Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nampah Kebo, Berawal dari Pesta Rakyat Tahun 1360

I Putu Suyatra • Selasa, 31 Oktober 2017 | 15:15 WIB
Tradisi Nampah Kebo, Berawal dari Pesta Rakyat Tahun 1360
Tradisi Nampah Kebo, Berawal dari Pesta Rakyat Tahun 1360

BALI EXPRESS, TABANAN - Hari Raya Galungan identik dengan tradisi memotong babi atau Mepatung bersama yang biasanya akan dilakukan pada hari Penampahan Galungan atau sehari sebelum hari raya Galungan. Namun hal berbeda ditemui di Banjar Batan Poh, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan, sebab warganya tidak lah memotong babi namun memotong kerbau atau Nampah Kebo.


 


Senin kemarin (30/10), mulai pukul 07.00 krama Banjar Batan Poh sudah disibukan persiapan Nampah Kebo. Kali ini ada 8 ekor kerbau akan disembelih oleh krama Desa Pandak Gede. Menurut Ketua Regu Nampah Kebo, I Made Mertayasa, 54, kerbau disembelih bersama 15 orang dalam satu regu, dimana kerbau yang disembelih adalah kerbau betina dengan berat mencapai 450 kilogram yang dibelinya di daerah Desa Denbantas, Kecamatan Tabanan.


 


Dirinya menambahkan, daging kerbau selanjutnya akan dibagi menjadi 92 ponjokan (bagian,Red) lengkap dengan berbagai bagian tubuh kerbau, seperti jeroan, kulit, tulang, hingga darah. Satu ponjokan dengan berat mencapai 5 hingga 6 kilogram daging dihargai Rp 300.000. “Dan banyak juga dari luar Tabanan yang membeli daging kerbau kesini, ada yang dari Gianyar, hingga Klungkung,” tegas Mertayasa.

Disamping digunakan untuk upakara pada saat Hari Raya Galungan, daging kerbau tersebut juga dijadikan berbagai macam olahan makanan untuk dinikmati bersama keluarga, mulai dari dendeng karbau, tum, lawar, dan rawon. Warga Desa Pandak Gede pun memiliki tips mengolah daging kerbau agar tidak amis yakni dengan menambahkan Daun Tengulun ketika akan diolah menjadi dendeng, gulai, atapun tum. “Yang biasa jadi masalah kan baunya yang amis, tetapi kami di Pandak Gede sudah biasa mengolahnya dengan menambahkan Daun Tengulun sehingga baunya tidak amis,” lanjutnya.

Ditambahkannya, saat ini harga dari kerbau yang dibelinya tergolong naik. Dari 6 bulan lalu harga kerbau dengan berat 450 kilogram seharga Rp 20 juta, kini menjadi Rp 22 Juta. Itu pun harga kerbau betina, sementara untuk kerbau pejantan harganya kebih tinggi mencapai Rp 25 juta perekor dengan berat yang sama. Namun hal itu tidak menjadi halangan bagi warga Desa Pandak Gede untuk tetap menyembelih kerbau karena memang merupakan tradisi turun temurun. “Bahkan harga segitu tidak bisa ditawar karena di Tabanan yang memelihara kerbau sudah semakin langka,” tandasnya.


 


Bendesa Adat Desa Pakraman Pandak Gede, I Gusti Gede Nyoman Arry Subawa, tradisi Nampah Kerbau di Desa Pekraman Pandak Gede tidak lepas dari sejarah warga Desa Pekraman Pandak Gede yang tidak mau memotong daging sapi kecuali untuk upakara, sehingga warga memilih untuk memelihara kerbau. "Selain bisa membantu petani, juga bisa digunakan untuk upakara dan dikonsumsi oleh warga,” ungkapnya.


 


Sekilas diceritakan, tradisi tersebut juga tak lepas dari sejarah dimana ketika itu sekitar tahun 1360 Desa Buahan sebagai pusat pemerintahan Tabanan keadaannya makmur. Waktu itu masyarakat menggelar pesta rakyat sebagai wujud rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bernama Karya Ratu Bali Raja Peni selama 42 hari atau 1 bulan tujuh hari. Saat itulah ada berbagai macam olahan makanan tradisional yang disuguhkan mulai dari kerupuk, dendeng, dan gulai dari. “Nah dari sanalah masyarakat suka dan terbiasa mengolah dan menkonsumsi daging kerbau sampai saat ini,” lanjutnya.


 


Desa Pandak Gede terdiri dari enam Banjar Adat, yakni Banjar adat Batan Poh, Banjar Pangkung, Banjar Adat Belatung, Banjar Ada Saba, Banjar Adat Panti, dan Banjar Taman Sari, dimana seluruh banjar keseluruhanya menyembelih kerbau dengan cara mepatung (berkelompok) atapun menggunakan tukang jagal. Meskipun diyakini sebagai tradisi, sejauh ini tidak ada sanksi bagi warga yang tidak memotong kerbau. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi #tradisi unik #tabanan