BALI EPRESS - Gebogan atau Pajegan, bagi umat Hindu di Bali sebagai salah satu bentuk persembahan penting dalam upacara di pura, telah mengalami perubahan signifikan seiring berjalannya waktu.
Pada tahun 1980-1990-an, pembuatan Gebogan dalam aktivitas ritual umat Hindu di Bali masih mengikuti cara konvensional, yaitu dengan menyusun buah-buahan dan jajan dalam wadah (dulang) secara vertikal.
Buah-buahan yang digunakan dalam Gebogan pada masa itu mayoritas merupakan buah-buahan lokal yang tumbuh di sekitar Bali.
Namun, perkembangan teknologi dan waktu telah membawa perubahan dalam komposisi bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Gebogan.
Kini, buah-buahan impor semakin mendominasi daripada buah-buahan lokal. Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran makna dari Gebogan itu sendiri.
Menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, Gebogan adalah bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan ungkapan terima kasih umat manusia atas anugerah Tuhan berupa makanan dan buah-buahan yang menjadi sumber kehidupan manusia.
"Gebogan dibuat dengan bentuk menjulang seperti gunung yang semakin ke atas semakin mengerucut (lancip). Dalam kepercayaan agama Hindu, gunung disimbolkan sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Parama Kawi atau penguasa alam semesta," jelasnya.
Dengan kata lain, semakin tinggi Gebogan yang dibuat, semakin cepat persembahan tersebut dianggap akan sampai kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Perubahan dalam bahan-bahan dan bentuk Gebogan mencerminkan evolusi dalam praktik keagamaan dan budaya di Bali, sementara makna dasarnya tetap dipertahankan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan penghormatan kepada Tuhan.
Editor : I Putu Suyatra