Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Bulan Pitung Dina Dilakukan di Tiga Titik, Ini Maknanya

I Putu Suyatra • Jumat, 29 September 2017 | 19:27 WIB
Upacara Bulan Pitung Dina Dilakukan di Tiga Titik, Ini Maknanya
Upacara Bulan Pitung Dina Dilakukan di Tiga Titik, Ini Maknanya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bali terkenal dengan berbagai macam adat dan kebudayaan, sehingga  banyak pula upacara yang tercipta dengan berbagai  makna,   mulai dari sebelum bayi lahir hingga meninggal. Salah satunya adalah upacara Bulan Pitung Dina atau Tutug Kambuhan. Bagaimana makna dan uniknya ritual ini?


Tutug Kambuhan adalah upacara pembersihan jiwa seorang bayi dari berbagai pengaruh roh jahat oleh masyarakat Bali. Upacara yang dibeber dalam  lontar Dharma Kahuripan ini, selain untuk bayi,  juga untuk ibunya, yakni pembersihan noda dan kotoran ( sebel kandel) atau perbuatan tercela yang telah dilakukan. "Upacara ini sebagai wujud rasa terima kasih kepada Nyama Bajang karena telah menjaga bayi dalam kandungan. Upacara Tutug Kambuhan juga disebut dengan Bulan Pitung Dina atau Macolongan," ujar Pimpinan Yayasan Dharma Acarya, Drs. Ida Bagus Putu Sudarsana yang setelah medwijati bergelar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran saat diwawancarai, Senin (2/1)




Lebih lanjut dijelaskan, upacara Tutug Kambuhan dilaksanakan saat bayi berusia 42 hari dengan perhitungan mengikuti wuku atau  ketika sudah berumur  6 minggu. Pada usia 42 hari, tali pusar bayi  sudah putus, lapisan kulit yang tipis sudah berganti, peredaran darah dan konsumsi makanan sudah lancar sehingga keringat, air mata, ludah, kencing, dan kotoran sudah keluar. Sementara  bagi sang ibu, aliran kotor dalam rahim sudah berhenti dalam kurun enam minggu.
Upacara ini termasuk upacara manusia yadnya yang artinya upacara yang dilakukan untuk dan kepada manusia (bayi dan ibunya). Bagi masyarakat Bali, upacara ini wajib dilaksanakan karena memiliki urgensi yang besar. Upacara Tutug Kambuhan dipimpin oleh seorang pendeta atau sulinggih dan dilaksankan di rumah.
Adapun tiga lokasi yang menjadi titik sentral dilaksanakannya upacara adalah di dapur, sebagai tempat pemujaan atau persembahan terhadap Dewa Brahma. Kedua, di tempat pemandian, sebagai tempat pemujaan atau persembahan terhadap Dewa Wisnu, dan titik ketiga dilaksanakan di Sanggah Kamulan, sebagai tempat pemujaan atau persembahan terhadap Dewa Siwa.
Upacara Tutug Kambuhan didahului dengan melaksanakan upacara Panyepihan. Panyepihan berasal dari kata 'sapih' atau nol. Hal ini bermakna untuk mengembalikan bayi dan orang tua ke titik nol atau tanpa dosa. "Upacara ini memiliki tujuan agar bayi dan orang tuanya bersih, sehingga dapat memasuki tempat suci," tandasnya
Panyepihan ini dilaksanakan di dapur dan di sumur atau tempat pemandian. Dapur merupakan tempat berstana Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta. Dengan harapan bayi dan orang tuanya diberikan panglukatan oleh Dewa Brahma agar kembali bersih. Selanjutnya adalah di tempat pemandian atau sumur. Sebagai stana Dewa Wisnu, diharapkan bayi dan orang tuanya mendapat panglukatan dari Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara. Setelah melalui prosesi ini, bayi dan orang tuanya dapat memasuki Merajan atau tempat suci.
Setelah itu, upacara dilanjutkan di Merajan. Kenapa  dilaksanakan di Merajan, bukan di bale delod atau bale dangin? Hal ini mengacu kepada upacara Manusa Yadnya. Pada saat upacara Bulan Pitung Dina, yang dihaturkan persembahan adalah siapa yang reinkarnasi pada si bayi. Hal itu tak lain adalah leluhur si bayi yang berstana di Merajan. Maka dari itu, pelaksanaan upacara ini tepatnya dilaksanakan di Merajan. Uniknya, saat pelaksanaan upacara ini disertai dengan tradisi macolongan yang disimbolkan dengan dua ekor ayam pitik.  "Namun, sangat tidak disarankan melaksanakan upacara ini saat ibu si bayi masih mengeluarkan darah pasca kelahiran," imbuhnya.
Namun, bila  yang bersangkutan hanya melaksanakan upacara Bulan Pitung Dina saja tidak disertai dengan upacara Panyepihan, maka tidak diperkenankan melaksanakan upacara ini di Merajan, melainkan di Bale Dangin atau Bale Delod karena yang bersangkutan masih dalam cuntaka (sebel).
Upacara ini dimulai dengan pembacaan doa oleh pendeta. Pendeta mengahaturkan sesajian yang berfungsi sebagai instrumen pembersihan dan kesucian bayi yang dilahirkan. Tujuan sesajian dihaturkan adalah memohon kesejahteraan, kesuksesan, dan juga perlindungan dari segala marabahaya yang akan dialami bayi pada masa mendatang. Dan, prosesi selanjutnya ialah melakukan Natab dan Dilukat yang juga menjadi bagian integral dari upacara Tutug Kambuhan. "Setelah itu, diakhiri dengan melakukan persembahyangan kepada Sanghyang Widhi Wasa," tutupnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #denpasar #ritual hindu