Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mabanten Saiban (Ngejot) Umat Hindu di Bali: Mengungkap Makna Mendalam dari Ritual Harian yang Sarat Syukur

Putu Agus Adegrantika • Senin, 17 Juli 2017 | 20:55 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, GIANYAR - Bali selama ini memang dikenal sebagai Pulau Seribu Pura. Tak hanya itu, masyarakat Hindu Bali pun dikenal dengan ragam yadnya yang secara rutin dilakukan, sebagai wujud syukur dan ucapan terimakasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Salah satunya yakni mabanten Saiban. Atau yang umum dikenal dengan istilah Ngejot, yang dilaksanakan ketika usai memasak.

Saiban atau Ngejot yang juga dinamai Yadnya Sesa, dalam tradisi umat Hindu di Bali memang sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu.

Tapi, tak bisa dipungkiri pula sampai saat ini pun masih banyak perbedaan atas persepsi di kalangan umat Hindu, tentang makna upacara yang sangat sederhana yang dilakukan setiap hari itu.

Walau pun tradisi ini hanya  berupa persembahan  yang menggunakan sarana dari apa yang dimasak saat itu.

Mulai dari satu jokotan (sejumput) nasi yang ditaruh pada sepotong daun pisang, atau sarana dedaunan lainnya.

Selain nasi, dalam sesajen ini juga dilengkapi dengan jenis-jenis lauk pauk, dalam arti lauk pauk yang hari itu dimasak oleh mereka yang menghaturkan sesajen.

Tapi, di beberapa daerah tak sedikit pula, yang menghaturkan sesajen ini dengan hanya berupa sejumput nasi, yang diisi dengan saur, lengkap dengan taburan garam.

Mengutip beberapa sumber seperti pada Manawa Dharmasastra III. 117 yang menyebutkan: 

'Dewanrsin manusyamsca pitrn grhyasca dewatah pujayitwa tatah pascad Grhastha sesabhugbha'.

Jadi maksudnya, setelah melakukan persembahan kepada dewa manifestasi Tuhan, kepada para Resi, leluhur yang telah suci (Dewa Pitara), kepada dewa penjaga rumah, dan juga kepada tamu. Setelah itu barulah pemilik rumah, menyantap makanannya. Dengan demikian dia lepas dari dosa.


Sedangkan dikutip dari Bhagawad Gita III. 13, dinyatakan: 

makanlah setelah melakukan yadnya. Yang makan setelah beryadnya akan lepas dari dosa. Mereka yang makan tanpa ber-yadnya sebelumnya, sesungguhnya makan dosanya sendiri.

Jro Mangku Ketut Ngakan Rai, 64, yang ditemui  Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu pun mengungkapkan hal senada, bahwa makna dan tujuan Masaiban atau Yadnya Sesa merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu.

Sebuah yadnya yang menuntut umat untuk selalu bersikap 'anersangsya', yakni tidak mementingkan diri sendiri, namun mendahulukan kepentingan di luar diri.

Selain itu, Masaiban juga memiliki makna, jika manusia sudah selesai memasak, wajib memberikan persembahan berupa makanan yang dimasak tersebut.

Karena tak bisa dipungkiri, jika makanan tersebut bersumber dari kehidupan dunia ini.

“Jadi, secara garis besar, Masaiban itu merupakan sebuah wujud syukur atas apa yang diberikan Ida Sang Hyang Widi Wasa kepada umatnya. Sebab, makanan tersebut bersumber dari ciptaan Beliau. Dan, tak bisa dipungkiri juga, bahwa yadnya sendiri merupakan sarana untuk menghubungkan diri dengan Beliau (Ida Sanghyang Widhi),” ucapnya.

Soal sarana sesajen Mesaiban,  Jro Mangku Ketut Ngakan Rai menjelaskan, sarana tersebut sangat sederhana.

Selain daun pisang yang digunakan sebagai wadah, untuk isinya sendiri menyesuaikan dengan makanan yang dimasak umat tersebut.

Karena pada intinya sebuah yadnya itu yang terpenting adalah niat dari hati yang tulus iklas.

“Misalnya, hari itu kita masak ulam (ikan) atau jukut (sayur), nah apa yang dimasak tersebut menjadi isi dari sesajen itu. Karena tak ada keharusan untuk menghaturkan jenis lauk tertentu. Apalagi sampai dibebani. Sebab, sebuah yadnya harus bersumber dari tulus ikhlas, dan wujud syukur atas apa yang diberikan Tuhan,” paparnya.

Lalu , di mana saja sesajen Saiban tersebut dihaturkan?

Dari beberapa sumber disebutkan, jika ada lima tempat penting tatkala menghaturkan sesajen Saiban.

Seperti di pertiwi (tanah), yang biasanya dilakukan di halaman rumah, diwangan (depan rumah). Kemudian apah, yakni air yang biasanya  di sumur atau di tempat air. Lalu ada di teja atau api, yang ditempatkan di dapur, dalam hal ini di tungku tempat memasak. Lantas di tempat beras, atau di tempat nasi, dan di tempat umat melakukan persembahyangan.

Namun, dalam kenyataannya di masyarakat dan dilakukan sehari-hari, Ngejot tersebut biasanya dihaturkan dengan dimulai dari dapur, sebagai tempat di mana masakan tersebut diolah.

Seperti di jalikan (tungku api), kemudian di tempat beras, dan di tempat nasi. Kemudian berlanjut ke merajan, kemudian ke halaman rumah, dan terakhir di depan pamesuan rumah (diwangan).

“Untuk tempat biasanya berbeda-beda satu daerah dengan daerah lain, tergantung keyakinannya. Misalnya ada juga yang menghaturkan di talenan, lesung. Bahkan ketika umat tidak lagi memiliki jalikan, maka dihaturkan ke kompor, yang merefleksikan sebagai tempat memasak,” paparnya.

Makanya dulu para orang tua, dan mungkin sampai saat ini, lanjutnya,  masih banyak masyarakat yang bertanya  sebelum makan.

"Sube ngaturan saiban?" (Apakah sudah menghaturkan saiban ). Kalau belum, pantang bagi orang tua dulu untuk makan langsung, sampai Saiban tersebut dihaturkan,” terangnya.

Lantas kapan sebenarnya waktu untuk Ngejot tersebut.

Menurut pemangku yang juga guru SD ini, menghaturkan sesajen Saiban ini tak mengenal waktu, artinya kapan umat tersebut selesai memasak, maka saat itu sesajen dihaturkan.

“Kalau misalnya masaknya siang hari, ya siang hari itu ketika selesai memasak, dan sebelum kita makan masakan tersebut,” paparnya.

Bahkan, apa yang dijumpai di masyarakat, Ngejot tersebut tak hanya dihaturkan ketika selesai memasak di rumah.

Namun tatkala hendak menyantap sesuatu, apakah itu makanan yang dibeli, atau makanan yang dari hasil memetik, terlebih dulu akan Ngejot, sebuah tradisi yang diyakini sebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #tradisi