Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Mistis Warga Bali: Miliki Arca Lingga Yoni, Alami Kesialan Selama Tujuh Tahun

I Putu Mardika • Senin, 24 Juli 2017 | 15:55 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Made Suyasa, 52, akhirnya harus rela melepaskan Arca Lingga Yoni yang ia miliki selama tujuh tahun terakhir.

Pasalnya selama kurun waktu kepemilikan arca Lingga Yoni, itu ia selalu dirundung kesialan, hingga akhirnya bernazar, jika sialnya hilang maka akan mengembalikan arca tersebut ke Pura Desa Pakraman Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali.

Pengembalian Arca Lingga Yoni itu dilakukan Sabtu (22/7) sore lalu, yang disaksikan oleh Prajuru Desa Adat Bengkala.

Setelah melalui prosesi upacara di depan Pura Desa Bengkala, Arca yang sebelumnya diletakkan di dalam sokasi tersebut langsung distanakan di Pelinggih Paruman, yang terletak di sisi timur Jeroan Pura.

Awal kisah kepemilikan Arca Lingga Yoni yang merupakan simbol Siwa-Parwati tersebut dimulai pada tahun 2010 lalu.

Kala itu Suyasa baru saja menjabat sebagai Camat Buleleng.

Suyasa sempat membeli sebidang tanah yang posisinya berada di sebelah utara Desa Bengkala. Ia pun rutin mengunjungi tanah yang dibelinya tersebut sembari bersih-bersih.

Saat bersih-bersih secara tidak sengaja Suyasa menemukan sebuah batu yang diduganya sebagai arca yoni.

Kondisi batu saat ditemukan sebagian masih tertutup tanah. Suyasa yang juga penekun spiritual mengaku jika batu tersebut memiliki kekuatan magis.

Dalam benaknya ia berpikir jika ada yoni, sudah pasti ada lingga nya. Ternyata nalurinya itu benar.

Sebab dengan jarak lima meter dari penemuan yoni, Suyasa mendapati sebuah batu, yang dia yakini sebagai arca lingga.

Batu lingga yoni itu lantas dibawa pulang dan diletakkan di bawah pelinggih surya di rumahnya.

Di tahun pertama kepemilikan arca Lingga Yoni tersebut, belum menunjukkan sesuatu yang aneh, atau sinyal kesialan.

Namun karena Suyasa sebagai penekun spiritual, Arca sempat ia gunakan untuk nerang (pawang hujan, Red) ketika Wakil Presiden RI, Boediono, melakukan kunjungan ke Desa Sudaji pada Mei 2010.

“Dulu, waktu Pak Wapres Boediono ke Sudaji saya nerang dengan menggunakan Arca ini, dengan menggunakan sarana dupa. Hebatnya saat itu mendung tebal, hampir hujan, tiba-tiba langsung jadi terang benderang,” katanya.

Lambat laun, Suyasa tak menyadari, jika dirinya mengalami penurunan dari sisi ekonomi. Suyasa yang punya kerja sampingan jual beli tanah di luar pekerjaan tetapnya sebagai seorang birokrat sering mengalami rugi.

Namun meski demikian pihaknya belum menyadari, karena pundi-pundi rupiah masih mengalir gajinya sebagai PNS serta hasil kebun yang ia miliki.

Hingga akhirnya kesialan benar-benar bercokol pada dirinya.

Saat itu awal tahun 2012 dia sempat mendapat promosi jabatan sebagai Kepala Badan Kesbang Pol Linmas Buleleng. Tetapi itu pun tak panjang.

Hanya beberapa bulan saja. Suyasa dicopot dari jabatannya, dan ditugaskan di salah satu SMK Negeri di Sawan.

Kesialan tak berhenti di sana. Puncaknya pada Oktober 2012, dirinya terlibat kecelakaan dengan seorang pengendara motor, hingga akhirnya sang pengendara tersebut meninggal dunia.

Akibat kejadian itu, ia pun sempat berurusan dengan hukum.

Karena kesulitan finansial, akhirnya ia berupaya untuk menjual aset yang dimilikinya berupa tanah di berbagai titik.

Namun tak membuahkan hasil.

Asetnya tak ada yang minat membeli, bahkan sudah hamipr deal, namun malah batal dibeli.

“Aset saya banyak, tapi saat hendak dijual sama sekali tak ada yang laku. Uniknya ada yang mau deal, justru dibatalkan. Padahal sudah mau buat akte jual beli. Benar-benar dibuat bingung saat itu,” tutur Suyasa.

Karena dirundung kesialan, banyak pihak menyarankan agar pihaknya menanyakan hal tersebut ke orang pintar.

Tak hanya di Bali, bahkan di luar Bali pun ia rela mencari seorang penekun spiritual untuk mengungkap masalah yang dihadapi selama ini.

Ternyata, semua penekun spiritual menyarankan agar dirinya mengembalikan Arca Lingga Yoni tersebut.

Suyasa sempat khawatir jika prajuru akan menolak pengembalian arca itu. Namun karena masih ragu, untuk beberapa waktu ia masih menyimpan arca tersebut.

Bahkan istrinya, Ketut Karnadi, 51, pun mendesak Suayasa agar secepatnya mengembalikan arca tersebut.

Sebab Karnadi sering melihat sosok besar di kamar suci, tempat Arca tersebut distanakan.

Sebagai jalan terakhir, Suyasa bernazar, apabila rumahnya di wilayah Banyuning laku, dia akan mengembalikan arca itu.

Benar saja, rumahnya laku. Dia juga kembali mendapatkan jabatan tetap, sebagai Sekretaris Dinas Pusipda Buleleng.

“Syukurnya para Prajuru Adat menerimanya. Saya sampaikan jika kondisi arca tersebut masih utuh, seperti kondisi awal ditemukannya,” ujarnya.

Ketut Darpa selaku Prajuru Desa Pakraman Bengkala yang ikut menyaksikan dikembalikannya Arca tersebut mengungkapkan jika pihaknya menyambut positif apa yang dilakukan Suyasa.

Pihak desa juga terus mengumpulkan peninggalan sejarah yang ada di desa. Arca itu pun dianggap sebagai tinggalan sejarah yang sangat penting bagi desa.

“Kami sangat menyambut positif langkah yang diambil Pak Suyasa, dengan mengembalikan Arca ini. Desa kami banyak menyimpan berbagai peninggalan sejarah seperti prasasti perunggu, prasasti batu, keramik tiongkok, termasuk arca lingga yoni ini. Kami harap ini semakin membuka sejarah asal usul desa kami,” jelasnya.

Ditambahkan Ketut Darpa untuk sementara waktu arca itu disimpan di Pura Desa Bengkala, sambil menunggu para Prajuru Adat menggelar Paruman untuk menentukan stana dari Arca tersebut.

“Kami masih tunggu paruman dulu bersama prajuru adat. Setelah itu baru ditentukan tempat permanennya. Untuk sementara di Pura Desa Bengkala dulu kami Stanakan,” tutupnya.  (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Lingga Yoni #arca #buleleng