BALI EXPRESS, DENPASAR - Ketika era obat herbal mulai mendapatkan hati masyarakat, Bali sebenarnya Pulau yang sangat herbal sejak dulu. Terbukti dari beberapa warisan sastra yang menjelaskan tentang obat – obat dari alam atau usadha. Bahkan sampai saat ini masih sangat banyak penekun usadha.
Menurut Penekun Usadha Bali, I Dewa Agung Made Suryawan atau yang lebih dikenal dengan nama Jung Kumis, Usadha berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu ausadha yang berarti tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, atau dibuat dari tumbuh-tumbuhan.
“Tetapi batasan usadha di Bali lebih luas, usadha adalah semua tata cara untuk menyembuhkan penyakit, cara pengobatan, pencegahan, memperkirakan jenis penyakit/diagnosa, perjalanan penyakit dan pemulihannya,” jelasnya.
Usadha Bali ini dijelaskannya adalah ilmu pengobatan tradisional Bali yang dikenalkan oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu Bali atau Siwasidhanta dan ketentuan dari ilmu pengobatan ini diatur dalam beberapa lontar dalam ajaran Agama Hindu.
Adapun Lontar tersebut dikatakan Jung Kumis dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu lontar tutur dan lontar usadha. Di dalam lontar tutur (tatwa) berisi tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara. Ajaran anatomi, phisiologi, falsafah sehat-sakit, padewasaan mengobati orang sakit, sesana balian, tatenger sakit.
Sedangkan di dalam Lontar Usada berisi tentang cara memeriksa pasien, memperkirakan penyakit (diagnosa), meramu obat (farmasi), mengobati (terapi), memperkirakan jalannya penyakit (prognosis), upacara yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan pengobatannya.
Siapa “dokter” dalam usadha Bali? Menurut Jung Kumis, dalam Lontar Bodha Kecapi, yang bertindak sebagai pelaksana praktisi pengobatan dalam Usadha bali dokternya dikenal dengan istilah Balian.
Balian adalah pengobat tradisional Bali yakni, orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit, dalam Usadha Bali, Balian ini dikenal dengan istilah Balian usadha. “Yakni seseorang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui guru waktra, belajar pada balian, maupun belajar sendiri melalui lontar usada,” lanjutnya.
Adapun yang termasuk balian golongan ini adalah tidak terbatas hanya mempergunakan ramuan obat dari tumbuhan saja, tetapi termasuk balian lung (patah tulang), limpun (pijat), uut, manak(melahirkan) dan sebagainya, yang keahliannya diperoleh melalui proses belajar (aguron-guron). Mereka mempelajari masalah penyakit yang disebabkan baik oleh sekala (natural) maupun niskala (supernatural).
Menurut lontar Boda kecapi, dilanjutkan Jung Kumis, disebutkan usada ratuning usada, usada bang dan tutur Bhuwana Mahbah, untuk menjadi seorang balian harus melewati suatu proses pembelajaran dari gurunya (aguron-guron) dan rangkaian upacara/didiksa yang disebut aguru waktra. “Calon balian harus menguasai beberapa ilmu usadha seperti genta pinarah pitu, sastra sanga, Bodha Kecapi dan kalimosada,” paparnya.
Genta pinaruh pitu adalah kemampuan untuk membangkitkan tujuh buah kekuatan yang berasal dari energi tujuh chakra dan kundalini. Sedangkan sastra sanga adalah sembilan sastra/pelajaran yang harus dikuasai, meliputi: darsana agama, tattwa purusha pradana, tattwa bhuwana mahbah, tattwa siwatma, tattwa triguna, dewa nawasanga, wijaksara/bijaksara, kanda pat dan rwa bhineda. Tetapi menurut beberapa lontar (bodha kecapi, cukil daki, gering agung, kalimosada), yang dimaksud sastra sanga adalah sembilan buah aksara suci yang terdiri atas tri aksara, dwi aksara, eka aksra, windu, ardhacandra dan nada.
Selain itu, seorang balian dikatakan Jung Kumis juga harus berpedoman pada beberapa jenis lontar, seperti usadha rare, usdha cukil daki, usada manak, usada kurantobolong, usada kacacar, usada pamugpugan, usada kamatus, usada tiwang, usada kuda, usada sari kurantobolong, usada buduh, usadha boda kacapi dan usada ila
Diantara seluruh lontar tersebut ada dua lontar yang harus dikuasai yakni Lontar Bodha Kecapi dan Kalimosada. “Karena di dalamnya termuat tentang aguru waktra, kode etik balian dan guru, tattwa pengobatan, asal mula penyakit, berbagai jenis obat, aksara suci, sang hyang tiga suwari, tata cara menegakkan diagnosis dan prognosis dan berbagai pengetahuan lainnya,” ungkapnya.
Seperti halnya seorang dokter dalam dunia medis yang harus tamat pendidikan dahulu dan disumpah sebelum mengemban tugas, seorang balian pun sama harus menguasai semua hal tersebut diatas dan sudah melakukan upacara aguru waktra.
Karena jika melanggar atau menjadi balian mengobati penyakit tanpa didasari penguasaan ilmu usadha dan guru waktra, maka akan menerima hukuman secara niskala dan hidupnya sengsara sampai keturunannya.
“Oleh karena itu, berhati-hatilah menjadi seorang balian jangan sekadar mengobati semata mencari uang maupun status sosial. Namun paham tatwa,” tambahnya.
Editor : I Putu Suyatra