BALI EXPRESS, DENPASAR - Kemiri, salah satu buah yang biasanya digunakan sebagai sumber minyak dan rempah rempah. Namun di Bali, Kemiri yang juga disebut Tingkih, menjadi sarana pelengkap upacara, selain dijadikan sarana pengobatan tradisional.
Dalam perspektif Ayur Weda, golongan tumbuh-tumbuhan dibagi menjadi empat jenis, yakni Wanaspati, yakni tumbuhan yang berbuah, Wanaspatya ( tumbuhan berbunga dan berbuah), tumbuhan menjalar (Wirut), dan Osadhi, yakni tumbuhan yang setelah berbuah sekali langsung mati.
"Buah Kemiri merupakan golongan Wanaspatya karena tumbuhan yang memiliki bunga dan buah," ujar Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Ayur Weda UNHI, Ir. I Nyoman Prastika, M.Si kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (20/12/2016) lalu.
Lebih lanjut dijelaskan Prastika, tidak diketahui dengan tepat asal-usulnya Kemiri. Tumbuhan ini menyebar luas mulai dari India dan Cina, melewati Asia Tenggara dan Nusantara, hingga Polinesia dan Selandia Baru. Di Indonesia, Kemiri dikenal dengan banyak nama, di antaranya Kembiri, Gambiri, Hambiri (Batam), Kemili (Gayo), Kemiling (Lampung), Kareh (buah keras, Minangkabau), dan Tingkih (Bali)
Kemiri (Aleurites moluccana), adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam suku Euphorbiaceae. Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai Candleberry, Indian walnut, serta Candlenut. Pohonnya disebut sebagai Varnish atau Kukui Nut. Minyak yang diekstrak dari bijinya berguna dalam industri untuk digunakan sebagai bahan campuran cat.
Kemiri terutama ditanam untuk mendapatkan bijinya. Di mana, setelah diolah, sering digunakan dalam masakan Indonesia dan masakan Malaysia. Di Pulau Jawa, Kemiri juga dijadikan sebagai saus kental yang dimakan dengan sayuran dan nasi. Kemiri memiliki kesamaan dalam rasa dan tekstur dengan Macadamia yang juga memiliki kandungan minyak yang hampir sama. Kemiri juga dibakar dan dicampur dengan pasta dan garam untuk membuat bumbu masak khas Hawaii yang disebut Inamona (bumbu masak utama untuk membuat poke tradisional Hawaii).
Meskipun dapat menghasilkan kayu yang berukuran besar, kayu Kemiri dianggap terlalu ringan dan tidak awet sebagai kayu bangunan. Kayu Kemiri dapat digunakan untuk membuat furnitur, peralatan kecil, korek api, dan juga untuk pulp. Dahulu banyak yang memanfaatkan kayu Kemiri untuk membuat perabotan rumah tangga, sampan sederhana atau untuk kayu bakar yang bermutu rendah. Dan, dapat juga diolah menjadi papan dan kerajinan tangan.
Di Bali, Kemiri sering kita jumpai saat pembuatan sarana upacara keagamaan. Penggunaan Kemiri bisa kita lihat penggunaanya pada banten Pajati. Kemiri diletakkan bersamaan dan dalam satu tempat dengan telur, kelapa, beras, dan lain sebagainya. "Kemiri yang digunakan dalam banten Pajati ini merupakan simbol Purusa, Kejiwaan, atau Laki-laki. Dari segi warna merupakan simbol ketulusan dan juga merupakan simbol bintang manifestasi Hyang Widhi sebagai Hyang Tranggana," imbuh Prastika.
Prastika menerangkan, selain dalam banten Pajati, penggunaan Kemiri atau Tingkih dalam prosesi keagaman Hindu, juga terdapat pada upacara Tabuh Rah. Tabuh Rah merupakan taburan darah binatang yang digunakan untuk Yadnya, biasanya menggunakan ayam sebagai persembahanya dengan cara diadu sampai salah satu mengeluarkan darah. Sebelum ayam yang akan dijadikan persembahan ini diadu, didahului dengan diadunya Kemiri atau Tingkih yang merupakan simbol bintang. "Jadi, maknanya sama saja dengan yang ada pada Pajati, namun tempatnya saja yang berbeda," imbuhnya.
Dalam perspektif Ayur Weda juga dijelaskan, selain merupakan golongan tumbuhan berbunga dan berbuah (Wanaspatya), Tingkih merupakan golongan tanaman yang menghasilkan energi panas di dalamnya. "Lantaran panas, dalam pengobatan tradisional tingkih banyak difungsikan sebagai boreh atau lulur yang digunakan untuk menghangatkan tubuh," tutup Prastika.
Editor : I Putu Suyatra