Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Dia 70 Titik Suci Teluk Benoa; Tertuang dalam Tiga Babad

I Putu Suyatra • Minggu, 8 Oktober 2017 | 17:42 WIB
Ini Dia 70 Titik Suci Teluk Benoa; Tertuang dalam Tiga Babad
Ini Dia 70 Titik Suci Teluk Benoa; Tertuang dalam Tiga Babad

BALI EXPRESS, DENPASAR - Teluk Benoa berdasarkan keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia nomor 1/Kep/Parisada/IV/2016 Tentang Kawasan Teluk Benoa, disebutkan ini adalah kawasan suci. Selain itu hasil penelitian menyebutkan, ada tiga sastra yakni Babad Bhumi, Babad Tusan Tattwa Kalawasan Petak dan Pangrincik Babad, yang menyebutkan kawasan suci.


 


Berdasarkan hasil Penelitian Ketua Umum Yayasan Pelestarian Budaya Bali, DR Sugi.B Lanus, yang disertakan dalam hasil Pesamuan juga menyebutkan jika Teluk Benoa merupakan kawasan Suci. Dalam penelitiannya Sugi Lanus menyebutkan jika berdasarkan data historis keberadaan Pulau Serangan, Pura Sakenan dan Teluk Benoa yang masuk sebagai kawasan Seeangan  terdapat empat lontar yang menyebutkan tentang Teluk Benoa sebagai Kawasan suci. “Keempat lontar terrsebut adalah, Babad Bhumi, Babad Tusan Tattwa Kalawasan Petak dan Pangrincik Babad,” jelasnya.


Dari data yang paling tua adalah tentang Pura Sakenan yang menyebutkan “Paryangan ring Sakenan Nyjeneng, resi angapit Ghana (627)” Pendirian Sakenan tahun 705 Masehi, selanjutnya adalah Babad Bhumi yang menyebutkan Pura Sakenan dipugar dengan candrasangkala “Sasih angapit lawing” (921) atau 999 Masehi, lontar di Korn Collection, Leiden, menyebutkan bahwa Sakenan dipugar tahun 929 Saka (1007 Masehi). Lontar ini adalah salinan dari lontar koleksi Pedanda Ngurah Blayu.


Dan yang keempat adalah Pura Sakenan direnovasi kembali dengan Candrasangkala “Rsi Mangapit Lawang Tunggal” (1727 Masehi = 1805 Masehi), disebutkan dalam lontar Tattwa Batur Kalawasan, dan juga Lontar Pangrincik babad. “Keempat lontar tersebut menyebutkan eksistensi Sakenan sebagai kawasan terintegritas dengan laut dan teluknya,” lanjutnya.


Selain itu menurut cerita rakyat secara turun temurun, Pura Sakenan dan kawasannnya (Pura Sakenan dan Teluk Benoa), ditata oleh Sri Kesari Warmadesa, yakni pendiri dinasti Warmadesa yang memegang tampuk kekuasaan pada awal masa sejarah Bali.


Peranan pura Sakenan sebagai pulau dan titik Parahyangan (Pura) sangatlah penting mengingat bahwa Pulau dan Teluk Sakenan (sekarang disebut Teluk Benoa) diceritakan sebagai pusat maritime Kerajaan Bali Kuno dan Pelabuhan Kuno yang ramai dengan bentang alam bentang pelabuhan yang sangat strategis untuk perbaikan kapal dan penangkapan ikan terbentang dari Blanjong-Sanur, Sakenan (Serangan), Benoa dan Tanjung.


Selain sebagai pusat Maritim pada masa Bali Kuno, Teluk Benoa dalam hasil keputusan Keputusan pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia juga disebutkan sebagai situs perjalanan suci Dang Hyang Nirartha dan Danghyang Astapaka.


Dalam kekawin Anang Nirartha, salah satu karya Dangyang Nirartha, diceritakan perjalanan suci dari Danghyang Nirartha dan kekaguman Beliau terhadap Teluk Benoa, Pudut dan Sakenan. Adapun isi kekawin tersebut adalah,


Sebuah pulau besar agak dekat dengan pantai, dihadapannya ada muara sungai. Semua itu terlihat bagaikan burung Garuda yang lapar, yang tengah mencari amertha di gunung Somaka. Pulau itu dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang suci, disana-sini mellingkar, bagaikan pasukan para dewa yang siap menunggu kedatangan Garuda. Burung-burung terbang melayang-layang bagaikan panah para dewa yang dilepaskan. Dan aliran sungai bagaikan naga yang akan memagut. Penyu yang berenang kesana-kemari mencari makanan bagaikan cakra yang diputar, senjata yang menjaga tirtha amertha. Tirtha tersebut dijaga oleh Hyang Indra di depan gua sehingga tidak ada orang yang merusak. Bunga kepuh berwarna merah menyala bagiakan api brkobar-kobar meliputinya.


“Syair atau kidung ini adalah kidung kehindahan dan sekaligus menjadi amanat suci untuk menjaga keasrian serta kawasan suci Sakenan dan Teluk Benoa,” paparnya.


Kawasan Suci Serangan dan Teluk Benoa bukan saja situs suci Danghyang Nirartha, tetapi juga untuk Danghyang Astapaka, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Danghyang Astapaka juga tiba di Bali menyusul pamannya Danghyang Nirartha.


Beliau disebut sebagai salah satu tokoh Buddha Tantra yang singgah ke Sakenan dan bermeditasi serta membangun Parhyangan di Sakenan. “Ini terbukti dengan sthana Beliau yang ada di Pura Sakenan, dan tradisi suci Kabuddhan beliau dipercaya lestari sampai kini di Desa Budakeling dimana keturunannya berada sampai sat ini,” ungkapnya.


Hingga setelah dilakukan penelitian penelitian dan Pemetaan Planologi Tim Planologi Mahasiswa UNHI didapatkan 70 titik suci di kawasan Teluk Benoa. (lebih jelas baca grafis).


 


 


Ini Dia 70 Titik Suci di Kawasan Teluk Benoa


1.      Pura Segara Desa prakraman Serangan


2.      Pura Sakenan Wadon


3.      Pura Pasamuan Sakenan


4.      Pura Sakenan


5.      Pura Tirta Arum Desa Pakraman Serangan


6.      Pura Prapat Nunggal


7.      Pura Segara Pelabuhan benoa


8.      Pura Tengah Teluk


9.      Pura Dalem Luhur Segara Batu Lumbung


10.  Pura Luhur Candi Narmada


11.  Pura Griya Tanah kilap


12.  Pura Griya Anyar Tanah Kilap


13.  Pura Campuhan Kuta


14.  Taru Agung


15.  Pura Padang Seni Desa Pakraman Tuban


16.  Pura Karangasem


17.  Pura Taman Citra Arum


18.  Pura Dalem Segara Kauh Desa Pakraman Kelan


19.  Pura Dalem Tanjung Desa Pakraman Kelan


20.  Pura Dalem Batur Satria Mas Dukuh Desa Pakraman Kelan


21.  Pura Segara Desa Pakraman Kedonganan


22.  Pura Penataran Desa Pakraman Kedonganan


23.  Pura Dalem Desa Pakraman Kedonganan


24.  Pura Penatahan Desa Pakraman Jimbaran


25.  Pura Taman Sari Desa pakraman Tanjung Benoa


26.  Pura Suwung Deluang Desa Pakraman Tanjung Benoa


27.  Pura Segara Desa Pakraman Tanjung Benoa


28.  Pura Gading Sari Desa Pakraman Tanjung Benoa


29.  Pura beji Desa Pakraman Tanjung Benoa


30.  Pura Gaing-Gaing Desa Pakraman Tanjung Benoa


31.  Pura Karang Tengah


Loloan/Sawangan


32.  Loloan Kembar


33.  Loloan Kelad Mati


34.  LoloanNunggak


35.  LoloanPudut


36.  Loloan Kepah


37.  Loloan Delundung


38.  Sawangan Cenik


39.  Loloan Bualu


40.  Sawangan Mumbul


41.  Loloan Jimbaran


42.  Loloan Muntig Sanggah


43.  Loloan Dukuh


44.  Loloan Kedonganan


45.  Loloan Tuban


46.  Loloan Geredeg


47.  Loloan Kuta


48.  Loloan Candi Narmada


49.  Loloan Sanggaran


50.  Loloan Batu Api


Muntig


51.  Muntig Pura


52.  Muntig Kuta


53.   Muntig Tuban


54.   Muntig Kak Gruak


55.  Muntig Kelan


56.   Muntig Patujuan


57.  Muntig Prapat Menceng


58.  Muntig Mumbul


59.  Muntig Sanggah Cucuk


60.  Muntig Kedutan


61.  Muntig Cenik


62.  Muntig Ampuhan


63.  Muntig Belong


64.  Muntig Gundul


65.  Muntig Dauh Sawang


66.  Muntig Tegeh


67.  Muntig Celak Pande


68.  Muntig Sambing


69.  Muntig Tanggal


Padang Lamun


70.  Lamun Tengah


 



Sumber: hasil Riset dan Pemetaan Planologi Tim Planologi Mahasiswa UNHI 

Editor : I Putu Suyatra
#denpasar