BALI EXPRESS, DENPASAR - Agar permohonan berjalan lancar dan dikabulkan, saat Nerang Hujan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Apa sajakah itu?
Nerang Hujan bukanlah hal baru di Bali. Ritual ini memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi. Pasalnya, prinsip kehati-hatian sangat ditekankan dalam ritual ini. Ketika melaksanakan Nerang Hujan, yang bersangkutan harus mampu menjaga api tetap menyala. Hal itu berlaku untuk yang menggunakan dupa atau sambe layar.
“Karena api tersebutlah yang memberikan keterangan kepada dunia, sehingga tidak turun hujan,” ujar I Nyoman Subamia, yang diwawancarai Kamis (23/2).
Lebih lanjut dijelaskannya, ketika yang bersangkutan teledor menjaga api, maka bukan tidak mungkin hujan akan turun secara tiba-tiba. Selain itu, pantang memerciki air di tempat nerang dilaksanakan. Karena hal itu, berarti seseorang telah selesai nerang dan melepas hujan untuk turun.
Selin itu, Nerang Hujan adalah ritual yang memiliki tantangan yang sangat tinggi. Karena tak jarang ada manusia yang sengaja membuat hujan, padahal ia tau sedang ada orang Nerang Hujan. Hal itu akan mengakibatkan benturan antara ilmu kawisesan yang dimiliki. Dan, sangat dianjurkan melaksanakan nerang sebelum hujan turun, karena ketika hujan turun, sangat sulit membalikkan keadaan.