Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Magis Hindu Bali: Tradisi Ngusaba Bukakak dengan Persembahan Babi di Desa Sudaji

I Putu Mardika • Sabtu, 15 Juli 2017 | 19:39 WIB
Photo
Photo

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dalam budaya Hindu Bali, tradisi dan ritual memiliki peran penting. Salah satu aspek yang unik adalah penggunaan babi dalam upacara tahunan yang penuh makna ini. Berikut ulasan lebih dalam tentang Ngusaba Bukakak, sebuah tradisi mengadu babi di catus pata Desa Sudaji, Bali.

Ribuan penduduk Desa Sudaji berkumpul di Pura Bale Agung Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, pada Senin (10/7) yang lalu dalam rangka melaksanakan tradisi Ngusaba Bukakak. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk merawat taksu dan nilai-nilai agraris yang sangat penting bagi Desa Sudaji.

Ngusaba Bukakak merupakan upacara tahunan yang menjadi simbol rasa syukur petani kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan hasil panen melimpah dan kesuburan kepada masyarakat Sudaji. Desa Sudaji dikenal sebagai wilayah agraris dengan mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian.

Upacara Ngusaba Bukakak dilakukan setiap tahun pada Purnama sasih Karo dan diikuti oleh pujawali di Pura Desa setempat. Meskipun tidak ada catatan sejarah tertulis tentang tradisi ini, warga Desa Sudaji selalu melaksanakannya dengan penuh keyakinan.

"Upacara Bukakak sudah berlangsung sejak zaman dahulu dan masih dijaga hingga sekarang. Ini adalah upacara tahunan yang kami lakukan dengan tekun. Menurut cerita para leluhur kami, ketika tradisi ini terabaikan sekali, petani di Desa Sudaji mengalami bencana gagal panen seperti padi yang tak berisi, serangan hama, dan kekeringan. Oleh karena itu, kami selalu melanjutkan Ngusaba Bukakak ini," kata Jro Bendesa, Nyoman Sunuada, Bendesa Adat Desa Sudaji.

Dalam persiapan upacara, semua pangempon Subak Dukuh Gede, Desa Sudaji, terlibat dalam menyiapkan sarana dan pra-sarana, termasuk persiapan hewan babi besar berwarna hitam dari kepala hingga ujung kaki.

Babi ini harus dalam kondisi sempurna baik fisik maupun bulunya. Sebelum prosesi, babi dihiasi dengan kain putih, bunga, dan dupa, lalu diarak menuju Pura Desa. Hewan babi ini kemudian dipanggang setengah matang, dengan bagian punggung yang masih mentah, sedangkan bagian badannya telah matang.

"Saat babi tiba di Pura Desa, tercipta atmosfer magis yang seringkali membuat banyak orang merasakan ketegangan," kata Jro Sunuada.

Gede Suharsana, salah satu tokoh masyarakat setempat, juga mengungkapkan bahwa upacara ini merupakan ungkapan syukur kepada Dewi Sri atas kesuburan dan hasil panen yang melimpah.

"Seluruh pangempon Subak Dukuh Gede, Desa Sudaji, berpartisipasi dalam upacara ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah," ujar Gede Suharsana.

Salah satu momen paling dinantikan dalam upacara ini adalah pengarakan dua Bukakak yang bergerak dalam arah berlawanan.

Satu Bukakak dimulai dari Pura Bedugul Mas Pahit, sementara yang lain datang dari Pura Desa. Bukakak yang dipanggang di Pura Subak disebut sebagai Bukakak alit (kecil), sedangkan yang dipanggang di Pura Bale Agung disebut sebagai Bukakak Ageng (besar).

Sebelum prosesi dimulai, para pengusung Bukakak melakukan persembahyangan bersama, berdoa, dan memohon kelancaran upacara. Selama persembahyangan, Bukakak diadu di perempatan desa yang disebut catus pata.

Pemuda-pemuda bergembira saat mengangkat dan mengadu Bukakak di malam hari. Saat proses ini berlangsung, daun kelapa kering, yang disebut danyuh, dibakar dan kemudian dipukulkan pada Bukakak untuk menciptakan percikan api.

Terutama saat dilakukan pada malam hari, percikan api ini menciptakan cahaya yang menakjubkan dan menambah kesan magis dalam adu Bukakak. Para pengusung Bukakak bahkan merasakan karauhan tetapi tidak merasa panas saat terkena percikan api.

Menurut Gede Suharsana, atraksi yang paling menegangkan dan ditunggu oleh penonton adalah saat dua Bukakak beradu cepat di perempatan desa ini. Keseruan bertambah saat penonton yang memadati tepi jalan ikut berlari untuk menghindari benturan antara dua Bukakak yang diarak dengan bergantian.

Setelah pengarakan selesai, semua aktivitas kembali berpusat di Pura Mas Pahit Sudaji. Selain itu, satu hal yang menarik dari tradisi Ngusaba Bukakak adalah penyajian Lawar Guntung. Meski mungkin tidak dikenal luas, lawar ini memiliki citarasa yang khas dan disiapkan hanya setahun sekali. Sayangnya, lawar ini tidak dijual dan sangat dihormati oleh masyarakat Desa Sudaji.

Menurut Gede Suharsana, Lawar Guntung terbuat dari kelapa panggang dan daging cincang yang bukan sembarang daging, melainkan dari daging babi yang digunakan sebagai persembahan dalam rangkaian Ngusaba Bukakak. Daging ini masih setengah matang, dan itulah yang membuatnya dianggap sakral.

Setelah upacara, babi yang disebut Bukakak dibongkar dan dimasak ulang menjadi lawar, yang kemudian dibagikan khusus kepada krama subak Dukuh Gede. Semua proses ini berlangsung di Pura Mas Pahit dengan melibatkan seluruh krama subak.

Proses pengolahan daging babi ini memerlukan waktu yang cukup lama dan dipimpin oleh juru patus yang ditunjuk sebagai penanggung jawab dari pemilihan bumbu hingga selesai. Lawar ini disajikan dengan tumpeng yang merupakan persembahan dari krama subak selama pelaksanaan prosesi Ngusaba Bukakak.


Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #babi #tradisi #buleleng