Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Rejang Ayunan di Desa Bantiran, Tabanan: Kebudayaan Turun Temurun

I Putu Suyatra • Rabu, 12 Juli 2017 | 02:15 WIB
Photo
Photo

 TABANAN, BALI EXPRESS - Di Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, terdapat tradisi unik yang disebut Rejang Ayunan, sebuah kebudayaan turun temurun yang membedakan dirinya dari Rejang Dewa yang lebih umum dikenal dalam upacara Hindu seperti Upacara Dewa Yadnya.

"Mengenai sejarah secara pastinya memang tidak ada yang tahu, hanya cerita turun temurun saja yang memprediksi jika Rejang Ayunan ini sudah ada sebelum tahun 1025 Masehi," kata Jero Mangku Pura Puseh lan Bale Agung Desa Pekraman Bantiran, I Ketut Sutarsana,

Tari Rejang Ayunan hanya ditarikan selama Pujawali Ageng di Pura Puseh lan Bale Agung Desa Pekraman Bantiran, yang diselenggarakan setahun sekali pada Purnama Kalima, kecuali jika ada peristiwa khusus seperti pembangunan yang sedang berlangsung di Desa Pekraman.

Rejang Ayunan, juga dikenal sebagai Renteng oleh penduduk setempat, ditarikan oleh pemuda dan pemudi Desa Pekraman Bantiran yang tergabung dalam Sekaa Teruna Teruni (STT) setempat.

Ada Renteng Lanang (laki-laki) dan Renteng Istri (perempuan). Jumlah penari pemudi yang menarikan Rejang Ayunan tidak memiliki patokan tertentu, tetapi harus ada empat penari Rejang paling depan yang membawa atribut penting.

Para penari mengenakan kostum sederhana dengan kesan sakral yang tidak terhapus.

Pada setiap Pujawali Ageng, Rejang Ayunan akan ditampilkan beberapa kali, dan puncaknya adalah saat penari berayun pada Pohon Beringin.

Mereka naik pada tali yang diikatkan pada pohon dan berayun-ayun sambil diiringi oleh musik khusus.

Sebelum berayun, penari Rejang mengelilingi area utama mandala sebanyak tiga kali, di mana pemedek (orang yang bersembahyang) tidak boleh memotong barisan penari. Pelanggaran tersebut akan dikenai denda.

Selama berlangsungnya Rejang, pemedek yang berada di luar area utama mandala tidak dapat masuk sembarangan, dan ada Penyarikan yang menjaga pintu masuk.

Ini ditandai dengan bunyi Kulkul. Pelanggaran akan dikenai denda.

"Tradisi Rejang Ayunan adalah bentuk penghormatan terhadap generasi muda yang memasuki tahap dewasa. Ketika mereka menghadapi kesulitan, seperti saat berayun di tali yang digoyang-goyangkan, mereka harus bersatu dan mencapai tujuan bersama," kata Penyarikan Desa Pekraman Bantiran, Jero Putu Gada Tenaya,

 

Tradisi Rejang Ayunan juga merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah yang diberikan kepada warga Desa Pekraman Bantiran serta doa untuk kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan generasi muda.

Terakhir kali, Rejang Ayunan dilakukan pada tahun 2015 sebagai bagian dari Ngusaba Gede di Pura Puseh lan Bale Agung Desa Pekraman Bantiran.

Tahun berikutnya, tradisi ini tidak dapat dilaksanakan karena ada pembangunan pura di wilayah Desa Pekraman Bantiran. Selama Ngusaba Gede tahun 2015, berbagai upacara unik dilakukan sebelum Puncak Karya, melibatkan berbagai kalangan masyarakat.

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #rejang #tradisi unik #tari #tabanan