Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Karang Boma yang Selalu Ada di Candi Kurung Jeroan Pura

I Putu Suyatra • Senin, 25 Desember 2017 | 22:11 WIB
Begini Makna Karang Boma yang Selalu Ada di Candi Kurung Jeroan Pura
Begini Makna Karang Boma yang Selalu Ada di Candi Kurung Jeroan Pura

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Jika kita mau bersembahyang ke pura, biasanya di pintu gerbang masuk menuju jeroan pura (Candi Kurung) selalu terlihat Karang Boma yang berbentuk relief dengan wajah seram menyerupai raksasa. Sang Kala Boma yang  bertaring panjang dengan mata melotot, seolah-olah siap memangsa apa pun yang ada di depannya.


Menurut Jro Mangku Gede Suyasa, penggunaan Karang Boma di setiap candi
kurung menuju pura sarat akan makna filosofi, yang tersurat dalam kakawin Bhomantaka.


Makna filosofi Karang Boma yang pertama sebagai sarana panglukatan (penetralisir) bagi pamedek yang nangkil ke pura, dan simbol untuk menghilangkan sifat-sifat keraksasaan (Sad Ripu atau enam musuh dalam diri), ketika memasuki pura, sehingga yang ada hanyalah sifat-sifat daiwi sampad  atau sifat-sifat Dewa.


“Dalam kakawin Bomantaka disuratkan jika Boma itu adalah putra dari
Dewa Wisnu dengan Dewi Perthiwi. Ketika itu, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu
bersitegang untuk mencari siapa yang paling sakti di antara kedua dewa
tersebut. Akhirnya, Dewa Siwa datang dan memberikan saran untuk mengetahui siapa yang paling sakti di antara Wisnu dan Brahma dengan menyuruh kedua dewa tersebut untuk mencari ujung dan pangkal lingga. Dewa Brahma mencari ujung lingga ke atas dengan menaiki Burung Garuda, sedangkan Dewa Wisnu menjelma menjadi Babi Hutan (Waraha) untuk menuju pangkal lingga ke bawah, yaitu perut bumi,” terang Jero Mangku Suyasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (8/3).


Nah, ketika sedang menggali dasar bumi tersebut, lanjut Jero Suyasa, Babi Hutan jelmaan Dewa Wisnu tersebut bertemu dengan Dewi Pertiwi yang cantik.


 Perjumpaan Dewi Bumi dan Dewa Hujan (Wisnu) yang sedang berwujud babi hutan ini berlanjut sebagai kisah percintaan yang melahirkan seorang putera berwujud yang menakutkan bernama Bhoma.


“Dalam konteks ini, gambaran Wisnu sebagai babi hutan yang sedang menggali tanah hingga ke dasar bumi ini, dapat ditafsirkan sebagai karakter air atau hujan lebat yang selalu mengalir atau turun deras meresap ke dalam bumi. Jika air dan bumi bertemu, maka disitulah terjadi kehidupan atau kesuburan,” ungkap Suyasa.


Di alam nyata, sosok Bhoma sebagai putra Dewa Wisnu dengan Dewi Pertiwi, juga dapat disetarakan sebagai tumbuh-tumbuhan atau hutan (vanaspati) yang tumbuh pada media tanah (bumi) yang cukup memperoleh air (hujan).


Jero Gede Suyasa juga menambahkan, jika memasuki areal suci pura hendaknya masuk melalui Candi Kurung atau gelung kori, yang merupakan lambang Gunung Mahameru, yang senantiasa memberikan berkah kemakmuran terhadap alam semesta beserta isinya. Candi Kurung atau gelung adalah sebuah konsep menyatunya alam pikiran kemanusiaan dengan alam kedewaan, sehingga membentuk kuwung, kurung, gelung, windu, dan sunia.


“Jika kita sudah memasuki Candi Kurung tersebut maka ciptakanlah
perasaan yang bulat, menyatu dengan Yang Maha Kuasa agar apa yang dikehendaki datang ke pura dapat tercapai," urainya. 


Sedangkan ornamen Karang Boma di atas pintu masuk Candi Kurung tersebut, lanjutnya,  berfungsi sebagai media panglukatan atau penyucian, karena ketika memasuki pura berarti badan kita ini secara langsung disucikan oleh Karang Boma yang artinya kesejahteraan, kesentosaan yang divisualisasikan sebagai air
(manifestasi Wisnu) yang membersihkan segala kekotoran.


"Oleh karena itulah Boma itu selalu ditaruh di atas Candi Kurung dengan tujuan
untuk melakukan penglukatan,” ujar pensiunan Dosen Sejarah Undiksha Singaraja ini.


Selain itu, wujud aeng (seram) menyerupai Raksasa yang ditonjolkan dalam ornamen Karang Boma tersebut, menurut Jero Suyasa adalah sebagai simbol agar manusia ketika memasuki pura harus bisa meredam atau meninggalkan sifat-sifat keraksasaan (sad ripu) yang ada pada diri manusia.


“Memang bentuk Boma ini begitu dimonik (seram), artinya setiap orang yang masuk ke pura harus menghilangkan sifat-sifat aeng atau seram (keraksasaannya) yang sering disebut dengan sad ripu sehingga yang ada hanyalah sifat daiwi sampad atau sifat ke-dewaan ketika memasuki pura,“ pungkas Jero Mangku Suyasa.



Menurut Jero Suyasa yang menjadi Mangku di Pura Agung Jagatnatha Singaraja,
Bhutakala artinya ruang dan waktu. Setiap dari kita yang menatap Karang Boma diharapkan menyadari bahwa dirinya terbatas oleh ruang dan waktu. Bahwa sangat terbatas waktu kita untuk meningkatkan kehidupan rohani, sehingga diharapkan jangan lagi menunda-nunda untuk berbuat baik. 


“Waktu bersifat kekal, tak ada yang bebas dari pengaruh waktu. Misalnya waktu kematian, kelahiran adalah contoh yang paling konkret dalam hal ini. Ketika memasuki Candi Kurung di sebuah pura dengan ornament Sang Kala Boma di atasnya, orang Bali menyadari bahwa diri mereka sedang memasuki wilayah spiritual yang tak terbatas. Kebersihan rohani dan keimanannya akan diuji oleh waktu,” tandasnya.


Sehingga, manusia diharapkan jangan lagi menunda-nunda untuk berbuat baik.  Bahkan, di dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan "Iking tang janma wwang, ksanikabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlaba towi, matangyan pongakena ya ri kagawayanning dharma sadhana, sakaranangin manasanang sangsara, swargaphala kunang."


Artinya, jika kelahiran menjadi manusia pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh. 
Oleh karenanya itu, gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapi sorga.

Editor : I Putu Suyatra