MANGUPURA, BALI EXPRESS - Pantai Seseh, Mengwi, Badung, Bali - Pura Ratu Mas Sakti, yang terletak di sebelah Pura Luhur Batu Bolong, menawarkan lebih dari sekadar ketenangan spiritual. Pura ini menyimpan kisah unik tentang harmonisasi antara umat Hindu dan Islam. Terletak di Pantai Seseh, pura ini memiliki makam Pangeran Mas Sepuh, Raden Amangkuningrat. Ingin tahu lebih banyak tentang cerita menarik di balik pura ini?
Secara keseluruhan, Pura Ratu Mas Sakti terdiri dari sejumlah bangunan palingih dan sebuah makam milik Pangeran Mas Sepuh atau Raden Amangkuningrat. Jro Mangku Keramat yang ditemui di lokasi, Selasa (18/7) kemarin, menuturkan sekilas keberadaan pura tersebut.
Diceritakan, sekitar 400 tahun yang lalu, Raja Mengwi mengunjungi daerah Blambangan, Jawa Timur.
Di sana sang raja kemudian memiliki seorang istri. Lambat laun, dari perkawinan tersebut, lahir seorang pangeran yang bernama Radeng Amangkuningrat. Sementara sang raja telah kembali ke Mengwi.
Ketika beranjak dewasa, ia bertanya kepada sang ibu, tentang keberadaan sang ayah. Oleh ibundanya kemudian dikatakan, ayah Raden Amangkuningrat adalah Raja Mengwi.
“Kurang lebih usia beliau saat itu sekitar 25 tahun, lahir di Jawa dan besar di Jawa,” ungkap Jro Mangku kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Mendapat penjelasan sang ibu, Raden Amangkuningrat yang memeluk agaman Islam kemudian berangkat ke Bali Dwipa dan langsung menuju ke Kerajaan Mengwi, didampingi sekitar 40 kiayi.
“Kalau orang biasa tentunya harus menggunakan sarana transportasi berupa perahu atau kapal, tapi konon karena kesaktiannnya, beliau bisa berjalan di atas air. Beliau adalah seorang sidhi sakti. Kadang-kadang beliau duduk di atas air, bisa membuat makam dan tempat sembahyang di atas air,” tuturnya.
Setibanya di Mengwi, ternyata ayahanda Raden Amangkuningrat sudah mangkat. Sementara yang masih hidup adalah ibu tirinya. Timbullah kesalahpahaman antara pihak kerajaan dan sang raden.
“Karena merasa kecewa, akhirnya beliau diutus dari Kerajaan Mengwi ke Seseh. Dalam perjalanan, ternyata beliau meninggal. Entah dibunuh atau bagaimana,” terang Jro Mangku berusia 55 tahun tersebut.
Namun, konon beliau sempat berpesan kepada pengiringnya, jika suatu saat meninggal, agar dibuatkan makam. “Kalau orang Muslim menyebutnya sebagai makam, kalau masyarakat di Bali biasa menyebut pamereman (tempat tidur),” jelasnya.
Di samping itu, beliau juga minta dibuatkan meru atau merajan yang letaknya hanya sekitar15 meter dari lokasi makam. Nah, merajan yang berisi meru tumpang 11 tersebut kemudian diberikan nama Pura Ratu Mas Sakti.
Lambat laun, orang-orang pun berdatangan ke tempat tersebut untuk berziarah ke makam atau sembahyang ke pura.
“Banyak yang datang untuk ziarah atau sembahyang, baik dari agama Hindu, Buddha, maupun Muslim. Banyak juga yang memohon petunjuk dalam berbagai hal, seperti pengobatan, keturunan, hingga usaha,” paparnya.
Jro Mangku yang menjadi Pegawai Negeri Sipil di Pemkab Tabanan tersebut, mengatakan, banyak umat Muslim dari luar Bali, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan lainnya datang untuk ziarah.
Demikian pula umat Hindu biasanya ramai sembahyang saat purnama atau tilem, termasuk kajeng kliwon.
“Itu dari jam 8.00 pagi hingga pukul 02.00 dini hari. Apalagi saat pujawali yang dilaksanakan setiap Budha Kliwon Sintha Pagerwesi atau sekitar satu bulan mendatang,” jelasnya.
Dikatakan Jro Mangku, pura tersebut kini disungsung oleh tujuh puri, yakni Puri Ageng Mengwi, Puri Mayun Mengwi, Puri Sibang, Puri Bongkasa, Puri Kapal, Puri Sempidi, Puri Selat Sangeh, termasuk pula krama Desa Adat Seseh.
“Saat piodalan, biasanya Ida Panglingsir Puri Mengwi, AA Gde Agung datang kesini,” terangnya.
Sementara mengenai aci atau sesajen yang dihaturkan di pura atau makam, Jro Mangku menyebutkan tidak boleh sama sekali berbahan daging babi atau sapi.
Adakah pengalaman menarik yang dialami Jro Mangku saat ngayah selama ini? Ditanya begitu, Jro Mangku Keramat mengatakan dirinya dulu kerap dirundung masalah kehidupan, baik dalam keluarga maupun sakit.
“Tiang dulunya banyak cobaan, seperti sakit dan masalah keluarga. Almarhum bapak tiang yang merupakan pamangku sebelumnya kemudian meminta agar tiang ngayah sebagai pamangku karena mendapat pawisik. Termasuk tiang juga mendapat pawisik lewat mimpi agar bersedia ngayah,” jelasnya.
Almarhum ayahnya kemudian berpesan agar Jro Mangku Keramat ngayah dengan ikhlas.
“Karena sudah turun-temurun ngayah sebagai Jro Mangku, tiang kemudian menjadi panyade (pengganti) almarhum. Beliau sempat berpesan jangan macam-macam. Pokoknya ikhlas ngayah, siang atau malam. Kalau tiang sehat, diminta untuk menjalani saja dan syukuri saja apa adanya,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra