BALI EXPRESS, BALI - Berdasarkan cerita di awal, Pura Batu Medau, salah satu tempat sembahyang umat Hindu Bali di Desa Suana, Nusa Penida, Klungkung, awalnya adalah perahu besar milik seeseorang sakti mandraguna, I Renggan.
Layaknya perahu bangsawan, di dalamnya tersimpan banyak bahan makanan dan harta benda peninggalan.
Peninggalan tersebut kemudian menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat.
Menurut Ketua Yayasan Bakti Pura Batu Medau, I Made Wijaya, di Pura Batu Medau dipercaya malinggih Ida Bhatara yang memberikan kesejahteraan dan kebijaksanaan bagi masyarakat.
“Kalau secara logika, di perahu tersebut tersimpan bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, kalau mencari amerta dan kebijaksanaan, di sinilah tempatnya,” ungkapnya.
Sementara itu, karena sang nahkoda pergi ke Dalem Ped, maka Wijaya mengatakan Dalem Ped merupakan pura yang tepat untuk mohon “taksu” kepemimpinan.
“Kalau mencari, kekuatan, ketegasan, wibawa, dan hal-hal yang berhubungan dengan kepemimpinan, di Dalem Ped-lah tempatnya. Kedua tempat ini tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Bertalian dengan kisah itu, Wijaya mengatakan bahwa Pura Batu Medau adalah pura tertua di Nusa Penida, yang disusul oleh Dalem Ped.
“Dua Pura ini tidak bisa dipisahkan dan secara pangempon membelah Nusa Penida di tengah-tengah menjadi dua bagian,” jelasnya. Dari Desa Mentigi ke timur merupakan pangempon Batu Medau, sedangkan Kutampi ke barat merupakan pangempon Dalem Ped.
Pada saat upacara pangusaban yang dilaksanakan setiap tahun, keduanya bertemu dan menyatu melaksanakan upacara.
Usaba tersebut dilaksanakan secara bergantian. Jika tahun ini dilaksanakan di Pura Batu Medau, maka tahun depan dilaksanakan di Pura Dalem Ped.
Demikian pula Ida Bhatara dari pura yang ada di seluruh Nusa Penida berkumpul di tempat pelaksanaan Usaba.
Menariknya, keberadaan I Renggan ternyata disebutkan pula dalam lontar Kutara Kanda Purana Dewa Bangsul yang menjadi acuan keberadaan Pura Pucak Bukit Gumang, Bugbug, Karangasem.
Dalam lontar tersebut dikisahkan bahwa I Renggan tinggal di daerah Biasmuntig atau Nusa Penida.
I Renggan kemudian melahirkan I Gotra, dan I Gotra memohon panugrahan di Bukit Byaha agar keturunannya, I Macaling bisa menguasai seluruh Nusa dan mendapat upeti setiap tahun.
Hal tersebut dijelaskan oleh I Wayan Terang Pawaka, salah satu tokoh Desa Pakraman Bugbug. ***
Editor : I Putu Suyatra