Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kwangen bagi Umat Hindu di Bali; Lambang Keindahan Menuju Damai dan Seimbang

I Putu Suyatra • Minggu, 30 Juli 2017 | 16:17 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kwangen, salah satu satu sarana yang wajib dibawa umat Hindu, ketika hendak sembahyang, selain menggunakan bunga dan dupa. Apalagi bertalian dengan Panca Yadnya, Kwangen mutlak harus ada.

Praktisi upakara yang juga Ketua Yayasan Dharma Acarya, Ida Bagus Sudarsana menegaskan, Kwangen adalah salah satu sarana persembahyangan yang wajib digunakan dalam aktivitas ritual umat Hindu.

“Biasanya Kwangen ini digunakan dalam aktivitas panca sembah dengan tujuan untuk memohon anugerah dari Ida Sang Hyang,” jelasnya.

Dalam Lontar Tutur Tapini, lanjut Ida Bagus Sudarsana, disebutkan Kwangen merupakan salah satu sarana persembahyangan yang juga digunakan dalam aktivitas ritual Panca Yadnya.

Kwangen berasal dari kata Wangi, yang artinya harum. Jadi, Kwangen memiliki arti sebagai keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa.

Selain sebagai sarana persembahyangan, Kwangen juga memiliki simbul dari Omkara, yakni aksara suci dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai simbol Omkara dalam bentuk upakara, Kwangen memiliki ukuran spesifik, di mana  bagian bawah lancip dan bagian atas mekar seperti bunga sedang kembang.

Kwangen biasanya terdiri dari beberapa bagian, yakni kojong dari daun pisang, pelawa, porosan silih asih, pis bolong, sampian kwangen dan bunga-bunga harum yang ditusuk dengan biting.

Semua bahan tersebut dipadukan atau disatukan.

Porosan silih asih dan pelawa dimasukkan ke dalam kojong.

“Selanjutnya sampian Kwangen,bunga-bunga harum, dan terakhir adalah pis bolong yang lobangnya diisi lidi yang dilipat sehingga mudah ditancapkan,” lanjutnya.

Selain sebagai lambang aksara suci Tuhan, Kwangen juga  digunakan sebagai lambang keindahan.

Kwangen, lanjut Ida Bagus Sudarsana,  sama halnya dengan sarana upacara lainnya, yakni sebagai hasil dari kreativitas umat manusia dalam rangka melakukan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Secara umum, manusia tidak dapat dipisahkan dengan keindahan (estetika), karena keindahan sebagai penyeimbang logika manusia.

“Keindahan dan seni sebagai penghalus hidup manusia, tanpa keindahan (estetika), hidup manusia akan terasa kaku dan kehilangan nilai rasa,” ujarnya.

Oleh karena itu, kahadiran karya estetika sangat dibutuhkan manusia sebagai penghalus rasa dalam kehidupannya.

Demikian juga halnya dalam simbol upakara Omkara yang terkandung dalam bentuk Kwangen ini, tidak terlepas dari hasil buatan manusia yang mengandung nilai estetika.

Kwangen sebagai sarana dalam persembahyangan yang ditujukan kepada Tuhan, hendaknya membawa suasana batin yang indah, senang, suci, kusuk dan nyaman, sehingga memudahkan berkonsentrasi dalam memuja atau memulikan Tuhan.

Lantaran itu pula, Kwangen dibuat dengan bentuk yang indah yang mampu menciptakan suasana senang, suci, kusuk dan nyaman dalam sembahyang.

“Sehingga, keindahan tersebut mampu membawa keseimbangan antara bhuana alit dan bhuana agung,” paparnya.

Jika dilihat dari bentuknya, Kwangen yang kecil berbentuk segitiga ini, memiliki fungsi sebagai sarana persembahyangan yang utama, tanpa menganggu konsentrasi dari si pengguna.

“Bentuk dari Kwangen yang kecil dan mungil, sehingga mudah dipegang dan tidak mudah jatuh ketika dijepit di ubun-ubun,” bebernya.

Dikatakan , berdasar Lontar Yadnya Prakerti, unsur-unsur dari Kwangen  terdiri dari Kojong, yang terbuat dari daun pisang melambangkan Ardacandra, pelawa atau daun kayu menyimbulkan Pertiwi atau Bumi sebagai lambang dari ketenangan.

Selanjutnya, Porosan silih asih yang dibuat dari dua lembar daun sirih digulung dengan posisi menengadah satu, telungkup satu, disatukan.

“Ini disebut Porosan silih asih lambang hubungan timbal balik antara baktinya umat manusia dengan kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” terangnya.

Bahan selanjutnya adalah Kembang Payas, berbentuk cili, dibuat dari serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit, yang  melambangkan ketulusan hati.

Sedangkan bunga hidup yang segar dan berbau harum/wangi menjadi lambang dari kesucian pikiran dalam beryadnya.

Dan, yang tekahir adalah uang kepeng logam dua buah yang melambangkan windu.

Dalam Lontar Yadnya Prakerti, uang kepeng logam disebutkan berfungsi sebagai penebus segala kekurangan yang ada.

Untuk penggunaannya, Sudarsana menyebutkan jika dalam aktivitas persembahyangan, Kwangen digunakan dalam Panca Sembah digunakan dengan posisi uang kepeng menghadap ke arah orang yang sedang bersembahyang.

“Seperti yang tertuang dalam Lontar Paniti Gama, Kwangen digunakan dengan posisi uang kepeng menghadap ke arah orang yang sembahyang sebagai lambang untuk menghaturkan keindahan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa,” terangnya. 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Sang Hyang Widhi Wasa #bali #yadnya #tradisi bali #kwangen #Yadnya Prakerti #hindu #tradisi hindu #sembahyang #Lontar Paniti Gama