BALI EXPRESS, DENPASAR - Bija atau mabija menjadi salah satu bagian proses akhir dari sembahyang bagi umat Hindu di Bali.
Bila sudah mengenakan beras rendaman di kening dan tempat lainnya di badan atau sudah menggunakan bija, itu berarti sembah bhakti seseorang telah rampung menurut Hindu Bali.
Lantas, apa sejatinya makna mabija atau bija bagi umat Hindu di Bali?
Mabija adalah menstanakan benih benih kesucian, yakni kesucian dalam pikiran, ucapan dan hati, sehingga menjadi tindak yang indah dan baik di setiap langkah dalam kehidupan.
Demikian ditegaskan Brahmacaria Indra Udayana dari Ashram Gandhi Puri kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.
"Bija itu kan biji bijian, juga unsur utama dalam kehidupan, dan berhubungan dengan Sri Laksmi, " beber pria yang didapuk menjadi duta gong perdamaian ini.
Bija terbuat dari beras utuh, lonjong sempurna, yang melambangkan lingga, stana Siva Mahadeva.
Di samping juga melambangkan alam semesta.
Indra Udayana yang baru saja datang dari menemani dua sulinggih matirtha yatra ke India ini, mengatakan, sebaiknya bija dengan beras terpilih, yang utuh tidak terpotong.
Bija berasal dari Bahasa Jawa kuna yakni vija (Sansekerta). Vija juga dikaitkan dengan kata (pranava) Om, sebagai nama utama dari Tuhan. Om juga disebut vijaksara, sebagai aksara Brahman yang tertinggi.
Mabija juga bermakna menumbuhkembangkan benih ke-Siwa-an dalam diri seseorang, yang juga berarti menumbuhkan sifat kedewataan agar mampu mengatasi sifat keraksasaan.
"Mabija dilakukan setelah mathirta, ibarat hendak menanam benih, ladangnya harus bersih dulu, agar benih itu bisa tumbuh dan berkembang ," urainya.
Dalam manusia terdapat sifat kedewataan (Daiwi-sampat) dan sifat keraksasaan yang disebut Asuri-sampat.
Tempat pemakaian bija mempunyai makna yang berbeda.
Berikut Posisi, Makna dan Doa Penempatan Bija bagi Umat Hindu di Bali:
1. Di Kening
Bila diletakkan di kening tujuannya agar terfokus pada hal-hal yang suci.
Doa yang digunakan saat menaruh bija di kening adalah
"Om Shriyam Bawanthu,"
Artinya: Semoga cerdas atas anugerah Hyang Widhi.
Memakai bija di kening berarti memuja Tuhan dalam wujud Omkara.
Hal ini juga berarti konsentrasi pikiran menuju kesempurnaan Tuhan.
Orang yang memakai bija diharapkan dapat mewujudan perilaku sattvika, pengasih, dan bijaksana.
2. Di Dada
Bija yang diletakkan di dada dimaksudkan agar bersemayam kesucian
Doa penempatan bija di dada:
"Om Sukham Bhawanthu",
Artinya: Semoga mendapatkan kebahagiaan atas anugerah Hyang Widhi.
3. Ditelan
Bija yang ditelan bermakna bahwa kita menanam benih-benih kesucian dalam diri.
Selain itu, juga untuk memperoleh anugerah kemakmuran.
Doa saat menelan bija:
"Om Purnam Bhawanthu, Om ksama sampurna ya namah swaha",
Artinya: Semoga mendapat kesempurnaan dan pengampunan dari Hyang Widhi.
4. Di Ubun-ubun
Di ubun-ubun diletakkan simbol pertemuan Ardhanareswari atau Siwa Uma, di lelata atau antara dua alis pertemuan jnana dan idep, dan di dada merupakan pertemuan antara dewa dan atma.
Ketiganya disebut tri tatwa, siwa tattwa,widya tatwa, atma tatwa.
4. Di Pangkal Tenggorokkan, Pangkal Leher Belakang, di Bawah Daun Telinga Kiri dan Kanan
Penempatan bija di pangkal tenggorokan dimaksudkan untuk menguatkan kundalini, yakni tujuh cakra di dalam tubuh.
Ketujuh cakra itu memengaruhi fungsi biologis dan fisiologis tubuh.
Salah satu cakra adalah cakra Ajna yang terletak di kedua alis.
Cakra ajna adalah petemuan tiga pembuluh, yaitu ida, pinggala, dan susumna.
Pertemuan ketiganya ini disebut Triveni.
Pembuluh ida (pembuluh bulan) yang dingin mengalir dari bagian kanan cakra Ajna dan berbelok menuju lubang hidung sebelah kiri, semantara pinggala (pembuluh matahari) yang hangat mengalir dari bagian kiri Ajna dan berbelok ke lubang hidung kanan.
Ida membawa hawa dingin dan aktif pada malam hari, sedangkan pinggala membawa hawa panas yang aktif pada siang hari.
Oleh sebab itu, seseorang yang sehat akan menghembuskan udara yang agak hangat dari lubang hidung kanannya, sementara dari lubang hidung kirinya akan terhembus udara yang agak dingin.
Dalam kaitannya dengan pemakaian bija di kening, seseorang diharapkan mampu mengaktifkan energi dari ketiga pembuluh tersebut untuk menciptakan kesehatan yang baik.
Mengutip Siva Samhita 113, jika seseorang mampu berkonsentrasi pada Ajna, makhluk-makhluk seperti yaksa, gandharva, kinnara, dan apsara akan mematuhi perintahnya.
Sementara peletakan bija di pangkal leher belakang diyakini untuk menolak bahaya, di daun telinga bawah kiri-kanan adalah untuk mengendalikan panca indra. ***
Editor : I Putu Suyatra