BALI EXPRESS, NEGARA - Adanya pamangku di Pura Pucak Sari Desa, Pangkung Jangu, Desa, Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Jembrana hingga kini, berawal dari janji kelian adat yang sempat ditangkap kompeni. Bagaimana prosesnya, hingga Mangku Aryana ditunjuk?
Kala masa penjajahan Belanda, Kelian Adat Pangkung Jangu ditangkap karena ulah warga banjar yang menjadi mata-mata. Kelian adat yang tak lain adalah kakek dari Mangku Aryana ini ditahan dan diikat di tengah hutan di puncak bukit selama tiga bulan. Merasa tak ada peluang hidup, dia pun memasrahkan dirinya. Saat dalam kepasrahan dan berserah sepenuhnya pada Ida Sang Hyang Widi Wasa, tiba-tiba ada bisikan gaib.
Dikatakan, kalau dia berkenan menjadi pamangku di Pura Pucak Sari, maka dia akan selamat. Kakek ini pun akhirnya menerima tawaran tersebut.Anehnya, tiba-tiba ikatan di tangannya lepas begitu saja, tak tahu siapa yang melepasnya, dan dia pun selamat.Sejak saat itu, dia menjadi pamangku di pura tersebut.
Setelah sekian lama ngayah dan menjadi Jan Bangul Ida Bhatara Sasuhunan yang berstana di Pura Pucak Sari, kakek Mangku Aryana meninggal. Selanjutnya, ada pamangku yang menggantikannya. Namun di lain pihak, ayah Mangku Aryana menerima pawisik (bisikan gaib) agar mau menjadi pamangku. Namun, pawisik itu ditolaknya, karena memang sudah ada pamangku. Sayang, penolakan itu berakibat fatal. Ayah Mangku Aryana meninggal karena sakit yang tak jelas.
Periode selanjutnya, kembali ada penunjukkan pamangku, dan kebetulan Mangku Aryana yang ditunjuk warga. "Saya menolak, di samping belum siap, juga tak ingin mendengar pro kontra atas penunjukan tersebut," papar Mangku Aryana.
Guna menghindari sikap pro kontra warga, selanjutnya dilakukan nyanjan (proses pemilihan pamangku lewat ritual khusus) di pura tersebut. "Saat itu saya berbincang dengan rekan lainnya di pelataran pura, namun tiba-tiba ada orang yang datang membopong, membawa masuk ke pura," urainya.
Saat upacara Nyanjan yang dilangsungkan tenang, namun tegang itu, tiba-tiba ada petunjuk yang mengatakan bahwa Aryana harus menjadi pamangku.
"Kalau tidak mau hanya boleh hidup tiga hari," ucap Mangku Aryana, mengingat petunjuk gaib yang diterimanya kala itu.
Memikir dampaknya yang begitu besar, apalagi ayahnya meninggal, Aryana akhirnya menyanggupi dan bersedia jadi pamangku, meski tak tahu dan mengerti dunia kepamangkuan.
"Saya bersedia karena penunjukannya juga lewat proses nyanjan," terangnya.
BACA JUGA
7 Kisah Unik dan Mengerikan Seseorang sebelum Jadi Pemangku di Bali
Editor : I Putu Suyatra