BALI EXPRESS, DENPASAR - Agnihotra atau Homayajña akhir-akhir ini kembali dibicarakan umat Hindu di Bali.
Tidak hanya di tempat-tempat suci, Agnihotra banyak dilaksanakan umat Hindu di rumah masing-masing.
Awalnya sebagian kalangan masyarakat Hindu Bali menganggap hal tersebut tidak biasa. Namun kini banyak yang tertarik untuk ikut melaksanakannya.
Jika ditelusuri, Agnihotra berasal dari kata “Agni” dan “Hotra”. Agni berarti api suci, sedangkan Hotra berarti persembahan.
Dengan demikian, Agnihotra berarti persembahan kepada api suci atau persembahan kepada tuhan dengan menggunakan api sebagai medianya.
Hal ini dikarenakan api dikatakan sebagai simbol lidah dari Tuhan.
Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata menegaskan, Agnihotra bukan aliran, seperti yang diwacanakan sebagian kalangan, karena Agnihotra tercantum jelas dalam Catur Weda.
“Bahkan, sebelum ada banten yang semarak seperti sekarang, para leluhur kita di Bali melaksanakan upacara Agnihotra,” jelasnya.
Hal itu dikatakan olehnya tercantum dalam berbagai lontar, di antaranya Silakrama, Prasasti Pande Beratan, Prasasti Slokadan, dan sebagainya.
Sementara dalam Weda terdapat pula dalam Bhagavadgita, Agnipurana, Wisnupurana, Durgapurana, Siwapurana, dan pustaka suci Sang Hyang Kamayanikan sebagai acuan Kasogatan di Bali.
Setiap orang suci datang ke nusantara atau ke Bali, seperti Rsi Agastya, Mpu Kuturan, Pandita Sakti Wawu Rawuh dikatakan oleh Sira Mpu senantiasa melaksanakan Agnihotra.
Sepengetahuannya, Agnihotra terakhir kali dilaksanakan di Puri Gelgel.
“Ketika itu menurut tulisan Prof. Titib berdasarkan penelitiannya, istri raja sedang sakit kemudian Raja meminta Pandita Sakti Wawu Rawuh melaksanakan Homayajña, tetapi Beliau pun tidak bisa sehingga diwakilkan oleh Mpu Astapaka yang merupakan keluarganya,” tuturnya.
Entah apa yang menyebabkan, saat Agnihotra berlangsung, mendadak angin datang menerbangkan api dan jatuh pada atap istana sang raja, sehingga puri terbakar.
Raja pun tidak berpikir panjang dan mengeluarkan bhisama agar sementara waktu Agnihotra tidak dilaksanakan.
“Lama-kelamaan Agnihotra tidak lagi dilaksanakan, kemudian muncul api takep, dupa, dipa yang dikemas kekinian, sedangkan Agnihotra tenggelam. Kemudian muncullah banten,” jelasnya.
Akhirnya di tahun 90’an para intelektual Hindu di Bali kembali mengkaji Agnihotra sehingga Agnihotra kembali mentradisi.
Lebih lanjut, Sira Mpu mengatakan bahwa sarana dalam Homayajña atau Agnihotra secara umum sama. Pertama yang disiapkan adalah Kunda atau tempat api.
Selanjutnya, persembahannya adalah gritam atau minyak ghee, yakni lemak susu berupa mentega, bukan lemak sapi.
“Sapi adalah binatang yang dilindungi dan disucikan oleh Weda, sehingga dalam upacara yajña wajib menggunakan unsur dari sapi, salah satunya adalah susu atau mentega,” ungkapnya.
Persembahan selanjutnya adalah kayu api, bisa berupa cendana, majagau, intaran, beringin, dapdap, dan yang paling umum dan mudah didapat adalah kayu mangga kering.
Selanjutnya adalah pala bungkah, pala gantung, dan palawija.
“Minimum ada empat macam beras, bahan obat-obatan dengan dikeringkan terlebih dahulu dan dicampur. Semuanya itu disebut Samagri,” jelasnya.
Prosesnya adalah, ketika pertama Sulinggih ngarga tirtha, dilanjutkan dengan menyucikan badan (acamanyam).
Dalam upacara perkawinan, sulinggih kemudian memberikan raksa sutra (benang suci) kepada laki-laki yang digelangkan di lengan kanan dan kepada perempuan yang digelangkan di tangan kiri sebagai wujud keseimbangan.
Prosesi dilanjutkan dengan menggunakan sinur, yakni tepung mawar di dahi untuk membuka tri netra atau mata ketiga.
Setelah itu, para sulinggih dan hotri melantunkan puja puji sesuai Weda untuk menghadirkan Dewa Agni.
Prosesi kemudian berlanjut menyalakan api suci, setelah itu baru ada persembahan minyak, kayu, dan setelah api besar baru persembahan samagri.
Saat persembahan dimasukkan ke dalam kobaran api, semua hadirin mengucapkan kata “Swaha”.
“Karena dalam Bhuwanakosa dijelaskan api itu sendiri adalah aspek dari Dewa Brahma, sedangkan Swaha adalah Saktinya Dewa Brahma, yakni Dewi Saraswati yang disebut Dewi Swaha,” jelas Sira Mpu.
Seperti yang telah dijelaskan di awal, Agni atau api sucimultifungsi, yakni sebagai Ahawinaya Agni (untuk memasak makanan), Grihaspatya Agni (mensahkan perkawinan), dan Cita Agni (membakar jenazah).
Sira Mpu menekankan bahwa sesungguhnya sebagai umat Hindu wajib melaksanakan Agnihotra guna menyempurnakan upacara yajña yang dilakukannya.
“Agnihotra merupakan rajanya yajña, tidak ada di atas Agnihotra,” tandasnya. (*)
Editor : I Putu Suyatra