BALI EXPRESS, DENPASAR - Acara Bali Mandara Mahalango mendekati setengah waktu penyelenggaraan. Satu persatu pentas seni berkualitas mulai muncul. Memberi hiburan sekaligus siraman jiwa. Kali ini giliran Gamelan Suling Gita Semara yang menyajikan ‘Nata Hati’. Keindahan yang ditampilkan Gambelan Suling Gita Semara itu membuat penonton yang hadir di Taman Budaya, Denpasar, Selasa malam (1/8) terpesona
Pementasan gamelan suling Gita Semara dari Br. Tengah Kangin Peliatan, malam itu menampilkan beberapa karya di antaranya Sanghyang Sekar, Rare Angon, Rare Jenar, Bulan Kepangan (Dongeng Malam Indah), Hredaya, Kendang Mebraya dan Jaya Baya. Namun, keseluruhan penampilan ini disebut dengan penampilan Nata Hati.
Koordinator pementasan, I Wayan ‘Pacet’ Sudiarsa Me-Nata menjelaskan bahwa hati sebagai sebuah jalan untuk menemukan pengalaman tentang Rasa dan juga jati diri. Menurut Pacet, hati ketika diibaratkan dengan lentera dan sinar di dalam lentera menjadi bagian yang tidak berfisik. “Lentera ibarat badan kasar sedangkan sinar, menjadi roh daripada lentera,” tegas Pacet.
Bagi Pacet, sama halnya dengan kehidupan ini, setiap benda maupun makhluk hidup memiliki rohnya sendiri. Ketika seseorang mampu untuk menghayati lebih dalam dan selanjutnya digunakan sebagai sebuah proses berkehidupan. “Semuanya bermuara pada sebuah pengalaman hidup yang menuntun kita lebih dalam untuk memasuki sebuah pengalaman tentang Rasa,” jelas Pacet.
Menurut Pacet, hal yang sama berlaku juga dengan perilaku berkesenian, yang akan hambar tanpa berkarya. Karena bagi seorang seniman, karya adalah ruhnya, dan juga sebagai sebuah pernyataan atas kehidupannya. “Karena seni adalah pengalaman tentang Rasa, yang mendorong setiap ungkapan seni menjadi Indah,” urai Pacet.
Pengamat Seni Kadek Wahyudita menilai bahwa dari sisi musik yang dibawakan sangatlah bagus. Hanya saja aksi panggung masih agak kurang. “Wajar karena pementasan ini sesungguhnya full musik, sedangkan pada hari ini tidak digunakan sajian full musik apresiasi pengamat seni,” jelasnya.
Bagi Wahyudita pementasan ‘Nata Hati’ merupakan satu dari beberapa pementasan yang memang layak untuk standar pementasan Bali Mandara Mahalango. Hanya saja, Wahyudita memberi beberapa catatan dalam pementasan ini. Diantaranya, sebaiknya karya-karya yang ditampilkan merupakan karya-karya baru. Sehingga menghindari pengulangan pementasan. “Saya lihat tadi ada satu karya yang ditampilkan pernah juga ditampilkan pada pementasan Mahalango tahun lalu,” tutur Wahyudita.
Editor : I Putu Suyatra