BALIEXPRESS.ID – Desa Jatiluwih yang terkenal dengan keindahan alamnya dan terletak di kawasan pegunungan Tabanan, Bali, memiliki sejarah menarik, terkait dengan asal-usul namanya.
Nama "Jatiluwih" bukan sekadar sebuah identitas geografis, namun juga memiliki kaitan erat dengan sebuah kisah legendaris tentang burung Jatayu, yang dikenal dalam epos Ramayana.
Menurut I Ketut Purna, manajer Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, asal-usul nama Desa Jatiluwih ini banyak diceritakan oleh para tetua desa.
Konon pada zaman dahulu terdapat sebuah kuburan binatang purba di tengah-tengah desa, dan binatang yang dimaksud adalah seekor burung Jatayu.
Nama "Jatayu" ini kemudian mengalami perubahan bunyi, seiring berjalannya waktu menjadi "Jaton Ayu", yang dalam bahasa Bali berarti "Luwih dan Bagus".
Dari perubahan nama tersebut, lahirlah nama Jatiluwih, yang kini dikenal sebagai sebuah desa yang memiliki makna "lebih baik" atau "sangat bagus".
Selain itu, ada versi lain yang menyebutkan bahwa kata "Jatiluwih" berasal dari gabungan kata "Jaton" yang berarti "jimat", dan "Luwih" yang berarti "bagus".
Dalam arti ini, Desa Jatiluwih dapat dipahami sebagai desa yang memiliki "jimat yang sangat baik" atau "berwibawa", sebuah makna yang menggambarkan keistimewaan desa ini.
Tari Jatayu, yang dipertunjukkan dalam berbagai acara budaya di Jatiluwih, tidak hanya menjadi ikon seni, tetapi juga berperan sebagai simbol penting dalam cerita sejarah nama desa ini.
Tari ini menggambarkan kisah heroik Burung Jatayu dari epos Ramayana, yang terkenal karena pengorbanannya demi menyelamatkan Sita dari penculikan Rahwana.
Dalam cerita tersebut, Jatayu bertarung dengan Rahwana meskipun akhirnya kalah dan tewas karena luka-luka yang dideritanya.
Namun sebelum meninggal, Jatayu sempat bertemu dengan Rama, anak dari Raja Dasharatha, dan memberitahukan bahwa Sita diculik dan dibawa ke selatan.
Tari Jatayu ditarikan dengan penuh semangat dan menggambarkan perjuangan sang burung dalam mempertahankan kebaikan melawan kejahatan.
Biasanya, tarian ini dibawakan pada acara pembukaan festival atau sebagai tarian penyambutan, yang ditarikan oleh dua orang penari yang mengenakan kostum burung Jatayu lengkap dengan sayap dari kain dan topeng burung.
Gerakan tarian yang dinamis dan energik ini mengisahkan pertarungan sengit Jatayu melawan Rahwana, serta pengorbanannya demi kebaikan.
Tari Jatayu menjadi salah satu atraksi utama yang dipertontonkan dalam acara Subak Spirit Festival yang diselenggarakan di DTW Jatiluwih pada 9-10 November 2024.
Selain menjadi bagian dari festival, tari ini juga menjadi simbol keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan. Tarian ini sering dipentaskan dalam acara budaya dan keagamaan di Bali, khususnya di Desa Jatiluwih, sebagai simbol kesetiaan kepada Rama dan kebaikan yang diwakili oleh Burung Jatayu.
Dengan latar belakang cerita yang kaya dan makna yang mendalam, Tari Jatayu menjadi lebih dari sekadar tarian budaya.
Ia menjadi bagian integral dari identitas Desa Jatiluwih, mencerminkan sejarah dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun di desa tersebut.
Kini, melalui tarian ini, kisah tentang Burung Jatayu yang gagah berani dalam memperjuangkan kebaikan terus hidup dan dikenang di setiap langkah tarian yang dibawakan di tengah-tengah pesona alam Jatiluwih.
Editor : Nyoman Suarna