjadi modal untuk mengembangkan ekonomi budaya. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya memiliki fungsi sebagai identitas dan soft power, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Kain Tenun Cepuk Tanglad, Wastra Sakral yang Digunakan dalam Ritual

"Bali ini saya kira menjadi satu jendela dan pintu masuk bagi perkenalan terhadap budaya Indonesia di mancanegara, di dunia internasional," katanya. Ia menilai budaya memiliki karakter berbeda dengan sumber daya alam yang dapat habis. Kebudayaan dapat terus berkembang selama terdapat manusia, pelaku budaya, dan ekosistem yang mendukungnya.

Karena itu, ia mendorong pengembangan ekonomi budaya secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, seniman, komunitas, dan masyarakat. Fadli juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan terbuka untuk bekerja sama dengan UNHI, termasuk dalam pengembangan pengetahuan tradisional. 

Ia menyinggung keberadaan program yang berkaitan dengan Ayurveda dan pengobatan tradisional di UNHI. "UNHI ini termasuk tadi saya dapat informasi dari Pak Rektor, satu dari tiga universitas yang ada di Indonesia yang mengedepankan termasuk Ayurveda dan juga pengobatan tradisional," tuturnya.

Sementara itu, Rektor UNHI Dr. Cokorda Gde Bayu Putra menyampaikan bahwa UNHI akan genap berusia 63 tahun pada 3 Oktober 2026. Cikal bakal UNHI berawal dari Mahawidya Bhawana Institut Hindu Dharma yang didirikan pada 3 Oktober 1963 dan kemudian pada 1993 bertransformasi menjadi Universitas Hindu Indonesia.

Menurut Rektor, keberadaan UNHI tidak hanya berkaitan dengan pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah perkembangan Hindu modern di Indonesia. Kampus tersebut turut mencetak generasi intelektual Hindu yang kemudian tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Di usia ke-63 tahun, UNHI tetap berkomitmen berkontribusi terhadap pencerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Dalam konteks dharma agama, UNHI juga berupaya membumikan nilai-nilai dharma melalui pendidikan, budaya, seni, dan teknologi informasi.

Rektor kemudian mengingat kembali pemikiran Prof. Ida Bagus Mantra yang pernah menjadi Gubernur Bali sekaligus tokoh intelektual Hindu dan Dirjen Kebudayaan. Menurutnya, Prof. Mantra memandang eksistensi, harga diri, dan keberlanjutan masa depan manusia Bali dibangun di atas lima pilar, yakni agama, seni, budaya, bahasa, dan ekonomi.

Baca Juga: Kain Tenun Cepuk Tanglad, Wastra Sakral yang Digunakan dalam Ritual

"Setidaknya ada banyak perguruan tinggi, salah satunya UNHI, yang menjadi penopang bagaimana sejatinya cita-cita dari para pendahulu menempatkan perguruan tinggi sebagai basis penjaga pertahanan kebudayaan," ungkapnya.

Dalam konteks itulah, kata Rektor, Utsawa Bali Sani menjadi salah satu bentuk kerja pemajuan kebudayaan yang dilakukan UNHI. Festival tersebut pertama kali digelar pada 2010 di Kampus UNHI. Gagasan awal festival berasal dari Prof. Dr. Ir. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S., yang saat ini menjabat Ketua Senat sekaligus Kurator Utsawa Bali Sani 2026.

Cokorda Gde Bayu Putra mengatakan, penyelenggaraan festival tersebut dilandasi pemikiran bahwa seni tidak semata-mata harus ditempatkan dalam hukum pasar. Menurutnya, seni juga merupakan bentuk pemuliaan dan pengabdian melalui kerja ikhlas atau ngayah.

"Semangat ngayah dalam berkesenian, perlu dipertahankan karena seni Bali pada dasarnya merupakan ruang pencarian pengalaman estetik yang berlandaskan rasa. Bahkan, rasa tidak hanya menjadi dasar berkesenian, tetapi juga menjadi bagian dari religiusitas manusia Bali," tuturnya.

Baca Juga: Menembus Pegunungan, Mantri BRI Setia Dampingi Warga Garut Selatan

Selain itu, Utsawa Bali Sani dirancang sebagai ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Ketiganya diharapkan dapat berjalan beriringan sehingga kemajuan ilmu dan teknologi tetap memiliki kedekatan dengan nilai, rasa, dan kemanusiaan.

"Peradaban manusia yang maju tidak hanya dibangun oleh kekuatan rasio, tetapi juga ditopang oleh kelembutan nurani atau rasa," kata Rektor. Festival Utsawa Bali Sani tahun ini mengusung tema "Prabaniti Widyasani Prawartana", yang dimaknai sebagai semangat bersama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni.

Tema tersebut, lanjutnya, menggambarkan gagasan bahwa ilmu pengetahuan dan seni tidak seharusnya ditempatkan secara terpisah. Rasio dan rasa perlu dipertemukan untuk melahirkan karya serta pengetahuan yang tidak hanya memiliki nilai intelektual, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan.

Dalam perspektif Hindu, Rektor mengaitkan kesenian dengan nilai Satyam, Siwam, Sundaram. Satyam dimaknai sebagai kebenaran, Siwam sebagai kesucian atau kebaikan, sedangkan Sundaram merupakan keindahan.

Ketiga nilai tersebut menjadi landasan untuk melihat seni bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan, moralitas, rasa, dan keindahan.

Ia mencontohkan warisan sastra Bali seperti kakawin, kidung, dan geguritan yang memiliki struktur serta perhitungan yang kuat. Demikian pula dengan gambelan dan tabuh yang tidak hanya menghasilkan keindahan bunyi, tetapi dibangun melalui struktur dan perhitungan musikal yang kompleks.

Melalui Utsawa Bali Sani, UNHI berharap kampus dapat menjadi benteng kelestarian budaya sekaligus laboratorium bagi inovasi seni. Festival tersebut juga diharapkan menjadi ruang dialog kreatif bagi mahasiswa, dosen, dan seniman untuk mengembangkan kemampuan intelektual sekaligus mengolah rasa. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
UNHI utsawa Bali sani fadli zon