BALI EXPRESS, BANJAR - Desa Sidatapa, merupakan salah satu desa tua yang terletak di Kecamatan Banjar dijuluki Bali Aga (Bali Mula) yang diduga ada sejak Tahun 700 Masehi. Jauh sebelum Kerajaan Majapahit mulai menguasai Bali.
Kawasan Desa Sidatapa yang secara geografis berada di ketinggian sekitar 700 meter diatas permukaan laut, berbatasan langsung dengan tiga desa tua lainnya yaitu Cempaga, Tigawasa dan Pedawa. Bahkan gugusan desa ini kerap dijuluki SCTP (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa).
Dari 2761 KK yang bermukim di Sidatapa, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai penganyam dengan memproduksi alat-alat rumah tangga dan sarana sembahyang. Misalnya soksasi, bakul, saab, keranjang. Lokasi geografis yang berada di ketinggian membuat Desa Sidatapa juga menjadi daerah penghasil cengkih, kopi dan cokelat yang membuat warga bermata pencaharian sebagai petani tetapi hanya bersifat musiman (tahunan).
Namun yang cukup menarik dikupas di desa Sidatapa adalah masih eksisnya keberadaan rumah adat dengan segala keunikan yang dimilikinya hingga mampu bertahan di era modern dan kokoh dari gempuran rumah style modern seperti style minimalis yang ngetrend saat ini menjamur ditemukan di Buleleng. Rumah adat ini begitu diskralkan sehingga warga disana begitu menjunjung warisan leluhurnya itu.
Seperti pantauan Koran Bali Expres (Jawa Pos Group) ketika berkunjung ke Desa Sidatapa beberapa waktu lalu. Tidak sedikit rumah-rumah warga dibangun membelakangi jalan. Selain itu, rata-rata bentuk rumah memiliki kemiripan baik dari sisi bentuk, konstruksi hingga material yang dipergunakan rata-rata berbahan tanah liat.
Menurut penuturan dari salah satu tokoh masyarakat Desa Sidatapa yaitu Nyoman Kader, 58, jika sejarah Desa Sidatapa tidak banyak diketahui warga Sidatapa.
Sampai saat ini belum ada prasasti yang menunjukan dengan jelas dan hanya dapat diketahui melalui penuturan tetua Desa Sidetapa namun dapat disimpulkan bahwa Desa Sidetapa merupakan Desa Bali Aga atau Bali Mula. Namun berdasarkan penuturan leluhurnya dari generasi ke generasi menyebutkan jika Desa Sidatapa ini ada sejak tahun 756 Masehi.
“Konon berdasarkan cerita leluhur rumah yang dibangun saat itu sengaja membelakangi jalan dengan tujuan untuk melindungi diri dari ancaman binatang buas. Dulu kan hutannya masih lebat mungkin saja binatang buas bisa sewaktu-waktu menyerang. Makanya rumah itu dibuat membelakani jalan” kata Nyoman Kader.
Seperti dijelaskan Nyoman Kader jika rumah adat ini pun ditopang oleh dua belas (12) tiang penyangga rumah yang terbuat dari bahan baku kayu yang disebut “Bale Gajah Tumpang Salu”. Disebut demikian karena tiang penyangga itu tidak boleh kurang dari 12 dan menjadi simbol kekuatan krama dalam menjalani kehidupan. Bale dimaknai sebagai tempat berlindung atau rumah, Gajah dimaknai sebagai perlambang ilmu pengetahuan, Tumpang Salu dimaknai Tiga Bagian.
Lalu, apa saja yang terdapat di dalam rumah adat? Nyoman Kader pun merinci jika rumah adat di Desa Sidatapa pada umumnya memiliki kesamaan dengan tri mandala yang ada di pura. Misalnya di rumah adat ditemui nista mandala (bagian luar rumah), madya mandala (bagian tengah rumah) dan utama/jero mandala (bagian dalam/inti).
Di bagian pertama disebut nista mandala atau biasanya warga menggunakan areal ini sebagai tempat untuk menerima tamu maupun kerabat dan juga tempat tidur. Setelah itu ada ruangan madya mandala atau bilik kedua sebagai tempat bagi pemilik rumah untuk menjalankan aktifitas rumah tangga seperti memasak, makan dan kegiatan lainnya. Tentunya posisi di bagian madya mandala ini berada lebih tinggi dibandingkan nista mandala.
Di bagian madya mandala ini juga ada tempat perapian atau Dapur yang diyakini sebagai perlambang stana Dewa Brahma, tempat penyimpanan air sebagai perlambang stana Dewa Wisnu, serta Penyimpanan Beras sebagai perlambang stana Dewa Sri.
Sedangkan di bagian utama mandala ditandai dengan posisi paling tinggi. Di bagian ini terdapat tempat suci yang letaknya paling hulu di dalam rumah. Menurut Nyoman Kader, jika tempat suci inilah yang dijadikan sebagai tempat memberikan persembahan berupa sesajen kepada panembahan atau sesuhunan (leluhur sebanyak 8 nama dan tidak boleh disebutkan alias pingit),Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa), pelinggih Dewi Sri (Sakti Dewa Wisnu dalam manifestasinya sebagai Dewi Kesuburan) ada Taksu dan juga Pelangkiran.
“Inilah yang membuat rumah adat di Desa Sidatapa berbeda dari rumah adat lainnya. Warga melakukan persembahyangan dengan memuja leluhur dan Dewa Tri Murti serta Taksu dari dalam rumah. Sehingga warga di Sidatapa tidak perlu lagi membuat pelinggih penunggun karang (penunggu rumah) seperti di daerah Bali lainnya yang setiap rumah ada penunggun karang sebab semua aktivitas persembahyangan sudah dilakukan di dalam rumah.” ujar Kader.(bersambung)
Editor : I Putu Suyatra