Kemarau Panjang, Petani Sayur Pancasari Buleleng Kurangi Aktivitas Penanaman

Dian Suryantini • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 07:16 WIB
Kondisi lahan pertanian milik Ngurah Mastri yang kering dan tidak bisa produksi. (Ist)
Kondisi lahan pertanian milik Ngurah Mastri yang kering dan tidak bisa produksi. (Ist)

BALIEXPRESS.ID – Kemarau panjang mulai menyulitkan petani sayur di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Kondisi lahan yang kering membuat proses penanaman sayur tidak bisa dilakukan secara maksimal. Persoalan air bahkan berpotensi membuat biaya produksi membengkak.

Petani sebenarnya telah berupaya mengatasi keterbatasan air dengan memanfaatkan sumur bor, namun pasokan air dari sumur tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan penyiraman secara maksimal, terutama ketika kondisi lahan sangat kering.

Baca Juga: John Herdman Ungkap Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan di Media Sosial

Di sisi lain, penggunaan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dinilai tidak ekonomis bagi petani.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan air berpotensi lebih besar dibandingkan hasil yang diperoleh dari tanaman sayur.

Situasi tersebut membuat petani harus berhitung lebih cermat sebelum memulai produksi.

Memaksakan penanaman dalam kondisi lahan kering dikhawatirkan justru membuat ongkos produksi meningkat, sementara hasil panen belum tentu mampu menutup biaya yang dikeluarkan.

Baca Juga: Memasuki Musim Kawin Ular, Warga Tabanan Diminta Waspada Kemunculan Kobra 

Untuk menyiasatinya, petani memilih mengurangi aktivitas penanaman di lahan terbuka.

Salah satu cara yang dilakukan adalah tetap menjalankan proses pembibitan pada bedengan sembari menunggu kondisi lahan memungkinkan untuk ditanami.

Persoalan baru muncul ketika bibit harus dipindahkan dari bedengan ke lahan pertanian. Tanah yang terlalu kering membuat proses pindah tanam menjadi sulit karena tanaman membutuhkan kondisi tanah yang cukup lembap agar dapat tumbuh dengan baik.

“Yang susah itu dari bedeng memindahkan ke lahan pertanian. Ke tanah itu. Karena sangat kering. Kalau mau pindah ke lahan itu kan harus lembab, supaya sayur bisa tumbuh maksimal,” ujar I Gusti Ngurah Mastri, petani sayur di Pancasari.

Baca Juga: John Herdman Ungkap Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan di Media Sosial

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu kendala utama petani dalam mempertahankan produksi.

Pembibitan masih dapat dilakukan, tetapi tahapan selanjutnya sangat bergantung pada ketersediaan air di lahan.

Baca Juga: Memasuki Musim Kawin Ular, Warga Tabanan Diminta Waspada Kemunculan Kobra 

Kondisi ini membuat petani harus menyesuaikan pola produksi dengan situasi cuaca. Alih-alih mengejar produksi seperti kondisi normal, petani memilih lebih berhati-hati agar tidak mengeluarkan biaya besar untuk tanaman yang berisiko tidak tumbuh maksimal.

Kemarau panjang dengan demikian tidak hanya berdampak pada kondisi lahan, tetapi juga memengaruhi perhitungan ekonomi petani.

Ketersediaan air menjadi faktor penting yang menentukan apakah produksi sayur dapat dilanjutkan atau harus dikurangi sementara waktu.

“Pada intinya, di sini bukannya tidak ada air. Air tersedia. Tapi untuk kondisi kemarau seperti ini dan lahan yang cukup luas, itu tetap tidak maksimal,” kata dia. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
kemarau panjang pancasari buleleng