BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam persembahyangan, selain nunas Tirtha, kita juga nunas Bija (mabija atau mawija). Bija atau Wija di dalam bahasa Sansekerta disebut gandaksata yang berasal dari kata 'ganda' dan 'aksata', yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi.
Wija atau Bija secara sastra terdapat di dalam Lontar Sundarigama. Wija atau Bija berasal dari kata 'biji'. Sementara Wija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau Wija Bhatara Siwa. Pada hakikatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah biji atau benih ke-Siwa-an atau Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang.
Mawija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri orang. Sehingga disarankan Wija menggunakan beras galih, yaitu beras yang utuh, tidak patah (aksata). “Alasan ilmiahnya, beras yang pecah atau terpotong tidak akan bisa tumbuh,” ujar Drs. Ida Bagus Putu Sudarsana, MBA.MM yang kini bergelar Bhiseka, Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Wija biasanya dibuat dari biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. Kadangkala juga dicampur kunyit (Curcuma Domestica VAL) sehingga berwarna kuning. Pembuatan Bija yang dicampur kunyit ini dikenal dengan nama Bija Kuning, yang biasa digunakan saat prosesi upacara Pengabenan. Dimana, disepanjang perjalanan menuju setra (kuburan), Bija Kuning akan dilemparkan di jalanan. Dengan harapan perjalanan menuju setra selalu dilancarkan, baik secara sekala maupun niskala.
Dalam menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an atau Kedewataan dalam tubuh, tentu meletakkannya juga tidak sembarangan. Ibaratnya menumbuh kembangkan tananam buah, kita tidak bisa menamamnya sembarangan, haruslah di tanah yang subur.
“Maka dari itu, menaruh Bija di badan manusia ada aturannya, agar dapat menumbuhkembangkan sifat kedewataan atau ke-Siwa-an dalam diri,” jelasnya.
Di dalam agama Hindu, dikenal dua jenis wija atau Bija. Yang pertama adalah Bija Panugrahan. Bija panugrahan adalah bija yang didapat pada saat persembahyangan di suatu tempat suci atau pura. Bija ini tidak dimantrai oleh siapa pun sehingga disimbolkan sebagai anugerah yang diberikan Tuhan kepada umatnya.
Yang kedua adalah Bija Pangarga, adalah bija yang didapat dari sebuah upacara yang dilaksanakan. Di mana Bija Pangarga ini merupakan Bija yang dimanterai oleh seoarang Pemangku atau Sulinggih. Bija ini biasanya digunakan saat upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. “Kedua jenis Bija ini memiliki bentuk dan rupa yang sama, yang membedakan hanya tujuan penggunaan dan proses pembuatannya saja,” ujarnya.
Ida Pedanda Gde Manara Putra menuturkan, Bija hendaknya diletakkan pada titik-titik yang peka terhadap sifat dari kedewataan atau ke-Siwa-an. Dan, titik-titik dalam tubuh tersebut ada lima yang disebut Panca Adisesa. Yaitu, di pusar yang disebut titik Manipura Cakra. Di hulu hati (padma hrdaya) zat ketuhanan diyakini paling terkonsentrasi di dalam bagian padma hrdaya ini (hati berbentuk bunga tunjung atau padma). Titik kedewataan ini disebut Hana hatta Cakra. Di leher, di luar kerongkongan atau tenggorokan yang disebut Wisuda Cakra. Di dalam mulut atau langit-langit. Di antara dua alis mata yang disebut Adnya Cakra. Sebenarnya letaknya yang lebih tepat sedikit di atas, di antara dua alis mata itu. Pada umumnya dikarenakan ketika persembahyangan dalam sarana pakaian lengkap tentu tidak semua titik-titik tersebut dapat dengan mudah diletakkan bija. Maka cukup difokuskan pada tiga titik yaitu, Pada Adnya Cakra, sedikit di atas, diantara dua alis.
Tempat ini dianggap sebagai tempat mata ketiga (cudamani). Penempatan Bija di sini diharapkan menumbuhkan dan memberi sinar-sinar kebijaksanaan kepada orang yang bersangkutan. Yang kedua pada Wisuda Cakra, di leher diluar kerongkongan atau tenggorokan. Sebagai simbol penyucian dengan harapan agar mendapatkan kebahagiaan. Di mulut, langsung ditelan jangan digigit atau dikunyah. Alasannya ? Kalau dikunyah beras itu akan patah dan akhirnya tak tumbuh berkembang sifat kedewataan manusia.Sebagai simbol untuk menemukan kesucian rohani dengan harapan agar memperoleh kesempurnaan hidup.
Dikatakannya, kurang tepat menaruh Bija selain pada tiga titik-titik yang telah disebutkan. Karena titik-titik yang lain dalam tubuh kurang peka terhadap sifat kedewataan atau Tuhan yang ada dalam diri manusia. Sehingga, cukup sulit menumbuh kembangkan sifat Kedewataan dalam diri.
Editor : I Putu Suyatra