BALI EXPRESS, DENPASAR - Sesuai dengan tradisi, jika manusia Hindu Bali lahir, tidak saja memalui proses perkawinan yang sah dari kedua orang tuanya, namun proses kelahiran sang bayi juga mengalami proses yang cukup panjang. Salah satunya ada prosesi ritual yang disebut Mapetik.
Setiap proses dalam kehidupan si bayi dalam tradisi Hindu di Bali memiliki makna tersendiri.
Salah satu prosesi upacara yang harus dilalui oleh seorang bayi adalah upacara Mepetik, yakni upacara yang menandakan jika si bayi sudah menjadi manusia sempurna dan sudah terbebas dari mala (kotor) yang diakibatkan karena proses kelahirannya ke dunia.
Menurut Ida Pedanda Gde Purwa Gautama dari Geria Wanasari Talibeng, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, upacara Mapetik adalah upacara memotong rambut si bayi untuk pertama kalinya, sejak si bayi lahir dari kandungan ibunya.
“Tujuannya adalah untuk penyucian si bayi dengan cara memotong sedikit rambut si bayi,” jelasnya.
Dengan memotong rambut si bayi, lanjut Ida Pedanda Gde Purwa, maka secara simbolis, kotor bayi yang disebabkan oleh proses kelahirannya sudah hilang.
Dan, selanjutnya, rambut si bayi dipotong habis atau digunduli. Dengan tujuan, jika rambutnya nanti tumbuh lagi, maka rambut yang tumbuh adalah rambut baru yang sudah melalui proses panyucian.
Upacara Mapetik ini dilakukan ketika bayi berusia eman bulan dalam hitungan kalender Bali atau lazim disebut dengan usia satu oton (210 hari).
Dipilihnya usia satu oton untuk melakukan upacara Mepetik ini, lanjutnya, karena pada usia ini, si bayi dinilai sudah mampu memiliki daya tahan tubuh yang baik, sehingga tiddak terganggu kesehatannya.
Selain tu, lanjutnya, upacara Mapetik dilakukan ketika anak berusia enam bulan ini, karena sudah memiliki identitas yang lengkap, seperti nama si bayi.
Artinya, si bayi sudah melewati prosesi pemberian nama ketika anak berumur 42 hari lewat upacara Macolongan.
Dijelaskan Ida Pedanda Gde Purwa, prosesi Mapetik dimulai dengan proses natab prayasita dengan tujuan untuk membersihkan si bayi dan kedua orang tuanya.
Setelah prosesi ini, barulah rambut si bayi dipotong secara simbolis dan dimasukkan kedalam blayag jalinan janur yang berbentuk lonjong.
Setelah proses pemotongan rambut secara simbolis selesai, selanjutnya si bayi d bersihkan dengan cara melakukan pangelukatan oleh Ida Pedanda.
Setelah itu, si bayi natab otonan. Untuk rambut yang sudah dipotong, harus segera dibuang ke kali atau ke laut sebagai simbolik membuang mala yang dibawa si bayi dari dalam kandungan ibunya.
“Dibuang ke kali atau ke segara agar kotoran itu bisa mendapatkan peleburan dari Ida Bhatara Wisnu dan menyatu dengan pertiwi, sehingga segala kotorannya bisa dikembalikan ke asalnya,” paparnya.
Terkait upacara Mapetik ini, Ida Pedanda mengatakan proses yang dilakukan di Bali tidak sama, karena antara satu daerah dan daerah yang lain memiliki tradisi yang berbeda.
Ida Pedanda mencontohkan , dalam tradisi masyarakat di Kabupaten Badung atau beberapa daerah di Bali, upacara Mapetik tidak dilakukan ketika anak berusia satu oton, tetapi ketika anak tersebut berusia tiga oton atau ketika berusia 630 hari.
Jadi, upacara Mapetik dilakukan saat si bayi merayakan otonannya yang ketiga.
“Biasanya upacara tiga oton ini dibuat lebih besar dengan upacara satu oton atau dua oton, karena upacara tiga oton ini merupakan akhir dari rangkaian upacara untuk seseorang dengan status sebagai bayi,” ungkapnya. (*)
Editor : I Putu Suyatra