Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Misteri Pura Dalem bagi Umat Hindu Bali

I Putu Suyatra • Kamis, 7 September 2017 | 16:00 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASRA - Pura merupakan tempat ibadah bagi penganut agama Hindu, khususnya yang ada di Bali. Jenis dan fungsinya pun beragam, seperti halnya Pura Dalem yang erat kaitannya dengan urusan kanuragan, termasuk bagi penekun Ilmu Pangleakan.Pura berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti benteng yang berhubungan dengan kerajaan. Namun di Indonesia, khususnya di Bali, pura dikonotasikan sebagai tempat ibadah. Untuk pusat kerajaan, cenderung disebut puri.
Saking banyaknya pura yang ada , maka Bali dijuluki Pulau Seribu Pura.  Selain banyak jumlahnya, pura juga beragam jenisnya. Salah satu jenis atau golongannya adalah pura Kahyangan Tiga. Sesuai penyebutannya, pura Kahyangan Tiga terdiri atas tiga pura, yakni Pura Desa, Puseh, dan Dalem. Sesuai konsep Tri Murti, Pura Desa adalah stana Tuhan yang bermanifastasi sebagai Dewa Brahma dengan kekuatan penciptaan. Selanjutnya Pura Puseh sebagai stana Dewa Wisnu dengan kuasa pemelihara. Sementara Pura Dalem merupakan stana Dewa Siwa dengan kuasa pelebur.

Baca Juga: Pura Kanda Pat Sari; Dikenal Bares, Ada Empat Sumur untuk Malukat
Menariknya, di Bali sendiri, ada banyak jenis Pura Dalem pula. Namun secara umum, Pura Dalem ada dua jenis, yakni yang menjadi bagian Kahyangan Tiga dan yang tidak. Kebanyakan Pura Dalem yang selain bagian Kahyangan Tiga merupakan bagian dari sejarah penguasa pada masa lampau. Seperti diketahui, gelar ‘Dalem’ adalah gelar bagi bangsawan yang secara umum berasal dari Jawadwipa. Yang sama adalah, secara umum keturanan raja yang disebut trah Dalem adalah penganut ajaran Siwa. Pada zaman itu, ajaran di Nusantara terdiri atas dua ajaran, yakni Siwa dan Buddha.
Khusus untuk Pura Dalem Kahyangan Tiga, keberadaannya erat dengan setra atau kuburan dan Pura Prajapati. Menurut Jro Mangku Dr. Made Subagia, SH., M.Fil.H, berdasarkan Lontar Siwa Tattwa, Pura Dalem , Prajapati, dan Setra tidak bisa dipisahkan. Ketiganya merupakan satu kesatuan. “Itulah bagian dari satu kesatuan , karena  Prajapati dan Pura Dalem bagian dari konsep purusa lan pradana,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.
Dijelaskan pinisepuh perguruan Siwa Murti Bali tersebut, Ida Hyang Bhatari Durga berstana di Pura Dalem sebagai unsur  pradana. Selanjutnya di Prajapati berstana Ida Hyang Siwa Brahma Prajapati sebagai unsur Purusa. “Sedangkan Setra adalah tempat penyatuan atau penunggalan energi  positif  dan negatif  Siwa Ludra lan Durga Berawi ,” jelasnya.
Jika kedua kekuatan yang mahadahsyat tersebut menyatu, menurut Jro Mangku Subagia, akan tercipta keharmonisan dan kedamaian di dunia. Ini adalah lambang kehidupan. Ketika dua unsur berbeda, namun berpasangan menyatu, maka akan ada penciptaan. “Dengan demikian, setra dipakai pusat atau centre ngerehang rangda dan barong, termasuk pangliakan,” jelasnya.
Hal itu dikarenakan, ajaran liak atau leak bersumber dari kekuatan Siwa-Durga yang disatukan. Konon dalam waktu-waktu tertentu, kekuatan purusa Siwa dan kekuatan pradana Durga menyatu pada tempat yang paling dianggap angker, yakni pamuhunan atau tempat pembakaran mayat di setra. Dengan demikian, bagi orang-orang yang mengamalkan ajaran pangliakan atau pangleakan, akan mencari waktu yang tepat tersebut untuk melakukan pemujaan di setra sehingga mendapat anugerah kekuatan dari Siwa-Durga.
Lebih lanjut, Jro Mangku Subagia yang merupakan pemilik klinik Ngurah Medical Centre, Kebo Iwa, tersebut, menjelaskan, letak Pura Dalem cenderung di Selatan desa adat atau desa pakraman karena menurut pangideran Panca Brahma, Dewa Brahma sebagai penguasa di arah Selatan. Hal ini kembali terkait dengan Siwa Brahma Prajapati. Dengan demikian, umumnya masyarakat Hindu di Bali saat meninggal, jasadnya akan dibakar di setra. Sesuai ajaran Siwaistik, ketika seseorang meninggal, diharapkan atmanya bisa menyatu dengan Siwa.

Baca Juga: Pura Kanda Pat Sari; Sembahyang Boleh Menghadap ke Segala Arah
Lalu, bagaimana dengan Pura Dalem Puri yang ada di Besakih? Akademisi IHDN Denpasar tersebut menyatakan, Pura Dalem Puri berbeda dengan Pura Dalem kahyangan , sehingga letaknya tidak berdekatan dengan setra dan Prajapati. “Pura Dalem Puri ini adalah hulunya Pura Dalem Kahyangan Tiga, yang ada di setiap desa pakraman di Bali,” terangnya.
Dengan demikian, ia mengatakan, jika melangsungkan upacara nuntun dewa pitara ke pura pemujaan keluarga, yang biasa disebut merajan, tidak harus ke Dalem Puri. “Itu sesungguhnya tidak mutlak harus ke Pura Dalem Puri,” tegasnya.
Dijelaskan praktisi Ilmu Leak tersebut, Pura Dalem Puri Besakih tergolong pura yang merupakan stana saktinya atau kekuatan magis religiusnya dari Dewa Siwa yang disebut dengan Uma Dewi atau Dewi Durga. “Karena itu pintu masuk Pura Dalem Puri ini berhadap-hadapan dengan pintu masuk Pura Penataran Agung Besakih yang berbentuk Candi Bentar,” jelasnya.
Dikatakannya, umat Hindu di Bali yang cenderung menonjolkan Siwa Siddhanta, percaya bahwa roh orang yang telah meninggal itu semuanya disimbolkan menuju alam gaib yang disebut Para Loka. “Roh yang baik itu disimbolkan dan diterima di Pura Dalem Puri. Inilah simbol Sorga,” tandasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#setra #hindu #denpasar #pura #Pura Dalem #dewa siwa #Prajapati