Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Penataran Sasih, Tempat Mitos Bulan Jatuh dan Dikencingi Pencuri

I Putu Suyatra • Rabu, 27 September 2017 | 23:29 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, PEJENG - Bulan Pejeng adalah sebuah genderang (Nekara) perunggu yang dipercayai orang Bali memiliki kekuatan supranatural. Nekara ini terletak di Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar. Genderang ini dianggap suci, bahkan diceritakan tidak dibuat oleh manusia, melainkan jatuh dari langit. Bagaimanakah mitosnya?


Bulan Pejeng atau Nekara ini diperkirakan dahulunya dipergunakan dalam upacara meminta hujan. "Banyak legenda tentang Nekara ini, salah satunya adalah bahwa Nekara ini dahulu merupakan roda dari kereta langit yang menyebarkan sinar terang, sehingga  pada malam hari selalu terang benderang,"  ujar penjaga Pura Penataran Sasih, I Wayan Buda kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (2/1) lalu.
Pada Nekara tersebut ditemukan hiasan kodok. Dalam budaya pertanian, kodok merupakan simbol air, juga terkait fungsi Nekara sebagai sarana pemujaan untuk memohon hujan. 
Nekara ditabuh dan suaranya menyerupai petir akan keluar untuk mengundang datangnya  hujan.
Dijelaskan Buda, legenda lain mengatakan bahwa Nekara ini adalah perhiasan telinga dari Dewi Ratih (Dewi Bulan dalam mitologi Bali). Menurut penuturan kuna, diceritakan bahwa dahulu kala ada 13 bulan di atas bumi. Pada suatu hari salah satu bulan ini jatuh dan tersangkut di ranting pohon. "Sinar yang dipancarkan bulan ini sangatlah terang sehingga tidak ada pencuri yang berani mencuri di malam hari," tandasnya. 
Namun, pada suatu ketika para pencuri itu berunding dan mereka bersepakat untuk memadamkan bulan itu. Salah satu dari mereka memanjat pohon itu, dan dengan air kencingnya ia berusaha memadamkan bulan  yang diliputi lidah-lidah api. Seketika itu juga bulan akhirnya meledak dan salah satu pecahan bulan itu menjadi Nekara bulan di Pejeng. Kerusakan yang ada di balik Nekara itu juga diceritakan berasal dari ledakan itu. Namun, tidak diketahui secara pasti bagaimana asal mula Nekara tersebut. 
Di samping terkenal dengan mitos Bulan Pejeng, Pura Penataran Sasih juga terkenal dengan tarian sakralnya, Sang Hyang Jaran. 
Di mana penarinya biasanya dengan mata terpejam mengobrak-abrik bara api yang terhampar di areal tersebut. Ia menari dalam keadaan trance, diiringi dengan gending sanghyang. Tapi tarian tersebut hanya dipentaskan jika ada upacara besar di pura tersebut. Tarian ini biasanya dibawakan oleh empat penari yang ditunjuk seketika di sekitar arena. "Siapapun  yang ditunjuk, tanpa  disadari tubuhnya akan bergerak sendiri di luar kesadarannya. Tapi, biasanya yang terkena tunjuk kebanyakan  warga setempat atau ada juga orang luar yang memang berniat bersembahyang, " tutup Buda. 

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar #hindu #pura #sejarah pura