BALI EXPRESS, DENPASAR - Teluk Benoa berdasarkan keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia nomor 1/Kep/Parisada/IV/2016 Tentang Kawasan Teluk Benoa, disebutkan ini adalah kawasan suci. Selain itu hasil penelitian menyebutkan, ada tiga sastra yakni Babad Bhumi, Babad Tusan Tattwa Kalawasan Petak dan Pangrincik Babad, yang menyebutkan kawasan suci.
Berdasarkan hasil Penelitian Ketua Umum Yayasan Pelestarian Budaya Bali, DR Sugi.B Lanus, yang disertakan dalam hasil Pesamuan juga menyebutkan jika Teluk Benoa merupakan kawasan Suci. Dalam penelitiannya Sugi Lanus menyebutkan jika berdasarkan data historis keberadaan Pulau Serangan, Pura Sakenan dan Teluk Benoa yang masuk sebagai kawasan Seeangan terdapat empat lontar yang menyebutkan tentang Teluk Benoa sebagai Kawasan suci. “Keempat lontar terrsebut adalah, Babad Bhumi, Babad Tusan Tattwa Kalawasan Petak dan Pangrincik Babad,” jelasnya.
Dari data yang paling tua adalah tentang Pura Sakenan yang menyebutkan “Paryangan ring Sakenan Nyjeneng, resi angapit Ghana (627)” Pendirian Sakenan tahun 705 Masehi, selanjutnya adalah Babad Bhumi yang menyebutkan Pura Sakenan dipugar dengan candrasangkala “Sasih angapit lawing” (921) atau 999 Masehi, lontar di Korn Collection, Leiden, menyebutkan bahwa Sakenan dipugar tahun 929 Saka (1007 Masehi). Lontar ini adalah salinan dari lontar koleksi Pedanda Ngurah Blayu.
Dan yang keempat adalah Pura Sakenan direnovasi kembali dengan Candrasangkala “Rsi Mangapit Lawang Tunggal” (1727 Masehi = 1805 Masehi), disebutkan dalam lontar Tattwa Batur Kalawasan, dan juga Lontar Pangrincik babad. “Keempat lontar tersebut menyebutkan eksistensi Sakenan sebagai kawasan terintegritas dengan laut dan teluknya,” lanjutnya.
Selain itu menurut cerita rakyat secara turun temurun, Pura Sakenan dan kawasannnya (Pura Sakenan dan Teluk Benoa), ditata oleh Sri Kesari Warmadesa, yakni pendiri dinasti Warmadesa yang memegang tampuk kekuasaan pada awal masa sejarah Bali.
Peranan pura Sakenan sebagai pulau dan titik Parahyangan (Pura) sangatlah penting mengingat bahwa Pulau dan Teluk Sakenan (sekarang disebut Teluk Benoa) diceritakan sebagai pusat maritime Kerajaan Bali Kuno dan Pelabuhan Kuno yang ramai dengan bentang alam bentang pelabuhan yang sangat strategis untuk perbaikan kapal dan penangkapan ikan terbentang dari Blanjong-Sanur, Sakenan (Serangan), Benoa dan Tanjung.
Selain sebagai pusat Maritim pada masa Bali Kuno, Teluk Benoa dalam hasil keputusan Keputusan pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia juga disebutkan sebagai situs perjalanan suci Dang Hyang Nirartha dan Danghyang Astapaka.
Dalam kekawin Anang Nirartha, salah satu karya Dangyang Nirartha, diceritakan perjalanan suci dari Danghyang Nirartha dan kekaguman Beliau terhadap Teluk Benoa, Pudut dan Sakenan. Adapun isi kekawin tersebut adalah,
Sebuah pulau besar agak dekat dengan pantai, dihadapannya ada muara sungai. Semua itu terlihat bagaikan burung Garuda yang lapar, yang tengah mencari amertha di gunung Somaka. Pulau itu dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang suci, disana-sini mellingkar, bagaikan pasukan para dewa yang siap menunggu kedatangan Garuda. Burung-burung terbang melayang-layang bagaikan panah para dewa yang dilepaskan. Dan aliran sungai bagaikan naga yang akan memagut. Penyu yang berenang kesana-kemari mencari makanan bagaikan cakra yang diputar, senjata yang menjaga tirtha amertha. Tirtha tersebut dijaga oleh Hyang Indra di depan gua sehingga tidak ada orang yang merusak. Bunga kepuh berwarna merah menyala bagiakan api brkobar-kobar meliputinya.
“Syair atau kidung ini adalah kidung kehindahan dan sekaligus menjadi amanat suci untuk menjaga keasrian serta kawasan suci Sakenan dan Teluk Benoa,” paparnya.
Kawasan Suci Serangan dan Teluk Benoa bukan saja situs suci Danghyang Nirartha, tetapi juga untuk Danghyang Astapaka, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Danghyang Astapaka juga tiba di Bali menyusul pamannya Danghyang Nirartha.
Beliau disebut sebagai salah satu tokoh Buddha Tantra yang singgah ke Sakenan dan bermeditasi serta membangun Parhyangan di Sakenan. “Ini terbukti dengan sthana Beliau yang ada di Pura Sakenan, dan tradisi suci Kabuddhan beliau dipercaya lestari sampai kini di Desa Budakeling dimana keturunannya berada sampai sat ini,” ungkapnya.
Hingga setelah dilakukan penelitian penelitian dan Pemetaan Planologi Tim Planologi Mahasiswa UNHI didapatkan 70 titik suci di kawasan Teluk Benoa. (lebih jelas baca grafis).
Ini Dia 70 Titik Suci di Kawasan Teluk Benoa
1. Pura Segara Desa prakraman Serangan
2. Pura Sakenan Wadon
3. Pura Pasamuan Sakenan
4. Pura Sakenan
5. Pura Tirta Arum Desa Pakraman Serangan
6. Pura Prapat Nunggal
7. Pura Segara Pelabuhan benoa
8. Pura Tengah Teluk
9. Pura Dalem Luhur Segara Batu Lumbung
10. Pura Luhur Candi Narmada
11. Pura Griya Tanah kilap
12. Pura Griya Anyar Tanah Kilap
13. Pura Campuhan Kuta
14. Taru Agung
15. Pura Padang Seni Desa Pakraman Tuban
16. Pura Karangasem
17. Pura Taman Citra Arum
18. Pura Dalem Segara Kauh Desa Pakraman Kelan
19. Pura Dalem Tanjung Desa Pakraman Kelan
20. Pura Dalem Batur Satria Mas Dukuh Desa Pakraman Kelan
21. Pura Segara Desa Pakraman Kedonganan
22. Pura Penataran Desa Pakraman Kedonganan
23. Pura Dalem Desa Pakraman Kedonganan
24. Pura Penatahan Desa Pakraman Jimbaran
25. Pura Taman Sari Desa pakraman Tanjung Benoa
26. Pura Suwung Deluang Desa Pakraman Tanjung Benoa
27. Pura Segara Desa Pakraman Tanjung Benoa
28. Pura Gading Sari Desa Pakraman Tanjung Benoa
29. Pura beji Desa Pakraman Tanjung Benoa
30. Pura Gaing-Gaing Desa Pakraman Tanjung Benoa
31. Pura Karang Tengah
Loloan/Sawangan
32. Loloan Kembar
33. Loloan Kelad Mati
34. LoloanNunggak
35. LoloanPudut
36. Loloan Kepah
37. Loloan Delundung
38. Sawangan Cenik
39. Loloan Bualu
40. Sawangan Mumbul
41. Loloan Jimbaran
42. Loloan Muntig Sanggah
43. Loloan Dukuh
44. Loloan Kedonganan
45. Loloan Tuban
46. Loloan Geredeg
47. Loloan Kuta
48. Loloan Candi Narmada
49. Loloan Sanggaran
50. Loloan Batu Api
Muntig
51. Muntig Pura
52. Muntig Kuta
53. Muntig Tuban
54. Muntig Kak Gruak
55. Muntig Kelan
56. Muntig Patujuan
57. Muntig Prapat Menceng
58. Muntig Mumbul
59. Muntig Sanggah Cucuk
60. Muntig Kedutan
61. Muntig Cenik
62. Muntig Ampuhan
63. Muntig Belong
64. Muntig Gundul
65. Muntig Dauh Sawang
66. Muntig Tegeh
67. Muntig Celak Pande
68. Muntig Sambing
69. Muntig Tanggal
Padang Lamun
70. Lamun Tengah
Sumber: hasil Riset dan Pemetaan Planologi Tim Planologi Mahasiswa UNHI
Editor : I Putu Suyatra