Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Biji Rudraksha Tumbuh dari Air Mata Siwa; Jumlah Mukhi Bedakan Fungsi

I Putu Suyatra • Kamis, 27 Juli 2017 | 22:51 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Belakangan ini aksesoris dari biji Rudraksha banyak digunakan, terutama oleh warga Hindu di Bali.

Mulai dari bentuk kalung, gelang, anting hingga gantungan kunci.

Tidak hanya kalangan orang-orang yang menekuni spiritual, kalangan masyarakat biasa pun tertarik menggunakannya.

Menurut mitologinya, Dewa Siwa bertapa hingga 1000 tahun dewa hingga berhasil menciptakan pohon Rudraksha. Konon, biji Rudraksha berasal dari air mata Rudra atau Dewa Siwa.

Oleh karena itu, Rudraksha dipercaya penuh dengan berkah Dewa Siwa, sehingga bisa mendatangkan berbagai manfaat, seperti kesehatan, kedamaian, kemuliaan, hingga pencapaian kebebasan sejati atau Moksa, bagi yang menggunakan serta yakin akan kekuatannya.

Dalam Siwa Purana dijelaskan tentang tiga material penting dalam memuja Siwa, yakni abu suci, Rudraksha, dan daun Bilwa.

Oleh karena itu, Rudraksha memiliki makna yang sangat penting bagi orang-orang yang memuja Tuhan dalam manifestasi sebagai Siwa.

Rudraksha atau Ganitri yang bernama latin Elaeocarpus Ganitrus, merupakan pohon yang berbatang keras yang biasa hidup di iklim tropis.

Daunnya kecil memanjang serta berwarna unik, yakni hijau ketika muda dan menjadi merah ketika menua.

Buahnya yang masak akan berwarna ungu atau biru tua. Nah, biji buahnya yang berpola uniklah yang biasa digunakan sebagai japamala (tasbih) dan aksesoris tertentu.

Menurut salah satu pembuat aksesoris dari Rudraksha, Made Sujana Djapa yang akrab disapa De Japa, ada sekitar 200 jenis Rudraksha. 

Di antara sekian banyaknya, yang memiliki kualitas super salah satunya adalah Medana.

“Satu kalung harganya hingga Rp 20 jutaan,” ujarnya, Jumat (28/10). Harga melambung tersebut karena biji Rudraksha yang digunakan dengan kualitas terbaik.

Lebih lanjut, pria yang tinggal di kawasan Ubung, Denpasar tersebut,  mengatakan, Rudraksha terkenal berasal dari India dan Nepal. Namun, di Indonesia ada juga  daerah penghasil Rudraksha.

“Di Jawa pusatnya di Kebumen. Selain itu, ada pula di Bali, Timor, Papua, Sulawesi, dan daerah lainnya,” ujarnya.

Bahkan, salah satu yang diburu karena bentuknya yang besar adalah yang berasal dari Papua.

“Ukurannya bisa lebih besar dari telur angsa,” ungkapnya.

Uniknya, pada biji Rudraksha ternyata terdapat garis yang khas atau dikenal dengan istilah “Mukhi”.

Beda jumlah Mukhi, beda pula khasiatnya. Jumlah Mukhi pun tidak sedikit, yakni mulai dari Mukhi satu hingga 38, bahkan bisa lebih.

Di antara Mukhi tersebut, Mukhi satu dan 21 adalah yang paling diminati.  De Japa mengatakan, yang cukup diminati di Bali khususnya adalah Mukhi 7 yang dipercaya mendapat anugerah Dewi Laksmi, sebagai Dewi Kemakmuran.

“Biasanya dicari oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang,” ujarnya.

Di samping itu, para ibu-ibu dikatakan senang mencari Mukhi 9 karena dipercaya mendapat anugerah Dewi Dhurga.

Berdasarkan jumlah Mukhi, Rudraksha punya fungsi berbeda, yakni  Mukhi 1 (Siwa) untuk kebahagiaan dan pembebasan (moksa), Mukhi 2 (Siwa-Parwati) untuk keharmonisan, kedamaian, serta terpenuhi segala keinginan, Mukhi 3 (Agni) untuk keselamatan dan spiritual, Mukhi 4 (Brahma) untuk kecerdasan dan kreativitas, Mukhi 5 (Panca Brahma) untuk peleburan dosa, Mukhi 6 (Karttikeya) untuk ketenaran, Mukhi 7 (Lakshmi) untuk kesehatan dan kesejahteraan, Mukhi 8 (Ganesha) panjang usia, kekuatan, dan kebijaksanaan.

Selanjutnya Mukhi 9 (Durga) untuk kasih sayang dan keberanian, Mukhi 10 (Wisnu) untuk kedamaian dan perlindungan dari musuh serta ular berbisa, Mukhi 11 (Rudra) untuk mendapat kejayaan dan kemenangan, Mukhi 12 (Raditya) untuk kehormatan dan ketenaran, Mukhi 13 (Kamadewa) untuk mencapai berbagai keinginan dan keberuntungan, Mukhii 14 (Siwa) untuk mengaktifkan mata ketiga serta dibimbing oleh Siwa, Mukhi 15 (Pasupati), untuk menajamkan intuisi dan memperoleh ide. Sementara untuk kedamaian dan keselamatan dari berbagai macam gangguan adalah Mukhi 16 (Rama), Mukhi  17 (Wiswakarma) untuk kreativitas yang berhubungan dengan property, Mukhi  18 (Pertiwi), untuk keselamatan dan kesehatan para wanita, terutama yang sedang hamil, Mukhi  19 (Narayana), untuk perlindungan dan kesejahteraan,  Mukhi 20 (Brahma), untuk kecerdasan dan kretivitas, Mukhi 21 (Kuwera) untuk kemakmuran serta keberuntungan.

Selain itu, terdapat pula Mukhi lainnya dengan nama dan khasiat tertentu. Bahkan, ada bentuk-bentuk yang unik dengan nama tertentu, seperti Garb Shankar yang berguna untuk mendatangkan keturunan, dipakai oleh ibu-ibu.

Selanjutnya, ada Ghauri Shankar yang berguna untuk keharmonisan keluarga, serta bentuk Ganesha yang berguna untuk perlindungan dan kebijaksanaan. Guna meningkatkan energinya, setiap Mukhi memiliki mantra tersendiri.

De Japa menambahkan,yang sedang diminati saat ini adalah m Mukhi 1, karena melambangkan Siwa. Bentuknya pun unik, yakni seperti bulan sabit.

Sementara itu, Mukhi 21 sulit didapat. “Satu pohon bisa 40 tahun sekali baru muncul,” ujar De Japa  yang sudah mengoleksi hingga Mukhi 30.

Selain itu, De Japa mengatakan, Rudraksha tidak perlu melalui proses pasupati (penghidupan secara gaib), karena sudah secara alami memiliki energi dari alam.

Dengan memegang biji Rudraksha secara lembut, maka bisa dirasakan ada getaran bioelektrik. “Energi inilah yang mempengaruhi jantung dan otak,” jelasnya.

Namun, bagi yang ingin menambah keyakinannya, prosesi pasupati juga tidak dilarang.

De Japa yang memulai membuat aksesoris dari Rudraksha sejak  tahun 2000, sudah terbiasa melakukan japa. Sembari merangkai kalung, ia melakukan japa atau penyebutan nama suci Tuhan secara berulang-ulang.

“Ada ketenangan dan kenyamanan yang saya peroleh dari hal itu,” ungkapnya.

Satu rangkaian kalung, Japa diakuinya harganya beragam. Ia yang mengutamakan kualitas dalam pembuatannya, menjual satu kalung dengan jumlah 108 butir Rudraksha mulai dari harga di atas Rp 100 ribu.

De Japa mengatakan, jika digunakan sebagai kalung, ada ukuran khusus.

“Untuk panjang, sebaiknya saat digunakan, untaiannya tidak melewati pusar,” jelasnya.

Hal tersebut menurutnya demi kenyamanan si pemakai. Di samping itu, menurut ajaran Agama Hindu, dari bagian pusar ke bawah kerap terlibat dalam kegiatan yang kotor.

Selain itu, De Japa juga mengingatkan saat ini ada Rudraksha palsu yang beredar.

“Ada yang palsu, bahannya plastik dan terkadang sangat mirip dengan aslinya,” jelasnya. Menurutnya yang kerap dipalsukan adalah Mukhi langka yang harganya tinggi.

Mengenai cara pembedaannya, ia mengatakan agak susah. “Kalau dibongkar dan dibelah, barulah biasanya kita bisa tahu keasliannya. Tapi itu kan tidak mungkin,” terangnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat benar-benar jeli mengenali Rudraksha. Bagi yang sudah terbiasa dengan Rudraksha, ia mengatakan bisa mengenali kualitasnya dari suaranya saja.

“Kalau digesekkan, ada suara yang khas. Selain itu, kalau direndam dalam air, akan tenggelam. Pertanda bahwa kualitasnya bagus,” ungkapnya. (*) 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #rudraksha #dewa #siwa