Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Baris Cina, Bukti Kesakralan Renon

I Putu Suyatra • Minggu, 31 Desember 2017 | 20:13 WIB
Baris Cina, Bukti Kesakralan Renon
Baris Cina, Bukti Kesakralan Renon

BALI EXPRESS, DENPASAR - Berbicara tentang Renon, masyarakat akan teringat dengan sebuah lapangan besar yang berada di pusat pemerintahan Provinsi Bali. Terlepas dari itu, nama Renon sejatinya adalah nama sebuah desa di Selatan Lapangan Puputan Niti Mandala. Ada yang unik sejatinya dengan desa  yang satu ini.


Sejarah berdirinya Desa Renon belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan Prasasti Blanjong, daerah ini telah ada sejak tahun 913 Masehi atau 835 caka ketika Sri Kesari Warmadewa berkuasa. Adanya daerah ini bermula dari terjadinya perang Blanjong. Perang ini mengakibatkan beberapa masyarakat di sekitar Blanjong mengungsi ke beberapa daerah, seperti  Sukawati, Kesiman, dan Renon sekarang.


“Ketika sampai di suatu daerah (Renon sekarang) seluruh masyarakat harus mengubah kebiasaan dari awalnya menjadi nelayan kini harus menjadi petani,” ujar Bendesa Adat Renon, I Made Sutamai kepada Bali Exspress (Jawa Pos Group) Minggu (19/3) lalu.



Lebih lanjut dijelaskannya, setelah menjadi petani, masyarakat menjadi makmur dan sejahtera. Hal itu dikenal dengan sebutan Rnam, di mana masyarakat berbahagia karena kemakmuran. Seiring berjalannya waktu, sebutan Rnam berkembang menjadi Renon. Sebutan Rnam tersebut kini masih digunakan dalam maskot Desa Renon dengan slogan 'Rnam Raharja'. 


Selain itu, di dalam Prasasti Blanjong dijelaskan, setelah terjadi perang ditemukan Gong Beri yang sangat identik dengan gambelan perang zaman dahulu. Selain Gong Beri, terdapat juga terompet perang yang berjumlah tiga buah. Trompet ini sangat kuna dan terbuat dari batu karang. Hingga kini terompet tersebut masih dibunyikan ketika penari Baris Cina akan kesurupan. Terompet ini tetap distanakan di Pura Blanjong dan diambil ketika akan dilaksanakan pementasan Tari Baris Cina. 


Beberapa tahun setelahnya, yakni tahun 1400 Dang Hyang Niratha melakukan perjalanan mengelilingi Bali. Beliau menyempatkan diri melewati Desa Renon. Ketika hendak meninggalkan desa tersebut, beliau menancapkan tongkattnya dan menjadi pohon Sukun. Hingga kini buah Sukun menjadi bagian dari maskot Desa Renon. 


Desa Renon sangat dikenal dengan kesenian sakralnya , yaitu Baris Cina. Tak banyak yang tau bahwa Puri dari Baris Cina berada di Pura Blanjong Sanur. Walaupun berada di wilayah Desa Sanur, Pura Blanjong adalah sesuhunan Desa Adat Renon. Berdasarkan petunjuk niskala, di desa Renon tepatnya di Pura Dalem terdapat palinggih Baris Cina. Hal inilah yang menandakan Tari Baris Cina merupakan sesuhunan Desa Adat Renon.


“Walaupun pengungsi akibat perang tidak hanya di Renon saja,” imbuh pria yang juga pensiunan Dinas PU Denpasar ini.Baris Cina selalu dipentaskan ketika dilaksanakannya piodala di Pura Khayangan Tiga Desa Adat Renon. Namun, selain di Desa Adat Renon, Tari Baris Cina juga sering ngayah di  pura yang merupakan bukti perjalanan Dang Hyang Niratha, seperti Pura Sakenan, Pura Peti Tenget, dan Pura Rambut Siwi. 


Tari Baris Cina merupakan simbol kesiapsiagaan prajurit  yang hendak berperang. Di mana, pakian tarian ini sebagian besar berasal dari luar negeri. Seperti topi yang berasal dari Australia dan Pedang yang berasal dari Cina. Masyarakat Renon sangat menghormati tarian sakral ini. Uniknya, setip penari Baris Cina tidak perlu waktu lama untuk belajar.Masyarakat Renon sangat menghormati tarian sakral ini. Uniknya, setip penari Baris Cina tidak perlu waktu lama untuk belajar. Biasanya beberapa kali saja, dan secara autodidak akan bisa menyesuaikan gerakan. “Hal ini cenderung terkait dengan anugerah dari sesuhunan Baris Cina itu sendiri,” tandasnya. 



Namun, pihaknya berharap agar kesakralan Tari Baris Cina tetap dijaga. Melalui pementasan yang memiliki asensi pada upacara keagamaan. Khusus untuk kesenian profan, pihaknya mengaku tengah menggarap tarian yang menyinggung Baris Cina, namun lebih bersifat profan atau hiburan. “Tarian tersebut diberi nama Legong Sudamala. Besar harapan tarian tersebut kedepannya bisa menjadi mascot Desa Renon," tutup Bendesa tiga periode ini. 

Editor : I Putu Suyatra