Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengharmoniskan Perilaku dengan Alam,Mencari Surga dengan Wariga Belog

I Putu Suyatra • Sabtu, 16 September 2017 | 16:51 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, GIANYAR - Wariga merupakan perhitungan hari menurut orang Bali.  Lebih komplek daripada perhitungan hari biasa yang berlaku secara nasional atau internasional. Oleh karena itu, wariga biasanya tercantum dalam kalender Bali.
Namun demikian, wariga Bali sangat detail. Dengan mengetahui dan memahami perhitungan wariga, maka seseorang bisa memiliki pertimbangan dalam mengambil keputusan. Seperti Wariga Belog, yang dikembagkan oleh Ida Pedanda Nyoman Temuku dari Griya Cebang Giri Kesuma, Payangan, Gianyar. 

Perhitungan Wariga  Belog yang unik ini benar-benar detail, sehingga tak heran, banyak tokoh-tokoh nasional, maupun tamu asing yang tertarik untuk mempelajari.
Ida Pedanda Nyoman Temuku saat ditemui  Bali Express (Jawa Pos Group) di pasraman  bernama unik, ‘Gubuk Derita di Gua Hantu, Kamis (14/9) lalu,  mengungkapkan, dirinya menekuni wariga sudah sejak tahun 1975. Lansia kelahiran 11 September 1948 tersebut, mengaku melanjutkan riset dari pelajaran wariga yang diwariskan griya secara turun-temurun, lanjut mengembangkannya. “Dari belajar, karena saya putus sekolah. Melanjutkan riset dari duwe. Waktu itu kalau makan dan mau sekolah sampai di manapun, biaya dari rumah cukup. Tapi perasaan tidak mau tenang, tidak mau happy,” ungkapnya yang memilih berhenti di kelas VIII.
Ida Pedanda yang sempat mengembara keliling Bali hingga Nusa Lembongan tersebut, mengatakan, meski sudah puluhan tahun mempelajari wariga, hingga kini belum tuntas.  “Saya belajar wariga dari 9 September 1975, sampai detik ini belum clear, belum selesai. Belum pernah mempelajari yang lain,” ujarnya.
Pasalnya, kata dia, dirinya tak sekadar mempelajari perhitungan waktu, namun siklus kehidupan manusia, yang tidak bisa lepas dari pikiran, perasaan, dan tindakan. “Yang saya pelajari adalah suatu siklus, mengapa manusia sudah bekerja, sudah berusaha, sudah punya banyak, tapi rasa happy tidak ada,” jelasnya.
Di dalam konsep perhitungan wariga ditemukannya, jangankan orang berpendidikan, orang tak berpendidikan pun ingin perubahan untuk hari esok. Menurutnya, tidak ada manusia hidup dua kali. Oleh karena itu, hendaknya manusia memanfaatkan hak hidup yang telah diberikan oleh leluhur maupun Tuhan. “Mengapa orang lain mampu, kita tidak? Tidaklah benar keterbatasan kita limpahkan ke orang lain, tapi kepada diri sendiri. Kita lahir sama-sama, kita kurang apa, belajarlah, demikian akhirnya yang saya temukan,” lanjutnya.
Demikian pula, kata Ida Pedanda yang masa mudanya sempat menjadi kernet dan tukang bakar mayat ini menyatakan, yang sudah lalu, biarlah berlalu. Yang perlu dikoreksi adalah hari ini. Selanjutnya, beranikah kita mengambil keputusan berdasarkan pikiran? Langkah dan kesimpulannya bagaimana? “Itu saja. Sekarang dan hari esok saja sudah susah,” ujarnya.
Kini, lanjut Ida Pedanda, dirinya sudah agak paham tentang wariga tersebut, namun masih menyusun modul agar masyarakat lebih mudah belajar.
Dijelaskannya, wariga merupakan perhitungan ilmu perbintangan. Yang digunakan sebagai penanda adalah matahari, jarak bintang dan bulan. percaya atau tidak, ketiganya berpengaruh terhadap manusia. Secara makro, menurut wariga, ada 210 karakter manusia, mulai dari Redite (Minggu) wuku Sinta sampai dengan Saniscara (Sabtu) Watugunung. Dari 210 perbedaan, diperas menjadi 12 kelompok neptu, yakni urip tujuh sampai dengan 18. Selanjutnya, 12 urip tersebut kembali bisa diperas menajdi empat kelompok, yang dinamakan Catur Bekel Kauripan, yakni hak dan kewajiban manusia. Bagiannya adalah Guru, Ratu, Lara, dan Pati yang mempengaruhi baik-buruknya hari tertentu terhadap seseorang.  Untuk mencari perhitungan Catur Bekel Kauripan, harus digabungkan antara urip alam dengan manusia itu sendiri kemudian dibagi empat. Dengan demikian, akan ditemukan sisanya.
Ida Pedanda yang gemar menghisap rokok kretek dan menghirup kopi hitam tersebut bertekad terus mempelajari wariga, karena ingin mencari jati diri. “Siapa sebenarnya diri kita? Supaya jangan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Jadi, mencari rasa percaya diri lebih tegas,” terangnya.
Mengapa namanya Wariga Belog? Karena Belog itu perilaku orang Bali, yakni tidak ada yang mau mempublikasikan kepintarannya. Secara nasional, Belog merupakan singkatan dari ‘Benar dengan Logika. Sedangkan dalam bahasa Inggris, BelogL merupakan singkatan Behavior (tingkah laku), Environment (alam/lingkungan), and Logos, yang bermakna harmonisasi perilaku manusia dengan alam. “Kalau matahari terbit dari pagi, mau ada manusia yang memperhatikan atau tidak, tetap dia jalan. Tapi kita sebagai manusia, kalau tidak memperhatikan perilaku alam, kita akan kiamat, kita akan kacau,” tegasnya.
Dengan demikian, dijelaskannya, Belog yang dimaksud bukan bodoh, namun kembali ke kesadaran diri untuk mau belajar. “Jadi bukan belog ini, bukan belog lengeh. Makanya sebenarnya, belajar belog lebih sulit dibandingkan dueg (pintar). Kalau sudah dueg, tidak perlu belajar, sudah bisa,” sindirnya.
Lalu , apa perbedaan dengan wariga yang tercantum dalam kalender Bali kebanyakan? Sebenarnya, kata Ida Pedanda, secara umum isinya sama dengan kalender Bali kebanyakan. Hanya saja, kalender Bali kebanyakan bersifat text book yang disalin dari lontar. Jadi, isinya yang terungkap dalam lontar tidak dilebihkan dan dikurangi. Misalnya, ada hari boleh melakukan upacara perkawinan, menanam, membeli hewan ternak, bisnis, dan sebagainya. “Lalu, apakah yang bersangkutan bisa mendapat hak untuk melakukan itu, apakah berkembang yang dilakukannya, tidak ada di kalender umum. Di sini ada,” jelasnya.
Oleh karena itu, setiap hari tertentu, ada manusia yang cocok terhadapnya. Ada pula yang tidak cocok. Dengan demikian bekal hidup berupa, guru, ratu, lara, dan pati bisa dipahami. Jika di kalender kebanyakan, misalnya dicantumkan boleh menikah pada hari tertentu. Tapi jika dicari lebih detail melalui Wariga Belog, tidak bisa segampang itu. “Siapa yang punya hak pada hari itu? Istri atau suami, atau keduanya tak dapat,” ujarnya.
Apalagi, lanjut Ida Pedanda yang mendapat penghargaan dari dunia internasional tersebut, perkawinan adalah hal yang sangat sakral. Pasalnya, dengan perkawinan kita bisa memperbaiki peruntungan dan kualitas diri. “Jika jelek di waktu kelahiran, bisa diubah di waktu kawin. Kalau bagus waktu kelahirannya, bagaimana cara mindset kita, supaya utuh kebaikan itu. Itu tidak ada di kalender umum. Jadi, mengilmiahkan pikiran dengan kata-kata, mengilmiahkan kata-kata dengan langkah. Jika program kita sudah balance dan tenang, selanjutnya berani ndak mengambil keputusan? Bisa berkembangkah program itu?” paparnya.
Dengan demikian, kata Ida Pedanda yang beristrikan Ida Pedanda Istri Agung Istri Agung tersebut, dirinya memang tidak menggunakan wariga tersebut untuk bercocok tanam berupa tumbuhan, melainkan menanam benih dalam jiwa dan pikiran, sehingga bisa berkembang dengan baik. “Saya tidak menggunakan untuk menanam tanaman, tapi bagaimana menanam benih pikiran? Bisa berkembangkah langkah kita sekarang? Ini banyak riset,” tegasnya.
Dikatakannya, hidup sebagai manusia adalah sangat istimewa, dibandingkan makhluk hidup lainnya. Pasalnya, manusia bisa mengubah dan menetapkan sesuatu. Tumbuh-tumbuhan bisa hidup, meski kadang cuaca panas dan kadang lembap, namun dia tak pernah mengeluh. “Mengapa kita sebagai manusia, lincah, pintar, bisa membedakan ini mahal, ini murah, ini jelek, ini enak, dan bisa memilih, jangankan berbuah, berbunga saja susah. Jauh kalah, karena menggunakan insting secara instan. Sekarang memikirkan agar sekarang jadi, tidak memikirkan sebab akibat,” bebernya.
Dengan demikian, ia menyatakan, sangat penting memahami hidup dan memiliki tujuan hidup. “Tujuan hidup, kita mencari kebebasan. Keterbatasan kita jangan dilimpahkan ke orang lain, seperti keluarga, bahkan tetangga. Belajarlah membuka diri dan menilai kekurangan kita. Kalau mencari surga saat kematian, tidak mungkin, logika tidak bisa menjawab itu. Mana mungkin manusia yang sudah tidak punya rasa lapar dan haus bisa merasakan baik dan buruk. Carilah surga waktu hidup,” ungkapnya.
Lalu bagaimana dengan upakara, apakah cukup untuk bisa mengubah seseorang atau menutupi kekurangannya? Ia menjawab tidak. “Walau misalnya sejuta kali malukat, tidak akan bisa berubah. Yang terpenting, pahami diri dan pikiran. Manajemen diri dulu dipelajari. Tidak cukup hanya tiga tahun untuk mempelajari ini,” jelasnya 

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar #sulinggih