Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngusaba Sambah; Pakai Sandal, Bisa Diuber lalu Ditusuk Keris

I Putu Suyatra • Rabu, 15 November 2017 | 01:36 WIB
Ngusaba Sambah; Pakai Sandal, Bisa Diuber lalu Ditusuk Keris
Ngusaba Sambah; Pakai Sandal, Bisa Diuber lalu Ditusuk Keris

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Setiap purnama sasih kalima, masyarakat Desa Sengkidu, Karangasem menyelenggarakan Ngusaba Sambah.  Upacara ini salah satu tradisi terbesar  di Sengkidu, disertai tarian keris selama tiga hari, dan diikuti acara ngurek atau menusuk badan dengan keris,


Bendesa Adat Desa Sengkidu Jero Mangku Nyoman Wage mengatakan,  mereka yang menjadi daratan (menari dengan menusuk diri), hanya menggunakan pakaian layaknya seperti onying, sambil membawa keris yang sudah disiapkan oleh desa maupun pecalang. “Jika ketedunang (kesurupan) pasti langsung berlari menuju ke jaba tengah pura dengan kondisi sudah tidak sadarkan diri, dan menusuk badannya dengan keris," terang Wage saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, pekan kemarin.


Sambah persis seperti sebuah jempana, terbuat dari janur yang muda dihias dan dibentuk seperti asagan (tempat banten). Sambah juga diyakini sebagai tempat bersthananya Dewa Segara dan Ida Bhatara Majapahit. Dalam hiasannya ada gantungan  yang terdiri atas palagantung (unsur dari pepohonan), dan beberapa sesajen. Bahkan, kerbau yang sudah disemblih ditaruh di sana. Terbagi atas dua bagian, bagian kepala dan badannya. "Upacara ini setiap tahun dilaksanakan. Pantangan yang ada juga harus ditaati warga untuk tidak menggunakan alas kaki, juga berlaku bagi masyarakat yang datang dari luar desa," papar Wage.


Jika masuk ke areal pura saat pelaksanaan Ngusaba Sambah, lanjutnya, jangan lupa untuk tidak memakai sandal. Sebab, wewalen (tetarian) dan Daratan di sana tidak menggunakan alas kaki. “Di samping itu, untuk memupuk rasa kebersamaan krama," ungkap pria yang juga sebagai pemangku Pura Puseh tersebut.


Wage mengakui tidak ada sanksi khusus yang harus dilaksanakan. Ia hanya menekankan agar pamedek segera melepas sandalnya dan ditaruh pada jaba sisi pura. “Menyadarkan rasa kebersamaan, disamping ada keyakinan  akan ada  buah ari karma orang yang melanggarnya. Selain itu,   pasti akan dicari oleh Daratan seperti akan ditusuk,” bebernya.


Pamedek yang dicari itu, akan takut karena akan dikejar seperti akan ditusuk. Biasanya akan ditertawai atau disoraki oleh pamedek lain yang tidak menggunakan sandal.


Dijelaskan Wage, Ngusaba Sambah hari pertama dilaksanakan nedunang (turunnya) Ida Bhatara, diisi dengan ngias (berhias) dan masuciang (pembersihan) berupa tapakan pratima dan sasuhunan Celuluk.


Ngusaba Sambah dikategorikan ada dua jenis pelaksanaan. Pertama, yang dilaksanakan pada tahun ganjil, yaitu hanya Ngusaba Sambah Alit (kecil). Di mana hanya ngusaba dan sasuhunan pada saat ngalebar (selesai) di depan pura saja. Sedangkan yang kedua dilaksanakan di tahun genap diselenggarakan dengan nadi (besar). Di mana sasuhunan semua dan Sang Hyang Sambah ngider bhuana keliling desa.


Pada hari ke dua, dijadikan momen  untuk naur sesangi (membayar utang), sekaligus juga nyujukang (mendirikan) Sambah di jaba tengah pura.  “Bagi krama yang mempunyai segala sesuatu permohonan, dan sudah terkabulkan dengan menjanjikan menghaturkan sesuatu. Saat itulah dihaturkan semua jenis sesajen sesangi dari warga. Kadang ada yang nunas keturunan, maupun kesuksesan. Mereka di hari ke dua itu menghaturkan apa yang dijanjikan," terang pria 59 tahun tersebut.


Sedangkan tiga hari selanjutnya, adalah pelaksanaan daratan yang menari atau tarian keris. Dari pukul 15.00 sampai pukul 18.00, semua pamedek yang mau nangkil ke pura pantang menggunakan alas kaki. Pantangan ini berlaku hanya ketika pelaksanaan ngusaba berlangsung. Pada hari ke tiga ini dinamai  panyuud (penyelesaian),  hari terakhir pelaksanaan Ngusaba Sambah.


Ditambahkannya, pada pelaksanaan ngusaba krama yang merantau pasti pulang untuk melaksanakan ngusaba, baik ngayah sebagai wewalen, rejang, atau pun daratan. "Setelah dilaksanakan seluruh prosesi tarian tersebut, barulah warga menghaturkan banten atau canang di Sang Hyang Sambah. Kemudian dilakukan persembahyangan bersama," jelasnya.


Dalam ngusaba terdapat enam prosesi di dalamnya, berlangsung selama lima hari. Enam prosesi upacara tersebut adalah Usaba Melis (pembersihan tapakan), Panyujukan (pendirian Sang Hyang Sambah), Penampahan (mempersiapkan upakara), Pangeramen (menghaturkan upacara membayar utang), Panyuud (penyelesaian ngusaba), dan Nyimpen (rentetan upacara selesai). "Panyuud inilah yang akan dilaksanakan untuk mengarak Sang Hyang Sambah di sekitar jaba pura, agar selanjutnya bisa nyimpen," terang pria pensiunan PNS Pemda Karangasem tersebut.


Salah seorang warga setempat, Nyoman Gita  mengaku sudah sejak kecil merantau di daerah Bukit Bugbug, Karangasem. Ia  setiap tahun pasti pulang ke Desa Sengkidu saat Ngusaba Sambah berlangsung. Selain untuk melaksanakan persembahyangan, ia juga ikut menonton tarian wewalen di jaba pura. "Saya setahun kena urunan sebesar Rp 20 ribu, dan tiga batang janur muda. Itu semua dihaturkan untuk menyelenggarakan upacara Ngusaba Sambah ini," jelasnya. 


Nah, jika penasaran akan berlangsungnya upacara Ngusaba Sambah tersebut, bisa datang ke Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Karangasem. Tentunya pada purnama sasih kalima, rentenan upacara itu dilaksanakan selama lima hari. Dari Kota Denpasar, hanya memerlukan waktu sekitar satu setengah jam saja. Melewati Jalan Baypass Ida Bagus Mantra menuju ke timur arah Kota Karangsem hingga sampai di pusat pemerintahan Kecamatan Manggis. Selanjutnya dari Kantor Camat Manggis, tempuh jalur jalan ke timur sekitar dua kilometer  sudah sampai di Desa Sengkidu. 

Editor : I Putu Suyatra