DENPASAR, BALI EXPRESS - Mantra suci "Om" telah menjadi pusat perhatian dalam praktik spiritual Hindu, diucapkan dengan penuh penghormatan dalam sembahyang dan meditasi. Namun, mengapa "Om" begitu dominan dalam ruang bhakti berdharma umat Hindu?
Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata dari Griya Taman Giri Candra Batubulan, Gianyar, Bali, memberikan wawasan yang mendalam tentang pentingnya "Om" dalam kehidupan spiritual.
Ia menjelaskan bahwa "Om" adalah bija mantra yang mewakili semua bija mantra lainnya, yang jumlahnya mencapai ratusan.
Dengan hanya mengucapkan "Om," seseorang dapat menghubungkan diri dengan Tuhan, asalkan dilakukan dengan keyakinan yang kuat.
Meskipun "Om" memiliki peran penting, mengapa ada begitu banyak lafalan mantra lainnya? Sira Mpu menjelaskan bahwa manusia memiliki keinginan dan niat yang beragam, dan para pendeta dan jro mangku memiliki kewajiban menghafal berbagai mantra sesuai paham mereka.
Namun, semua mantra ini pada akhirnya bermuara pada "Omkara." Bagi mereka yang mampu menghafal mantra lain dengan benar, itu diperbolehkan, tetapi pengucapannya harus dilakukan dengan penuh penghormatan dan kepatuhan pada tata cara yang benar.
Selain itu, Sira Mpu juga menjelaskan perbedaan antara mantra, sloka, dan saa dalam konteks Hindu Bali.
Ia menggarisbawahi pentingnya bhakti, atau bhakti yang tulus, dalam pengucapan mantra.
Mantra "Om" memiliki banyak fungsi, termasuk pengendalian, perlindungan, dan mendekatkan diri dengan Paramaatman.
Selain itu, pengucapan "Om" dapat digabungkan dengan pranayama untuk menjaga kesehatan fisik dan jiwa.
Untuk menguasai teknik pengucapan yang tepat, pernafasan yang baik, dan meditasi, Sira Mpu memberikan panduan yang sangat berguna.
Berikut penjelasan detailnya:
Mantra “Om” senantiasa diucapkan oleh umat Hindu dalam sembahyang dan berdoa. Kerap juga diucapkan berdiri sendiri atau sebagai awal dan akhir dari suatu lantunan mantra. Kenapa "Om" begitu dominan mengisi ruang bhakti berdharma umat Hindu?
Secara lebih luas, umat Hindu menyebut aksara “Om” dengan Omkara, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan Ongkara.
Menurut beberapa sumber, jika aksara Ongkara dibedah, maka semuanya melambangkan Panca Maha bhuta.
Nada simbol Bayu, angin, atau bintang, Windu merupakan simbol Teja, api, surya/ matahari, Arda Candra merupakan simbol Apah, air, atau bulan, Angka telu melambangkan Akasa, langit, ether; dan Tarung/tedong melambangkan Pertiwi, bumi, tanah.
Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata mengungkapkan, mantra “Om” adalah bija mantra. Mantra “Ong” merupakan penyatuan dari semua bija mantra, seperti Dwi Aksara Ang-Ah, Tri Aksara Ang-Ung-Mang, Panca Aksara Sang-Bang-Tang-Ang-Ing, sampai Dasa Aksara Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang.
“Bahkan sampai Satak (200) Aksara, intinya adalah Omkara,” ujarnya.
Menurutnya, seperti sabda Shri Krishna dalam Bhagawadgita, dinyatakan bahwa di antara aksara suci Akulah Omkara.
“Omkara itulah penunggalan yang mewakili semua aksara suci atau mantra-mantra yang ada. Bahkan dengan mengucapkan mantra Om saja, kita sudah bisa connect atau menghubungkan diri dengan Tuhan, asal kita meyakini bahwa aksara tunggal itu bisa bermanfaat bagi kehidupan dan membahagiakan pengucapnya,” terangnya.
Lalu mengapa ada lafalan mantra lainnya, apakah mantra “Om” belum cukup? Sira Mpu mengatakan pada dasarnya manusia punya keinginan atau niat untuk menguasai lebih daripada Omkara sesuai tujuan yang lebih spesifik.
Apalagi para pendeta dan jro mangku memiliki kewajiban menghafal berbagai mantra sesuai paham yang diyakininya.
“Itu pun bukan digunakan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk kepentingan umat,” ujarnya.
Sesungguhnya, lanjutnya, semua mantra itu berasal dan bermuara pada Omkara. Jadi, yang lainnya itu bagaikan anak, cucu, dan sebagainya.
Namun demikian, Sira Mpu mengatakan tergantung individu. Kalau memang mampu menghafal mantra yang lain selain Omkara, asal diucapkan dengan baik dan benar, tidak apa-apa.
“Tetapi kalau hanya asal-asalan menghafal, tidak tahu hukum bagaimana membaca sebuah mantra dengan baik dan benar, tidak ada manfaatnya,” ungkapnya.
Lebih baik menurutnya mengucapkan satu mantra atau satu bija mantra, khususnya bagi para walaka atau penekun spiritual atau satu bija mantra, karena itu lebih cepat menghubungkan kepada Yang Universal atau Tuhan itu sendiri.
“Jadi, tidak ada larangan bagi siapapun yang belajar mantra yang lebih. Yang penting kita tahu makna dan tata cara pengucapannya,” jelasnya.
Sira Mpu asal Griya Taman Giri Candra Batubulan tersebut, juga mengatakan hendaknya umat bisa membedakan antara mantra, sloka, dan saa.
Kalau sudah menyebut mantra, Sira Mpu mengatakan, sesungguhnya berasal dari Catur Weda, yakni Rig Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda.
“Semua mantra itu memang dimulai dengan “Om” oleh yang mengucapkan. Padahal kalau kita teliti di Catur Weda, tidak semua mantra dimulai dengan “Om”,” ungkapnya.
“Tapi kita sendiri yang menambahkan, agar selalu ingat kepada Yang Maha Tunggal, karena mantra “Om” adalah panunggalan,” jelasnya.
Sira Mpu menjelaskan, tarik nafas terlebih dahulu, tahan sebentar, buka mulut sedikit dan ucapkan “Om” dengan perlahan.
Saat mengeluarkan nafas dengan mantra Omkara, kita bisa membayangkan pada perut ada api dengan mantra Ang di sana. Kemudian di dada seperti mesin dengan mantra Ung yang berupa uap air.
Terakhir di ubun-ubun terasa seperti getaran saat mengucapkan “M”. Di sana ada aksara Mang berupa udara. Jika dipelankan, maka ucapannya menjadi AUM.
Idealnya dengan pengucapan 108 kali atau satu untaian ganitri mantra “Om” kita sudah keluar keringat dengan catatan pranayama dengan baik dan sikap padmasana atau Bajrasana.
“Secara sendirinya cakra akan bergerak dan putarannya ke kanan. Sesungguhnya di dunia ini tidak ada satu pun guru yang mengaku bisa membangkitkan atau memperbaiki cakra. Itu semua tidak bisa. Kalau hanya mengarahkan bisa,” tegasnya.
Mengenai tata cara pengucapan mantra, apakah dalam hati, berbisik, atau mengeluarkan suara, Sira Mpu mengatakan semuanya baik sesuai situasi dan kondisi.
“Kalau dalam meditasi pengucapan dalam hati manfaatnya full karena terfokus. Koneknya lebih cepat,” ujarnya.
Selanjutnya kalau untuk kesehatan, lanjutnya, sebaiknya diucapkan tapi jangan terlalu keras dan jangan pula tidak kedengaran. Karena dengan nafas dan pengucapan
“Om”, bisa merasakan energi yang masuk dan keluar dari tubuh.
“Sesungguhnya energi yang masuk adalah energi positif dan yang keluar adalah energi negatif, seperti detoksifikasi. Sebenarnya dengan olah pernafasan dan pengucapan mantra Omkara, kita sedang mengeluarkan racun dari dalam tubuh,” jelasnya.
Sedangkan pengucapan dengan suara yang standar biasanya diperuntukan untuk umat, supaya mereka bisa mengikuti.
“Bahkan kalau umatnya banyak, bisa digunakan toa,” ungkapnya.
Sira Mpu menjelaskan, semestinya dalam proses pembelajaran kepada umat, pendeta atau jro mangku mengucapkan lebih dulu mantra, kemudian diikuti oleh umat. Dengan demikian, ketiga metoda pengucapan beliau katakan sebenarnya bernilai tinggi, asalkan didasari tulus ikhlas dan penuh bhakti.
“Tapi, kalau dari segi rasa, yang tanpa diucapkan itu cenderung untuk konek lebih cepat dengan Beliau. Jadi bagus untuk meditasi pribadi,” terangnya.
Di Bali terdapat berbagai jenis Ongkara dengan berbagai fungsi masing-masing, seperti Ongkara Gni, Ongkara Sabdha, Ongkara Amritha, Ongkara Pasah, dan Ongkara Adu-mukha.
Ongkara tersebut biasanya digunakan dalam rarajahan. Di samping itu, mantra-mantra nusantara, khususnya Bali, cenderung menggunakan bija mantra Ongkara daripada Omkara.
Pun dalam penulisan sesuai aksara Bali, Ongkara ditulis dengan hulu candra yang menghasilkan suara “ng”, sedangkan jika ingin menulis Omkara menggunakan hulu ricem.
Beberapa pihak masih mendebatkan hal tersebut. Belakangan ini bija mantra Omkara sepertinya lebih populer diucapkan oleh umat daripada Ongkara, namun dalam rarajahan tentunya tetap menggunakan Ongkara.
Editor : I Putu Suyatra