BALI EXPRESS, UBUD - Warga Pande biasanya memiliki Perapen yang biasa digunakan membuat peralatan dari besi. Selain itu, ada juga Palungan yang digunakan untuk merendam besi membara agar segera dingin. Dan, di Palungan tersebut ada air yang ternyata punya khasiat magis.
Pande Besi asal Banjar Mas, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, I Nyoman Supasara mengatakan, di Perapen ada sebuah tempat pembakaran besi, juga sebuah Palungan (tempat air) untuk menaruh besi yang selesai dibakar. Selain itu, terdapat sebuah palinggih Dewa Brahma, yang diyakini sebagai sumber api yang setiap hari digunakan untuk nyepuh (membentuk besi).
Tempat air yang digunakan untuk menaruh besi yang membara, lanjutnya, juga diyakini merupakan tirta Palungan yang dapat digunakan untuk malukat, terutama yang terkena penyakit secara niskala (non medis).
“Ada sejumlah orang yang dating ke sini untuk malukat dengan tirta Palungan Perapen. Saya juga tidak tahu, saya persilakan saja karena itu bagian dari petunjuk orang wikan atau balian. Hitung-hitung membantu orang yang sakit juga,” paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.
Tak ditampiknya bahwa Palungan tersebut merupakan pertemuan tiga unsur, yang terdiri dari api, air, dan udara. “Di mana besi yang habis dipanaskan sebagai simbol api, Palungan sebagi simbol air karena memang terdapat air, dan ketika besi yang panas tersebut dicelupkan, akan ada udara seperti asap muncul,” urainya.
Sebagai orang Bali, Supasara sangat meyakini ada hal yang gaib atau nonmedis terjadi. Seperti halnya dialami oleh salah seorang kerabatnya yang hendak mengambil pisau di Perapen.
Sempat ada kejadian aneh, di mana salah seorang yang akan mengambil pisau ke Perapen melihat bayangan yang sangat besar muncul, sehingga berlari ke luar rumah.
Hal yang sama juga dialami istrinya yang melihat bayangan sosok orang sangat besar mncul. “Saat itu semua yang ada di rumah sedang pergi ke rumah saudara, sehingga hanya ada istri saya sendiri. Saat itulah istri melihat sebuah bayangan yang sangat besar, yang dipercayai sebagai penjaga dari Perapen,” terang Supasara.
Supasara juga menerangkan bahwa tirta yang ada di Palungan memiliki unsur penetralisir, terutama untuk menetralisasi hal yang bersifat negatif, bersumber dari Ilmu Aji Ugig (ilmu yang disalahgunakan). Sedangkan jika penyakit yang berasal dari adanya piutang ke keluhur, menurutnya tidak akan bisa.
“ Hanya bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh Ilmu Ugig,” terangnya.
Ditegaskannya, orang yang mempelajari Ilmu Hitam dan digunakan mencelakai seseorang tidak akan betah lama berada di Perapen. Bahkan, ia sempat melihat ada seseorang yang tidak berani sama sekali dekat ke Perapennya. “Dia seperti ketakukan dan kepanasan jika dekat ke Parapen,” ujarnya.
Ditambahkannya, selain tirta Palungan, ada juga yang disebut dengan Kaang Api (karang api). Yakni sebuah bara api yang sudah tidak panas lagi. “Kaang Api bisa buat obat gatal, dan tidak jarang ada orang yang mencurinya untuk sarana pangelebur hal yang buruk akibat ulah orang iri. Tetapi saya tidak tahu pastinya lebih dalam terkait hal tersebut,” papar pria asli Ubud tersebut.
“Soal bayangan hitam yang kerap muncul, saya tidak pernah melihat. Tapi orang lain yang sering melihatnya. Seolah-olah dilihat bayangan tersebut sedang berbicara dengan saya. Padahal, saat itu saya hanya diam saja, dan bekerja menyelesaikan orderan pisau yang sebentarnya diambil pemiliknya,” terang ayah dua anak tersebut.
Terkait kejadian tersebut, Supasara mengungkapkan bayangan yang muncul itu merupakan penjaga dan yang malinggih di Perapen tersebut, yang juga menjadi sthana Brahma Pasupati, dimana pelaksanaan upakara hanya dilaksanakan pada Tumpek Landep.
Dikatakannya, keseharian saat melakukan pekerjaan hanya mengawali dengan mantram saja, dengan menyebut “Om se gedo bong bang barak satebang”. Di mana makna dari mantram tersebut adalah mengawali penyepuhan agar dalam proses penyepuhan berjalan lancar.
Jika ada yang datang tiba-tiba malukat, Supasara mengungkapkan bisa menggunakan sarana berupa pajati atau berupa sodan dan canang. Semuanya tergantung dari ketulusan dan kepercayaan mereka yang datang. Sebab, dirinya tidak mengetahui pasti alasan kenapa mereka datang untuk malukat dan nunas tirta Palungan. Namun, diakuinya mereka yang datang kebanyakan karena petunjuk balian yang menyuruh untuk malukat dan menggunakan tirta Palungan dari Pande.
Supasara hingga saat ini mengaku kekuragan tenaga kerja untuk membantunya, terlebih untuk penyelesaian pembuatan sebuah senjata yang panjang. Mulai dari proses pengikiran hingga membuatkan gagang (pati). Sedangkan proses pembakaran dan pemukulan, baik dari besi menjadi bentuk senjata, hingga kini tidak ada hambatan.
Masalahnya juga, lanjut Supasara, orang yang mau bekerja juga harus orang dari warga Pande. “Jika ada orang yang bukan Pande bekerja di Perapen akan mendapatkan malapetaka. Terkecuali kalau disuruh oleh Pande yang sedang ada di sana, tidak apa-apa,” bebernya. Dikatakannya, sempat beberapa waktu lalu, ada orang yang datang memperbaiki sabitnya. Karena sepi, akhirnya dibentuklah sendiri olehnya. Keesokan harinya orang tersebut datang menghaturkan banten guru piduka, yaitu ke palinggih yang ada di Perapen.
“Tidak sembarangan orang yang dapat mengerjakan pekerjaan Pande tersebut. Memang bisa membuatnya, tetapi ketika pulang dan di rumah nantinya akan merasakan kepanasan tidak karuan,” ujarnya.
Hal itu ia berani katakana, atas dasar dari pengalaman orang yang melakukan hal tersebut di Pearapennya.
Di samping hal itu, ada juga yang beberapa jam setelah mengambil sesuatu di Perapen, tanpa diminta tolong oleh Supasara, ketika menuju pulang, orang tersebut merasa seperti terbakar punggungnya. “Memang niatnya baik untuk membantu agar cepat selesai. Tetapi hal tersebut berkaitan dengan dunia niskala, tergantung sekarang kepercayaan kita dan keyakinan kita saja. Biar saya tidak dibilang mengada-ngada dengan hal tersebut, karena itu adalah bukti,” paparnya.
Lantaran itu pula, tidak ada yang berani lagi mengambil sesuatu sembarangan. Baik untuk mengerjakan sendiri pembuatan senjata yang dipesan, atau sekadar membantu proses pembuatannya. Terlebih Perapen a berasal dari perapian, yaitu tempat menyalanya sebuah api. Selain itu, Supasara juga permisi terlebih dulu, berdoa agar dalam proses pembuatan segala jenis senjata dan alat lainnya bisa berjalan lancar.
Di tempat terpisah, Pande I Wayan Subandi menerangkan bahwa dalam peroses pembuatan sebuah senjata tertentu, harus mencari hari baik. Sedangkan pembuatan senjata berupa pisau dan lainnya yang bersifat umum, bisa setiap saat dilakukan tanpa mencari hari baik terlebih dahulu. “Namun kalau pembuatan senjata berupa keris, tombak dan senjata lainnya yang akan dipasupati, harus mengawali dari hari baik,” terang pria pensiunan guru SMA 2 Denpasar tersebut.
Hal inilah yang biasanya menjadikan sarana tersebut bertuah energi positif, termasuk air yang ada di Palungan.
Dikatakannya, memang ada sebuah sumber dari pelaksnaan yang dilakukan di Perapen, seperti dituangkan dalam Dharma Kepandean. “Sudah ada, seperti cara pengerjaan, mencari hari baik, dan beberapa mantram yang memang harus diucapkan saat mengambil sesuatu di sebuah Perapen.
Terlebih senjata yang dibuat yang akan dipasupati memiliki nilai magis dan sangat sakral. Tentu semua itu juga harus didasari keahlian dalam pembuatannya,” ujarnya Subandi ketika ditemui di rumahnya di Desa Sayan, Ubud, Gianyar, pekan kemarin.
Pekerjaan seorang Pande Besi, lanjutnya, sangat berhubungan dengan sebuah senjata, terlebih pada zaman kerajaan terdahulu, dikarenakan untuk perang melawan penjajah. Sehingga dalam pembuatannya, memerlukan waktu dan hari yang dianggap baik. di samping akan menambah kekuatan yang ada pada senjata tersebut.
Subandi mengaku sudah tidak aktif menjadi Pande Besi karena ada pekerjaan lain yang harus digeluti, sehingga tidak ada waktu lagi. “Sudah ada sekitar satu generasi tidak ada prosesi pembuatan senjata di sini. Tetapi kalau pada saat Tumpek Landep, selalu mengadakan upacara di Perapen. Meskipun tidak praktik, tetapi upacara tetap saya jalankan, dan peralatannya pun masih lengkap,” terang pria 77 tahun tersebut.
Editor : I Putu Suyatra