Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sanggar Susik Tampilkan Bondres Berpakaian Arja

I Putu Suyatra • Rabu, 12 Juli 2017 | 19:11 WIB
Photo
Photo



BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain Pesta Kesenian Bali, gelaran Bali Mandara Mahalango turut memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkesenian. Dalam penampilan di hari pertama jalanya pagelaran, Sanggar Susik Bondres Buleleng mencoba mementaskan bondres dengan pakaian arja dan mengadopsi pakem arja walau tidak seluruhnya.


“Sebenarnya saya hanya mencoba. Bagaimana ya hasilnya,” tutur pemeran tokoh Susik sekaligus koordinator Sanggar Susik Bondres Buleleng, I Made Ngurah Sadika saat ditemui di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Senin malam (10/7).


Dikatakan lebih lanjut, pementasan kombinasi bondres dan arja ini mengangkat lakon Putri Kembaran Yang Terbuang. Lakon ini menurut Ngurah Sadika menceritakan tentang bayi perempuan kembar hasil hamil di luar nikah. Mengingat sang ibu belum menikah dan menutup rasa malu, maka kedua bayi diletakkan di depan puri. Sang raja kemudian memungut bayi kembar tersebut. Keduanya diberi nama Susik dan Mawar. Kedua anak perempuan kembar itu tumbuh dewasa dan menjadi kesayangan sang raja.


“Saya mengangkat cerita anak kembar ini, karena saya melihat potensi anak saya yang juga mampu memerankan karakter Susik. Jadi saya angkat cerita anak kembar Susik dan Mawar,” terang Ngurah Sadika.


Memang tak dapat dipungkiri gerak dan cara bicara serta lontaran-lontaran Arya Dharmadi selaku pemeran Mawar mirip sang ayah yakni Ngurah Sadika yang memerankan Susik. Menyaksikan di atas pentas seolah terdapat dua anak kembar identik.  Kembali ke cerita, bagian awal pementasan aroma arja begitu kental. Namun menjelang bagian tengah hingga akhir pementasan lakon “Putri Kembaran Yang Terbuang”, aroma khas bondres begitu deras mengalir dan membuat penonton terpingkal-pingkal selama pementasan. Itu tak lepas dari kecerdasan dialog dan tingkah polah dari beberapa peran yang dimainkan.


Menurut Ngurah Sadika, tokoh Susik mereka temukan dari karakter yang ada di masyarakat. Tepatnya dari karakter pedagang kecil yang banyak ditemukan di wilayah Buleleng. “Ada seseorang dagang yang disebut dakocan (dagang kopi cantik). “Wajahnya seperti peran Susik, dimana kalau sedang dagang bawaanya manja, sok pintar, dan membuat gemes begitu,” cerita  Ngurah Sadika.


Dari sosok itu kemudian oleh Ngurah Sadika diwujudkan dalam karakter panggung dengan nama Susik. Karakternya sebagian besar diambil dari karakter sang dakocan. Ternyata karakter ‘Susik’ ini kemudian membuat gemas penonton bondres. Sejak itu beragam pemain bondres di berbagai sekaa bondres meniru dan memerankan tokoh ‘Susik’ dalam penampilan bondresnya.


Soal tokoh Susik yang banyak dipakai dan ditiru, pihaknya mengaku biasa saja. Bahkan mengaku bangga karena banyak orang yang memakai tokoh Susik. “Itu tidak masalah bagi kami. Dan bagi kami itu kita anggap sukses. Yang jelas dia (tokoh Susik lainnya, Red) tidak merasa sebagai Susik yang asli. Penonton tahu itu,” jelas Ngurah Sadika. 

Editor : I Putu Suyatra
#covid19 #bali #satgascovid19