Bangli Hanya Punya Tiga Hidran, Pemadaman Kebakaran di Kintamani Berisiko Terkendala

I Made Mertawan • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 06:58 WIB
Tim gabungan melakukan pemadaman api di kawasan hutan Kintamani, Selasa (6/10/2026). (Ist)
Tim gabungan melakukan pemadaman api di kawasan hutan Kintamani, Selasa (6/10/2026). (Ist)

BALIEXPRESS.ID– Penanganan kebakaran di Kabupaten Bangli masih dibayang-bayangi terbatasnya pasokan air. Bangli baru memiliki tiga titik hidran kebakaran.  

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran BPBD dan Damkar Bangli, Cokorda Lanang Mahendra, menyampaikan bahwa ketiga hidran tersebut telah dipasang sejak tahun 2019.

Lokasinya berada di depan Kantor Bupati Bangli, depan BPD Bali Cabang Bangli dan depan Kampus UHN I Gusti Bagus Sugriwa. Semuanya bekerja sama dengan PDAM.

Baca Juga: Kasus Dugaan Korupsi Dinkes Tabanan, Kerugian Negara Berpotensi Lebih dari Rp300 Juta

"Kami menyiapkan hidran dan memanfaatkan sambungan air PDAM, itu tidak bayar," ungkapnya ditemui Rabu (7/10/2026).

Selain itu, pasokan air juga sering dibantu salah satu pengusaha air di Desa Tiga, Kecamatan Susut.

Lanang Mahendra menegaskan bahwa jumlah itu masih kurang jika dilihat dari luas wilayah Bangli.

Baca Juga: Dua Mobil Tinja Milik Pemkab Bangli Tak Berfungsi sejak Dibeli 2019, Kok Bisa?

Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan hidran sebenarnya sangat penting untuk wilayah luar kota seperti Kecamatan Kintamani.

Kintamani saat ini tergolong paling rawan kebakaran dibandingkan tiga kecamatan lain di Bangli. 

Baca Juga: Kabar Duka! Petani Sukawana Kintamani Ditemukan Tak Bernyawa Tertimpa Motor

Pihaknya mengaku sudah melakukan survei lokasi bersamaan dengan pemasangan tiga hidran pada 2019 lalu.

Dua titik yang memungkinkan yakni area depan Pasar Singamandawa dan Museum Geopark.

Sayangnya, pasokan air PDAM di Kintamani tidak memungkinkan untuk disambung langsung ke hidran karena distribusi air ke pelanggan saja tidak setiap hari mengalir di kawasan itu.

Satu-satunya jalan adalah membuat sumur bor mandiri dengan biaya mencapai Rp250 juta. "Cost tinggi sekitar Rp250 juta untuk satu titik," ungkapnya. 

Jarak yang jauh dan minimnya hidran membuat proses pemadaman di area Kintamani rawan terkendala waktu.

Jika armada kehabisan air saat pemadaman berlangsung, petugas harus kembali ke Kota Bangli untuk mengisi ulang pasokan air.

Petugas juga tidak bisa mengambil air dari sembarang sumber terbuka, seperti sungai karena material pasir dan batu kecil bisa merusak mesin. 

"Untuk mengantisipasi kehabisan air, kami mengoptimalkan mobil tangki penyuplai kapasitas 5.000 liter. Saat ini kami punya tiga mobil damkar dan satu mobil tangki penyuplai. Mobil ini selalu terisi air, begitu ada kebakaran kami tinggal berangkat," pungkas Lanang Mahendra. (*)

Editor : I Made Mertawan
Kintamani hidran bangli kebakaran