BALI EXPRESS, DENPASAR - Siklus ritual manusia Hindu (Bali), sudah dimulai sejak ada dalam kandungan ibunya.
Setiap fase yang dilalui akan ada ritual, termasuk kala menginjak dewasa, seperti Mapandes atau yang dikenal dengan upacara Potong Gigi.
Ritual potong gigi yang dalam tradisi Hindu di Bali dikenal dengan nama Mapandes (Masangih) atau Matatah merupakan salah satu proses yang harus dilakukan oleh umat Hindu.
“Karena dalam upacara Mapandes ini, si orang tua akan memberikan kesempatan kepada anaknya untuk memohon maaf atas kesalahannya,” jelas praktisi upakara Ida Bagus Sudarsana.
Seperti yang disebutkannya, Mapandes merupakan salah satu bentuk upacara Manusa Yadnya dalam Panca Yadnya, yang diatur dalam Lontar Dharma Kahuripan.
Dalam lontar tersebut, dijelaskan tentang ritual yang harus dilakukan mulai dari manusia itu berada di dalam kandungan ibunya sampai manusia itu melakukan ritual Potong Gigi.
Dalam lontar Dharma Kahuripan ini, juga disebutkan jika upacara Potong Gigi ini memiliki tiga makna, yakni Mapandes yang artinya peleburan dosa atau memotong sadripu (enam musuh) yang ada dalam diri manusia.
Enam musuh yang dimaksud adalah Kama (nafsu, keinginan), Lobha (tamak, rakus), Krodha (kemarahan), Moha (kebingungan), Mada (mabuk), dan Matsarya (dengki, iri hati).
Enam musuh ini memberikan pengaruh yang berbeda-beda, bila manusia tidak dapat mengendalikannya, maka akan jatuh ke dalam kesengsaraan.
Selanjutnya, Masangih yang artinya mempertajam pikiran.
“Dalam hal ini, mempertajam pikiran disimbolkan dengan menyembah kedua orang tua, “ terang Ida Bagus Sudarsana.
Dan, yang terakhir adalah Matatah, yakni ritual memotong gigi taring yang dilakukan oleh seorang sangging.
Dalam proses upacara Potong Gigi ini, Ida Bagus Sudarsana menyebutkan seluruh rangkaian ritual ini harus dilakukan di dua tempat, yakni di pamerajan atau sanggah dan di balai adat.
Upacara yang dilakukan di pamerajan atau sanggah ini, merupakan upacara yang memiliki nilai spiritual karena dalam upacara ini si anak akan melakukan ritual menyembah para roh leluhur di pamerajan atau sanggah Kemulan, sekaligus memohon restu kepada kedua orang tuannya.
“Dua upacara ini, yakni upacara Mapandes dan Matatah dilakukan di pamerajan, dan inilah inti dari upacara potong gigi ini,” ungkapnya.
Dengan adanya runtutan acara tersebut, lanjut Ida Bagus Sudarsana, jika pada intinya makna upacara matatah ini adalah untuk menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta, pisaca, dan raksasa, dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh watak sad ripu, sehingga dapat menemukan hakekat manusia yang sejati.
Dikatakan Ida Bagus Sudarsana, rangkaian ritual matatah ini merupakan rangkaian proses yang menceritakan tentang mitologi Bhatara Kala yang mencari kedua orang tuanya ke alam surga karena selama hidupnya tidak mengetahui siapa orang tuanya.
Seperti yang dikutip dari filsafat Kala Pati Tattwa, yang menceritakan tentang kelahiran Sang Hyang Kala yang lahir di samudera dan tidak mengetahui orang tuanya.
Namun dalam suatu kesempatan, selanjutnya diberitahu oleh Sang Hyang Tri Murti, jika orang tuanya adalah Dewa Siwa dan Dewi Uma yang merupakan penguasa Surga Loka.
Akhirnya, Bhatara Kala pergi ke surga untuk mencari orang tuanya. Namun, ketika sampai di alam Surga, Bhatara Kala yang berpenampilan seram dengan taring yang panjang, tidak diperkenankan masuk ke Surga.
“Karena tidak diperkenankan inilah, akhirnya Bhatara Kala marah dan terjadilah pertempuran hebat di Surga. Para dewa di surga akhirnya kalah karena Bhatara Kala sangat kuat,” urai Ida Bagus Sudarsana yang juga Ketua Yayasan Dharma Acarya ini.
Selanjutnya, Dewa Indra melapor ke Dewa Siwa tentang kondisi di Sorga Loka yang kacau balau karena pertempuran antara Bhatara Kala dengan para dewa.
Mendengar kondisi tersebut, akhirnya Dewa Siwa bersedia untuk menghadapi Bhatara Kala, tetapi dengan wijud yang berbeda.
Setelah berhadapan dengan Bhatara Kala, Dewa Siwa akhirnya bertanya tentang maksud dan tujuan dari kedatangan Bhatara Kala ke alam Surga Loka.
Setelah dijawab bahwa ia ingin mencari orang tuanya, Dewa Siwa akhirnya menyanggupi untuk mempertemukan Bhatara Kala dengan orang tuanya. Namun, syaratnya adalah taring dari Dewa Siwa harus dipotong terlebih dahulu.
Setelah taring tersebut dipotong, selanjutnya Bhatara Kala menyembah Dewa Siwa, dan akhirnya Bhatara Kala bertemu dengan kedua orang tuanya dalam wujud aslinya.
“Itihasa inilah yang diceritakan dalam rangkaianan upacara potong gigi ini, sehingga dalam setiap prosesnya sarat dengan simbol dari itihasa tersebut, seperti adanya bantal yang melambangkan Gunung Kailasa,” pungkasnya. (*)
Editor : I Putu Suyatra