Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sang Hyang Jaran Once Sraya Kesulitan Regenerasi, Ini Penyebabnya

I Putu Suyatra • Kamis, 7 Desember 2017 | 15:05 WIB
Sang Hyang Jaran Once Sraya Kesulitan Regenerasi, Ini Penyebabnya
Sang Hyang Jaran Once Sraya Kesulitan Regenerasi, Ini Penyebabnya

JUNGUT BATU - Tradisi maupun kesenian yang ada di Bali jumlahnya memang tak bisa dihitung dengan jari. Salah satunya kesenian Sang Hyang Jaran. Seperti Sekaa Sang Hyang Jaran Once Sraya Desa Jungut Batu, Klungkung, yang kembali eksis, namun kini dalam bayang-bayang susahnya mencari regenerasi.


Ajang Nusa Penida Festival IV yang dilangsungkan di Pantai Mahagiri, Desa Jungut Batu, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung pada malam kemarin (6/12) menyuguhkan sebuah kesenian tradisional. Kesenian itu tak lain tarian Sang Hyang Jaran, sebuah kesenian yang hadir di Jungut Batu sejak lebih dari seabab lalu atau sekitar 123 tahun lalu.


Lantas bagaimana tarian ini bisa ada di Jungut Batu, dan kini rutin dipentaskan Sekaa Sang Hyang Jaran Once Sraya dari Desa Jungut Batu. Sebuah sekaa yang beranggotakan 14 perempuan sebagai tukang gending atau mekidung, dan 17 anggota laki-laki, baik sebagai penabuh, sekaa gending maupun penari. “Sekaa ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun selama 50 tahun yang lalu kesenian ini sempat vakum. Karena yang membentuk sekaa ini kumpi (buyut) tiang. Nah saya mulai bangkitkan lagi sejak 2006 lalu. Sebelum itu selama 50 tahun lebih vakum,” ucap Klian Sekaa Sang Hyang Jaran Once Sraya, Guru Mirah Maharani yang ditemui usai pementasannya pada malam kemarin.


Pria ini menceritakan, bahwa dirinya ingat betul ketika masih anak-anak juga sempat ikut dalam sekaa itu dan berperan sebagai penunggang jaran. Dan pementasan yang berlangsung sekitar 1950an itu pun menjadi yang terakhir sekaa Sang Hyang Jaran Once Sraya. “Setelah lama vakum itu, pada 2006 lalu saya mencoba untuk kembali menggali jejaknya. Sebab waktu pentas terakhir saat saya kecil, saya sendiri juga tidak hafal dengan gending-gendingnya,” paparnya.


“Akhirnya usaha kami berhasil. Karena nenek saya saat itu (2006, Red) yang sudah berusia lanjut masih bisa mengingat-ingat gending-gending tari Sang Hyang Jaran ini,” imbuhnya.


Neneknya yang bernama Ni Wayan Singgih atau Men Sor merupakan salah satu anggota Sekaa Sang Hyang Jaran Once Sraya sebelum vakum puluhan tahun lalu. Selain itu sang nenek ini pun merupakan anak dari Nyoman Jungut, yang tak lain merupakan Jro Mekel pertama di Desa Jungut Batu. “Jadikumpi saya ini menjadi Jro Mekel pertama tahun 1894. Makanya nama desa ini Jungut Batu. Dulu namanya Nusa Lembongan,” paparnya.


“Waktu 2006 itu, saya pun mencatat semua gending yang disampaikan nenek saya secara lisan. Totalnya ada sepuluh pakem, yang saat ini sudah berupa buku kecil yang berisi semua pakem gendingnya. Tapi pada 2007 lalu, beliau meninggal dunia,” imbuhnya.


Ditanya mengenai asal mula tarian Sang Hyang Jaran ini bisa ada di Jungut Batu. Dikatakan olehnya bahwa semuanya bermula dari adanya sulinggih yakni Ida Pedanda Gede Punia dari Bangli yang meselong (akan dibunuh) oleh raja kala itu. Sulinggih itu meselong ke Nusa Penida sekitar tahun1894. Tapi karena status meselong oleh raja, maka para perbekel di pesisir Nusa Penida tidak ada yang berani menerima, karena takut akan dibunuh raja. “Akhirnya sulinggih ini berlayar lagi sampai ke Desa Jungut Batu ini, yang kala itu sebagai jro mekel di Jungut Batu itu kumpi tiang yakni Nyoman Jungut. Karena kasihan, sulinggih ini diterima di rumah. Cuma karena tidak ada rumah, beliau ditempatkan di Bale Gede,” ceritanya.


Nah selama sulinggih ini tinggal sekitar enam tahunan di rumah sang Jro Mekel Jungut Batu, selama itulah tarian Sang Hyang Jaran ini diajarkan kepada keluarga Jro Mekel. Tapi setelah enam tahun tinggal, akhirnya datang utusan dari raja, yang meminta supaya sulinggih itu dibunuh. Kalau tidak dibunuh, maka keluarga yang menerimanya yang akan dibunuh. “Akhirnya Jro Mekel yang juga kumpi tiang rela dan sulinggih ini dibuang ke segara dalam keadaan hidup, supaya Desa Jungut Batu ini tidak ada tetesan darah,” sambungnya.


“Namun selain Sang Hyang Jaran, sebenarnya ada Sang Hyang Dedari yang saat itu diajarkan sulinggih ini. Cuma saya yang sudah mencoba menelurusi, kesulitan untuk mendapatkan jejak Sang Hyang Dedari,” tambahnya.


Lebih lanjut dipaparkan olehnya, bahwa makna tarian ini sendiri sebenarnya sebagai wujud kuda putih yang merupakan pelinggihan Ida Bhatara Siwa. Karena itu namanya Once Sraya. Sedangkan yang merah namanya Nala Sanda. Untuk Once Sraya diidentikkan sebagai kuta perempuan, dan Nala Sanda yang warna merah diidentikkan dengan kuta jantan.


Disinggung mengenai penari Sang Hyang Jaran yang semalam dipentaskan tampak sudah berusia lanjut, khususnya dua penari yang disebut mengalami kerauhan atau trance. Dikatakan olehnya hal itu karena sulitnya regenerasi, khususnya mencari penari yang bisa mengalami trance. Padahal dari dulu dirinya mencari, termasuk dari keturunan penari sebelumnya. Namun tetap saja tidak bisa menemukan penari yang bisa mengalami trance. Makanya saat ini sekaa yang dipimpinnya itu hanya memiliki empat penari yang bisa sampai trance, namun berusia tua dan secara bergiliran diajak tampil. Keempatnya itu merupakan penari yang diajak bergabung sejak Juni 2006 lalu.


Lantas bagaimana dengan yang membawakan gending selama pementasan. Itu pun dia jelaskan bahwa mereka terkait dengan seni dan hoby pada mekekidungan. Makanya mereka yang menyanyi tersebut diambil dari anggota sekaa santi yang juga diketuainya. “Makanya saya khawatir akan regenerasi ini. Karena itu yang kecil-kecil ini saya ajak juga menari Sang Hyang Jaran. Semoga ke depan mereka bisa trance. Sebab penari ini memang harus trance. Karena kalau tidak, mana mungkin berani menginjak api,” bebernya.


Lalu adakah pantangan bagi para penarinya?. “Yang jelas saat mentruasi, mereka tidak boleh tampil. Selain itu, mereka yang ngayah pun harus keramas sebelum trance. Supaya terhindar dari malapetaka dan bahaya. Karena itu sampai pentas hari ini tidak ada yang sampai terluka, atau pun terbakar,” jawabnya.


Yang menarik seperti katanya, meski tarian ini termasuk lama, untuk pementasan tarian ini cukup laris. Sebab diceritakan, pernah ada seorang ibu yang disebut bernama Men Nila dan sudah punya lima anak, namun kesemuanya perempuan. Akhirnya ibu ini mesesangi, yakni dia hamil lagi dan anaknya laki-laki, maka akan ngupah tarian Sang Hyang Jaran sebanyak lima kali. “Dan itu pun menjadi kenyataan,” bebernya.


Lantas apakah dua wujud jaran yang digunakan dua penari yang trance tersebut disucikan, atau penempatannya digabung dengan yang wujud jaran yang tidak mengalami trance. “Itu penempatannya dibedakan karena disakralkan oleh keluarga kami. Makanya dua peralatan seperti jaran itu disimpan di merajan kami, sebab sulinggih yang menyebarkannya tinggal di rumah kami dulunya,” ungkapnya.


Sedangkan terkait upacara pada sarana tari Sang Hyang Jaran ini. Seperti katanya, upacara biasanya dilaksanakan setiap Tumpek Krulut, dan bebantenannya pun mirip dengan bebantenan untuk topeng. Seperti pejati, tumpeng pitu, yang dilaksanakan setiap enam bulan. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #tradisi unik #nusa penida