BPBD Bali Jajaki Pemanfaatan AI untuk Percepat Informasi dan Peringatan Dini Bencana

Rika Riyanti • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 14:06 WIB
JAJAKI PEMANFAATAN: Pelatihan Agent AI Tahap II selama empat hari yang diselenggarakan BPBD Bali bersama BINAR Academy, dengan dukungan Program SIAP SIAGA, kemitraan Australia–Indonesia dalam pengelolaan risiko bencana.
JAJAKI PEMANFAATAN: Pelatihan Agent AI Tahap II selama empat hari yang diselenggarakan BPBD Bali bersama BINAR Academy, dengan dukungan Program SIAP SIAGA, kemitraan Australia–Indonesia dalam pengelolaan risiko bencana.

 

BALIEXPRESS.ID — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mulai mengeksplorasi pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat pengelolaan informasi kebencanaan, memperkuat sistem peringatan dini, hingga mendukung pengambilan keputusan saat kondisi darurat.

Langkah ini dilakukan untuk menjawab tantangan penanganan bencana yang kerap terjadi secara bersamaan di sejumlah wilayah.

Saat cuaca ekstrem melanda beberapa kabupaten, petugas harus mengolah informasi yang berasal dari laporan pemerintah daerah, masyarakat, media sosial, hingga petugas lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Dr. Teja Bhusana, mengatakan pemanfaatan teknologi AI, termasuk Agent AI, diharapkan dapat membantu petugas mengelola arus informasi sehingga lebih fokus pada operasi penanganan bencana.

Baca Juga: 1.410 Unit Bedah Rumah di Bali Terealisasi, Pemprov Kejar Target 2026

"Harapannya melalui lokakarya ini, Agent AI bisa membantu para petugas di bidang kebencanaan untuk lebih fokus pada operasi penanganan bencana, karena sistem informasi sudah dikelola dengan baik," ujar Teja Bhusana.

Eksplorasi teknologi tersebut dilakukan melalui Pelatihan Agent AI Tahap II selama empat hari yang diselenggarakan BPBD Bali bersama BINAR Academy, dengan dukungan Program SIAP SIAGA, kemitraan Australia–Indonesia dalam pengelolaan risiko bencana.

Pelatihan ini melibatkan penguatan kapasitas personel Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Bali.

Fokusnya mencakup tiga kebutuhan utama, yakni komunikasi risiko hidrometeorologi, pengelolaan Bali Tsunami Early Warning System (BTEWS), serta penyusunan laporan situasi kebencanaan.

Pada komunikasi risiko hidrometeorologi, AI dijajaki untuk membantu mengolah informasi cuaca, prakiraan risiko, dan peringatan dini agar lebih mudah dipahami masyarakat serta lebih cepat disebarluaskan.

Sementara pada sistem peringatan dini tsunami, teknologi tersebut dieksplorasi untuk mendukung pengelolaan dan distribusi informasi secara lebih terstruktur.

AI juga berpotensi membantu menghimpun, mengelompokkan, dan merekap laporan dari berbagai sumber ketika beberapa kejadian bencana berlangsung bersamaan.

Teja mengatakan, kecepatan penyebaran informasi menjadi tantangan tersendiri bagi petugas, terutama ketika kejadian bencana meluas ke sejumlah daerah dalam waktu berdekatan.

"Ketika cuaca ekstrem, kejadian bisa terjadi di enam sampai tujuh kabupaten sekaligus. Selama ini kita mengandalkan laporan dari kabupaten, sementara masyarakat sering kali sudah lebih dulu menyampaikan informasi secara langsung. Kecepatan informasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang yang perlu dikelola dengan baik," jelasnya.

Baca Juga: BRI Jadi Satu-satunya Bank di Indonesia yang Masuk S&P Global Sustainability Yearbook 2026

Ia menilai kemampuan mengolah informasi secara cepat dan akurat menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan masyarakat di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

"Di tengah meningkatnya frekuensi kejadian hidrometeorologi dan kompleksitas risiko bencana, kemampuan mengelola informasi secara cepat dan akurat menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung keselamatan masyarakat," tambah Teja.

Direktur AI sekaligus Advisor BINAR Academy, Nur Rahmah, menjelaskan bahwa pemanfaatan Agent AI berpotensi mendukung penanggulangan bencana sejak tahap prabencana hingga pascabencana.

Sebelum bencana terjadi, teknologi ini dapat membantu mengolah informasi risiko dan peringatan dini.

Baca Juga: PSI Pertanyakan Pemerintah saat Gibran Digugat di MK: “Ke Mana Bakom, Jubir Istana, KSP?”

Saat tanggap darurat, AI berpotensi mempercepat distribusi informasi serta mendukung analisis situasi.

Adapun setelah bencana, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu pemantauan dampak dan kerusakan.

Meski demikian, AI tidak diposisikan sebagai pengganti petugas maupun pengambil keputusan.

Teknologi tersebut dirancang sebagai alat bantu untuk mempercepat pengolahan data dan memberikan gambaran situasi yang lebih menyeluruh bagi petugas.

Provincial Manager Program SIAP SIAGA Bali, Ikhyaul Ihsan, mengatakan pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem kebencanaan yang mampu menyediakan informasi valid dan mudah diakses masyarakat.

"Upaya ini merupakan bagian dari langkah proaktif BPBD Provinsi Bali dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi yang valid dan mudah diakses, sehingga respons kebencanaan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat," kata Ikhyaul Ihsan.

Baca Juga: I Wayan Artawa, Harumkan SMKN 2 Tegallalang dengan Dua Medali PORJAR Bali 2026

Melalui pelatihan ini, BPBD Bali juga berupaya mengidentifikasi kebutuhan operasional di lapangan agar pemanfaatan AI dapat diterapkan sesuai kebutuhan penanggulangan bencana.

Pengembangan tersebut diharapkan mendukung pengelolaan informasi risiko, respons saat keadaan darurat, serta pemantauan dampak dan kebutuhan pemulihan setelah bencana.(***)

Editor : Rika Riyanti
Artificial Intelligence (AI) bencana bumn BPBD Bali