Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Yadnya dalam Kehidupan Masyarakat Hindu Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 22 Oktober 2017 | 21:21 WIB
Ini Makna Yadnya dalam Kehidupan Masyarakat Hindu Bali
Ini Makna Yadnya dalam Kehidupan Masyarakat Hindu Bali

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kehidupan umat Hindu Bali tidak saja identik dengan aktivitas persembahyangan ke pura-pura, tetapi dalam ajaran dasar agama Hindu terdiri disebutkan ada tiga hal yakni filsafat, tata susila dan upakara. Ketika dasar pokok ajaran ini merupakan kesatuan yang berfungsi untuk menyempurnakan kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali.


 


Menurut Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari dari Geria Wanasari Sanur, secara filosofis, yadnya yang dimaksud dalam kehidupan masyarakat Hindu adalah bertujuan untuk mengingatkan setiap individu secara konstan bahwa seluruh hidupnya harus diarahkan pada kurban suci. “Spirit yadnya melandasi setiap perbuatannya. Yadnya diciptakan pada awal penciptaan alam semesta,” jelasnya.


 


Lebihlanjut diungkapkan Ida Pedanda, dalam Bhagavadgita III : 9, 10 disebutkan yadnya menyimbolkan suatu penjelajahan dan pendakian spiritual untuk menyatukan potensi atau kekuatan yang bersifat Sattwik (sattvikam yadnya) yang ada dalam diri manusia sesuai dengan kodratnya.


 


Yadnya merupakan aktivitas bersama, bukan aktivitas personal secara material, sehingga yadnya menjadi sumber kehidupan sosial yang harmonis. “Jadi pada tatanan sosial, yadnya merupakan sebuah ritualisasi kehidupan masyarakat,” paparnya.


 


Sementara itu jika dilihat dari etimologi kata, adnya disebutkan Ida Pedanda berasal dari bahasa sansekerta yaitu “YADN” yang berarti memuja, menyembah, berdoa, dan kurban suci. Pemujaan atau penyembahan ditujukan kepada jiwa yang lebih tinggi derajatnya seperti Tuhan dan para Dewa.


 


Adapun kurban suci yang dimaksud dalam Bhagavadgit tersebut ditujukan kepada spirit-spirit atau makhluk yang lebih rendah yang memiliki sifat yang baik maupun yang memiliki sifat buruk. selain itu yadnya bukanlah semata-mata bersifat ritual, tetapi juga tindakan atau kerja simbolis yang dipahami sebagai suatu konsep dalam rangka membuka jalan diri manusia ke arah yang lebih baik.


 


Meski demikian, dalam beberapa sumber dikatakan Ida Pedanda, dalam filsafat Weda, implementasi memiliki tiga tujuan pokok, yakni  menjemput semua anugerah atau karunia atas umat manusia dan seluruh makhluk hidup dengan pertolongan dewa-dewa, mengantarkan kita mendekati dunia Niskala dan kehidupan yang berbahagia dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang.


 


Dan yang terakhir adalah mencapai kebahagiaan abadi, apabila yadnya dilaksanakan dengan tulus dan ikhlas tanpa suatu keinginan apapun untuk meraih buah atau hasilnya dan benar-benar dilakukan dengan ketidak-melekatan, maka yadnya akan mengantarkan orang pada pencapaian mental yang sempurna. “Sehingga berfungsi untuk menghantar seseorang pada jalur kebajikan, dan pada akhirnya kebahagiaan abadi atau tyaga atau kelepasan (Moksha),” papar Ida Pedanda yang memiliki nama Walaka Ida Bagus Wiana ini.


 


Selain dalam masyarakat Hindu di Bali dan di seluruh dunia, Yadnya sebagai sebuah persembahan juga dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia. Di beberapa rumpun bangsa, dikatakan Ida Pedanda, yadnya berfungsi untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan kita melalui kekuatan-kekuatan dewa-dewa. Seperti di antara masyarakat rumpun bangsa Arya(Indo-Eropa), persembahan-persembahan tersebut dan upacaranya dilaksanakan dengan api sebagai media.


 


Fungsi ini dilanjutkannya juga dapat ditemukan pada orang-orang Yahudi dan Romawi Kuno di Benua Eropa, orang-orang Avestik (orang-orang Iran Kuno asal mula orang-orang Persia Modern yang ada di India), dan orang-orang penganut paham Weda yang sekarang dikenal dengan nama orang Hindu.


 


“Jadi Yadnya itu memiliki sifat yang universal, karena makna dari Yadnya itu adalah memberikan persembahan suci dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri manusia,” paparnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #denpasar