BALI EXPRESS, AMLAPURA - Pura Bukit di Desa Bukit, Karangasem, diperkirakan dibangun sekitar tahun 1.600 atau saat zaman Kerajaan Karangasem. Secara kasat mata, arsitektur beberapa bangunan di pura ini berbeda dibandingkan pura pada umumnya di Bali. Hal itu, erat kaitannya dengan sejarah keberadaan pura tersebut.
Pengempon pamucuk Puri Bukit adalah Puri Karangasem, dibantu 13 desa adat pangempon yang tersebar di wilayah Karangasem. Yakni Desa Adat Bukit, Jumeneng, Seraya, Basangalas, Tiyingtali, Sekar Gunung, Batugunung, Kertawarah, Ujung, Kebon, Bungaya, Asak, serta Desa Adat Timbrah. Luas areal pura, dari madya mandala hingga utama mandala mencapai 60 are. Adalah Ida Bhatara Alit Sakti yang berstana di pura tersebut.
Karya di pura setempat seharusnya pada purnama kapat nemu beteng. Hanya saja, belakangan malah diubah menjadi purnama kalima. Rencanannya, karya bakal disesuaikan dengan perwatekan awal, yaitu purnama kapat nemu beteng, mulai tahun ini, yang jatuh pada 5 Oktober 2017.
Sebagaimana penuturan AA Bagus Mahaputra Sanjaya dari Puri Madhura, Karangasem, untuk mengembalikan ke karya awal, rentetan upacaranya hampir sama dengan usai rehab atau membangun pura baru. Yaitu karya agung ngenteg linggih lan nubung daging.
Mahaputra Sanjaya mengakui, pihak Puri Karangasem harus mengembalikan piodalan ke purnama kapat nemu beteng setelah berulang kali mendapat pawisik serta berbagai jenis kejadian. Misalnya, beberapa keturunan puri tertimpa musibah. Tak jarang berujung meninggal dunia. Hal itu beberapa kali terjadi mendekati karya di pura setempat. Sehingga, upacara yang sedianya dilaksanakan tiap tahun ini sering batal digelar karena cuntaka.
Terakhir kali, karya di pura setempat digelar pada 1992 silam. “Sudah ratusan tahun piodalan digelar purnama kalima. Karena ada pawisik itu, sepakat mengembalikan sesuai dengan piagam,” ujar Mahaputra Sanjaya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), belum lama ini.
Disinggung terkait sejarah berdirinya pura itu, dia menegaskan bahwa hal itu erat kaitannya dengan keberadaan Puri Karangasem. Konon, pada zaman Kerajaan Karangasem, raja pertama dikarunia empat orang keturunan. Tiga putra dan seorang putri. Putri tunggal ini marabian dengan Ida Bhatara Gunung Agung, dan melahirkan seorang putra. Sejak lahir, putranya ini sudah berbeda dengan bayi pada umumnya. Saat usianya baru satu tahun, namun tingkah lakunya layaknya anak berusia tujuh tahun. Sudah bisa berjalan dan lancar berbicara. “Bisa dibilang manusia setengah dewa,” imbuh Anak Agung Gede Peter Karang dari Puri Kerthasura, Karangasem.
Ditemui di sela-sela persiapan upacara 5 Oktober nanti, mereka menuturkan bahwa cucu raja tersebut meminta dibuatkan tempat tinggal di bukit atau lokasi pura saat ini. Sebagai cucu raja, dibuatkan tempat tinggal layaknya orang-orang puri. Hanya saja, fasilitas mewah itu malah ditolak. Uniknya, tempat tinggal yang dibuatkan itu juga sering terbakar.
“Akhirnya dibuatkan bale gaduh atau bale lantang ada undagannya. Bangunan inilah keinginan beliau,” terang Mahaputra Sanjaya.
Saat upacara mlaspas bale kala itu, cucu raja ini melakukan perjalanan naik bukit bersama ibunya. Dalam perjalanan, mereka menemukan dahan Kayu Kepel, yang kemudian dipakai tongkat sang ibu naik ke sana. Sampai di lokasi pura saat ini, keduanya melesat, memancarkan cahaya, lalu menghilang. Mereka diyakini mencapai moksa. Tongkat kayu kepel yang saat itu ditancapkan pun tumbuh subur sampai sekarang.
Kayu Kepel yang tumbuh di utama mandala itu kini menjadi pohon sakral dan bertuah. Tak sedikit, orang-orang nunas daun pohon Kepel yang berguguran tersebut. Mereka percaya, daun pohon Kepel itu bisa melindungi dari bahaya. Banyak juga pamedek memohon 'sesuatu' (hal yang terkait urusan niskala) di sana.
Sebelum Kerajaan Karangasem ekspansi ke Lombok, terlebih dulu nangkil ke pura tersebut. Mohon petunjuk. Dari sana mendapat petunjuk agar mengirimkan 40 orang pasukan atau lebih dikenal dengan Soroh Petang Dasa Seraya. Mereka inilah yang menaklukkan kerjaan di Lombok. Tak hanya itu, saat menyerbu, daun kayu Kepel itu juga berguguran. Daunya terbang ke Lombok bak kupu-kupu kuning ngiring Soroh Petang Dasa. Setelah peperangan usai, di pura setempat dibangun palinggih pangayengan Ida Bhatara di Gunung Rinjani, Gunung Pengsong, dan Pura Lingsar. “Banyak orang yang percaya, hanya dengan nunas atau mengumpukan daun kayu Kepel ini dapat pamargi, tapi kembali lagi kepada kepercayaan dan tergantung Ida Bhatara sane malinggih driki,” tambah
Anak Agung Gede Peter yang akrab disapa Gung Peter.
Gung Peter yang lama di Jerman ini pun nunas dauh kayu Kepel itu. “Iya, saya percaya, ini bisa untuk keselamatan juga,” tandas putra mantan Bupati Karangasem AA Gde Karang itu.
Editor : I Putu Suyatra