Dewi Mas, Bawa Nilai Budaya dalam Hospitality Alaya Resort Ubud

Putu Agus Adegrantika • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 18:59 WIB
Dewi Mas
Dewi Mas

BALIEXPRESS.ID - Menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan industri pariwisata bukan perkara mudah. Modernisasi menuntut kecepatan dan inovasi, sementara budaya membutuhkan ketekunan, penghormatan dan kesinambungan. Di tengah tantangan tersebut, Chief Operating Officer Alaya Hotels & Resorts, Dewi Mas, meyakini keduanya dapat berjalan berdampingan.

Pandangan itu tercermin dalam pelaksanaan Piodalan di Alaya Resort Ubud, Rabu (7/10). Bagi Dewi Mas, upacara keagamaan tersebut bukan sebatas agenda rutin perusahaan, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Piodalan yang berpusat di Padmasana Alaya Resort Ubud berlangsung khidmat. Manajemen, karyawan, masyarakat sekitar hingga para tamu yang menginap turut merasakan suasana spiritual yang menjadi bagian dari kehidupan budaya Ubud.

Di balik pelaksanaan tersebut, terdapat pesan yang ingin terus dijaga Dewi Mas. Bahwa budaya Bali tidak semestinya hanya menjadi sesuatu yang ditampilkan kepada wisatawan, tetapi harus terlebih dahulu hidup di lingkungan tempat hospitality itu tumbuh.

“Piodalan merupakan momen berharga bagi seluruh tim kami untuk sejenak berhenti dari rutinitas, mengucap syukur, dan bersama-sama menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali,” ujar Dewi Mas.

Bagi Dewi Mas, nilai tersebut selaras dengan filosofi Tri Hita Karana. Konsep mengenai keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan alam menjadi pijakan dalam membangun lingkungan kerja sekaligus menjalankan bisnis hospitality yang berakar pada Bali.

Semangat itu tidak hanya terlihat ketika upacara berlangsung. Sehari sebelum puncak Piodalan, karyawan dari berbagai departemen Alaya Resort Ubud terlibat langsung dalam sejumlah kegiatan persiapan.

Tradisi tersebut telah dijalankan Alaya Resort Ubud sejak 2017. Setiap departemen diberikan peran sebagai Pengempon, kelompok yang bertanggung jawab menjaga dan merawat pelinggih di kawasan resort.

Terdapat sembilan pelinggih di area Parahyangan Alaya Resort Ubud. Masing-masing memiliki kelompok Pengempon yang berasal dari perwakilan karyawan berbagai divisi.

Keterlibatan karyawan diawali dengan kegiatan Mereresik, dilanjutkan dengan Mayasan Pelinggih dan lomba merangkai Gebogan. Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi karyawan untuk berinteraksi, bergotong royong sekaligus mengenal lebih dekat berbagai bentuk tradisi Bali.

Puncaknya, para karyawan turut mempersembahkan Tari Rejang Renteng dalam rangkaian upacara. Tarian sakral tersebut menjadi simbol kebersamaan dan ketulusan dalam menghaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bagi Dewi Mas, keterlibatan karyawan memiliki arti penting. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui konsep atau slogan. Budaya harus diberi ruang untuk dipraktikkan dan diwariskan melalui pengalaman langsung.

“Bagi Alaya, budaya bukan sekadar bagian dari pengalaman yang kami hadirkan kepada tamu, akan tetapi juga merupakan nilai yang hidup dalam keseharian kami,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan pendekatan Dewi Mas dalam melihat industri hospitality. Menurutnya, pengalaman wisata yang autentik tidak hanya dibangun melalui fasilitas dan pelayanan, tetapi juga melalui hubungan dengan budaya serta komunitas tempat sebuah properti berada.

Karena itu, para tamu yang menginap di properti Alaya juga diberikan kesempatan menyaksikan dan merasakan pengalaman budaya dalam rangkaian Piodalan. Namun, pengalaman tersebut tetap ditempatkan dalam konteks penghormatan terhadap nilai, tata cara dan kesakralan tradisi Bali.

“Melalui Piodalan ini, kami ingin terus menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, lingkungan, dan komunitas di sekitar kami, sekaligus memberikan ruang bagi para tamu untuk mengenal dan merasakan kehangatan budaya Bali secara lebih dekat,” imbuh Dewi Mas.

Pilihan untuk menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan resort bukan tanpa alasan. Alaya Resort Ubud berada di kawasan yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat seni dan budaya Bali.

Dengan demikian, bagi Dewi Mas, keberadaan resort di Ubud juga membawa tanggung jawab untuk menghormati karakter kawasan tersebut. Hospitality tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem sosial dan budaya masyarakat.

Alaya Resort Ubud sendiri memiliki 106 kamar yang memadukan desain kontemporer dengan sentuhan seni dan budaya Bali. Lingkungan resort juga berpadu dengan hamparan persawahan serta kehidupan lokal Ubud.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan hospitality Indonesia yang autentik. Kenyamanan modern tetap berjalan, namun identitas lokal tidak ditinggalkan.

Di tangan Dewi Mas dan tim Alaya Hotels & Resorts, nilai budaya kemudian diterjemahkan dalam berbagai aktivitas yang dekat dengan keseharian. Piodalan menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan nilai spiritual, kebersamaan karyawan dan pengalaman budaya bagi tamu.

Lebih jauh, langkah tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berada di ruang tradisional. Dunia hospitality pun dapat mengambil peran dengan caranya sendiri.

Bagi Dewi Mas, ketika budaya tetap hidup dalam keseharian, pariwisata tidak hanya menghadirkan pengalaman bagi wisatawan, tetapi juga ikut memberikan ruang bagi tradisi untuk terus diwariskan.

Piodalan di Alaya Resort Ubud akhirnya bukan hanya tentang sebuah upacara. Di balik khidmatnya persembahyangan, terdapat pesan tentang bagaimana warisan leluhur tetap dapat dirawat di tengah perubahan zaman.

Sebuah keyakinan bahwa Bali yang modern tetap membutuhkan akar budaya yang kuat. Dan bagi Dewi Mas, menjaga akar tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan budaya Bali tetap hidup, bukan sekadar menjadi cerita masa lalu.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
alaya ubud