BALI EXPRESS, CANGGU - Pemilihan pekarangan dengan teliti perlu dilakukan agar nantinya dalam membangun, bisa mendatangkan manfaat bagi si empunya rumah. Bagaimanapun, pekarangan adalah awal dari pembangunan, sehingga patut dipertimbangkan secara matang. Namun, jangan kesampingkan cara mengukur tradisional yang telah diwariskan.
Setelah mendapat pekarangan yang sesuai, dilanjutkan dengan pengukuran. Pada zaman dahulu, masyarakat Bali mengenal ukuran sikut satak, sikut domas, dan sebagainya. Sikut satak jika dikonversi ke dalam pengukuran modern melebihi dari empat are. Ukuran tersebut tidak pasti karena berdasarkan perhitungan tradisional dengan ukuran tangan atau kaki, seperti depa, agemel (segenggam), anguli (satu ruas jari telunjuk bagian tengah), atapak batis (setelapak kaki), dan sebagainya. Oleh karena itu, ukuran tersebut sesuai dengan orang yang mengukur. Sebenarnya, jika pun ukuran sikut satak tersebut hendak digunakan di zaman modern, tidak ada masalah selama luas pekarangan mencukupi. Namun, jika pekarangan terbatas atau sempit, maka akan menjadi kendala.
Namun demikian, agar pembangunan di pekarangan yang sempit dapat dilakukan dengan tidak mengesampingkan ukuran-ukuran tradisional,
Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika mengatakan, tetap ada jalan keluarnya. Ia mencontohkan seperti rumahnya sendiri yang terletak di kawasan perumahan Canggu, Kuta Utara. Meski dibangun dalam areal yang cukup sempit, namun ia tidak mengesampingkan ukuran-ukuran secara tradisional.
Tahap pertama yang perlu diperhatikan adalah arah mata angin atau konsep hulu teben. Jika di daerah yang datar, masyarakat cenderung menggunakan konsep arah mata angin. Namun, jika di pegunungan, cenderung berpatokan pada letak areal yang lebih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan acuan masyarakat di beberapa daerah di Bali. Namun demikian, perbedaan pandangan tersebut, lanjut Pinandita Pasek Swastika, tidak perlu didebatkan, karena keduanya mengandung unsur kebenaran.
Pinandita Pasek Swastika menjelaskan, setelah pekarangan diukur, maka pekarangan tersebut dibagi empat dengan menarik dua garis yang berpotongan pada tengah-tengah pekarangan. “Perpotongan itu disebut dengan catuspata sebagai pusat pekarangan yang biasanya dijadikan halaman atau natah, tempat menghaturkan segehan,” ungkapnya.
Jika menggunakan arah mata angin sebagai patokan, maka garis tersebut ditarik dari pertengahan sisi utara ke pertengahan sisi selatan dan pertengahan sisi timur ke pertengahan sisi barat. Sedangkan jika yang digunakan patokan adalah ketinggian atau gunung, maka garis ditarik dari permukaan yang lebih tinggi ke rendah dan satu garis lagi ditarik menyamping. Dengan perpotongan tersebut, maka akan terdapat empat bagian yang sama. Bagaimana dengan tanah yang bentuknya tidak persegi sama sisi? Pengukuran tetap bisa dilakukan dengan penyesuaian agar ditemukan titik tengah pekarangan.
Setelah dibagi menjadi empat, Pinandita Pasek melanjutkan, diberikan nama untuk masing-masing bagian yang sesuai mata angin tersebut, yakni Sri pada bagian timur laut (kaja kangin), Aji pada bagian tenggara (kelod kangin), Rudra pada bagian barat daya (kelod kauh), dan Kala pada bagian barat laut (kaja kauh). Bagi yang berpatokan pada gunung, maka dapat disesuaikan. Adapun masing-masing bagian tersebut memiliki peruntukan, yakni Sri untuk areal mrajan, Aji untuk areal rumah, Kala untuk tempat palinggih Panunggun karang, dan Rudra untuk areal teba, yakni pembuangan atau bisa dimanfaatkan sebagai areal garasi, tempat saka pat, gazebo, dan sebagainya.
Bagi masyarakat yang membeli rumah sudah dalam bentuk jadi dan tidak sesuai dengan perhitungan tersebut, maka oleh Pinandita Pasek dikatakan dapat melakukan penyesuaian. Dalam hal ini, yang terpenting adalah posisi sanggah, kamar tidur, penunggun karang dan teba jangan sampai tertukar. Misalnya, jika tidak bisa mendirikan sanggah, sementara bisa menggunakan plangkiran yang diletakkan di bagian Sri.
Langkah selanjutnya, perlu dipilih letak pintu masuk pekarangan yang sesuai. Bagaimana jika bangunannya bertingkat? Pinandita Pasek mengatakan tidak masalah. Misalnya mrajan diletakkan di lantai dua, maka pembagiaannya pun tetap sama. “Hanya saja secara etika, jalan masuk ke mrajan jangan dari dalam rumah, tapi dibuatkan jalan khusus di luar ruangan,” ungkapnya.
Setelah itu, mulai dilakukan pengukuran tata letak fondasi.
Dikatakan Pinandita Pasek, dalam pembangunan fondasi, ada pakem tradisional yang masih bisa diterapkan sesuai Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi. Yang perlu dicatat, adalah ukuran yang digunakan berdasarkan ukuran kepala keluarga. Pertama, fondasi rumah hendaknya lebih tinggi dari jalan, sehingga nantinya air dari jalan tidak masuk ke pekarangan. Dipercaya bahwa jika air jalan sampai masuk ke pekarangan, penghuni rumah akan tertimpa berbagai masalah, seperti sakit, sial, dan sebagainya.
Adapun perhitungan tersebut menggunakan sikut gemel (genggam). Perhitungannya adalah satu gemel disebut candi, diperuntukkan bagi tinggi fondasi mrajan, dua gemel disebut watu, untuk fondasi rumah, tiga gemel disebut segara untuk sumur, empat gemel disebut gunung untuk pagar, dan lima gemel disebut runtuh. Ukuran ini tidak disarankan atau harus dihindari untuk tinggi fondasi. Agar lebih mudah, disarankan olehnya ukuran gemel kepala rumah tangga dikonversi menjadi ukuran sentimeter terlebih dahulu, sehingga lebih mudah dalam pengukuran.
Namun demikian, tinggi gemel tersebut biasanya dicari kelipatannya. Misalnya untuk mrajan 11 gemel, rumah delapan gemel, dan sebaginya. Yang jelas, fondasi bangunan yang tertinggi adalah fondasi mrajan, dilanjutkan panunggun karang, rumah, dan terakhir yang paling rendah adalah teba. Oleh karena itu, meskipun rumah bertingkat, ukuran tersebut tetap digunakan. Misalnya pada lantai atas dibangun mrajan, kamar tidur, dan taman, maka tata ketinggian fondasi tetap diatur sedemikian rupa.
Jika sudah selesai dilakukan perhitungan yang matang, maka dilanjutkan dengan upacara ngaruwak karang yang dipimpin oleh sulinggih atau pamangku dengan upakara atau banten. Pinandita Pasek menyebutkan, upakara pangruwak ada beberapa bagian. Adapun yang dihaturkan di Sanggah Surya adalah pajati daksina tipat kelanan dan asaban cendana angen tirta. Di bawah sanggah surya dihaturkan segehan agung dan mancawarna. Sedangkan di lubang fondasi berupa canang genten lima tanding plus kwangen yang setiap tanding diletakkan di masing-masing lubang dan di tengah-tengah. Selanjutnya nasi kepel dan nasi warna masing-masing satu tanding dan canang sari, durmanggala, klungah nyuh gadang, tumpeng bang satu buah, penek putih dua buah, ayam biying pinanggang, pasucian dan pras alit, serta sampyan andong dan panyeneng. Di samping upakara tersebut, diperlukan pula “bata dasar” yang nantinya dipendam. Bata ini bisa diperoleh dari sulinggih.
Menurutnya, upacara ngaruwak dilaksanakan agar bangunan kelak mendapat anugerah oleh Tuhan, serta kokoh secara niskala. Prosesi ngaruwak dapat dilaksanakan oleh pemilik bangunan atau dibantu oleh pamangku undagi/tukang bangunan yang akan melaksanakan pembangunan tersebut. Atau, jika tidak mengerti, bisa dengan tuntunan sulinggih atau pamangku. Langkah-langkah ngaruwak adalah diawali dengan membuat lubang fondasi. Sediakan bata dasar yang dimohonkan ke hadapan sulinggih atau sudah di-rajah dan di-pasupati. Tepat di arah timur laut ditancapkan Sanggah Cucuk/surya. Pada saat ngaruwak, bata dasar tersebut diletakkan di sebelah kanan Sanggah Surya dengan posisi lebih rendah sedikit.
Selanjutnya pamangku akan mulai melakukan puja stawa dengan upakara yang sudah diletakkan di Sanggah Surya. Setelah itu dilakukan pembersihan areal upacara dan tempat bangunan dengan byakaon dan prayascita. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pacaruan ayam biying. Setelah selesai menghaturkan semua upakara, durmanggala yang ada di lubang fondasi diangkat. Lubang fondasi kemudian dibersihkan secara simbolis dengan cawan, cincin, keris, dan ranting dadap bercabang tiga diiringi mantra pangruwak.
Bata dasar selanjutnya diperciki tirta dan dilakukan purwa daksina (berjalan melingkar searah jarum jam) terhadap lubang fondasi tiga kali. Semua caru kemudian diletakkan di lubang dan di atasnya diletakkan bata dasar dan ditumpuk dengan durmanggala. Dilanjutkan dengan pemercikkan tirta dan air klungah nyuh gading pada lubang fondasi. Terakhir, semua anggota keluarga melakukan persembahyangan di depan sanggah Surya dan nunas wangsuhpada dari Sanggah Surya tersebut. Apabila tersisa, wangsuhpada disiramkan ke lubang fondasi.
Editor : I Putu Suyatra