BALI EXPRESS, ABIANSEMAL - Sebelum menjadi pemangku di Pura Dalem Dasar di Desa Sibanggede, Abiansemal, Badung, I Gusti Agung Gede Mertasana sempat kerauhan, bersamaan dengan badannya dimasuki sinar, ketika piodalan berlangsung. Kejadian tersebut diyakini sebagai tanda untuk melaksanakan ngiring menjadi pemangku.
I Gusti Agung Gede mengaku sudah dua kali sempat menolak untuk ngayah menjadi pemangku. “Sebelumnya saya sudah merasakan ada sebuah tanda untuk menjadi pemangku. Seperti saat nunas baos terkait pelaksanaan upacara di pura, saat tersebut muncul juga nama saya yang dipanggil. Karena masih aktif bekerja, maka saya tidak jalankan,” paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Badung, akhir pekan kemarin.
“Tidak berani kembali menolak dan langsung diupacarai di jeroan pura. Pada saat itu kebetulan pelaksanaan pujawali di Pura Dalem Dasar,” urai pria yang mulai ngayah menjadi pemangku semenjak tahun 2014 lalu.
Sebelum karauhan (trance), Mertasana seperti biasa bersembahyang ke pura. Namun setelah sembahyang ia tak sadarkan diri dalam beberapa menit. “Saya melihat sebuah sinar putih yang agak kebiru-biruan. Ada sebanyak tiga sinar seperti mahkota masuk ke dalam tubuh. Saya lihat jelas sinar tersebut, setelah itu saya tidak sadarkan diri. Entah itu diapakan oleh kerabat saya, ada yang mengatakan disirat tirta dan digotong,” urianya.
Setalah disirat (diperciki) tirta baru ia sadar kembali. Sejak kejadian itu, ia tidak berani lagi menolak menjadi seorang pemangku. Apalagi pemangku sebelumnya sudah lama meninggal dunia. Itu yang menyebabkan setiap piodalan pada Umanis Kuningan mencari pemangku untuk nganteb (menyelesaikan upcara). Sebelumnya, pemangku yang nganteb biasanya pemangku Pura Khayangan Tiga setempat.
Terkait piodalan di sana, ia sendiri mengaku memang dari dulu dilaksanakan dalam sehari saja. Baik itu piodalan nadi ataupun piodalan sepen. Terkecuali jika pada pelaksanaan karya agung, baru dilaksanakan beberapa hari sesuai rentetan upacara yang dilangsungkan.
Mertasana mengungkapkan, sempat menemukan sebuah tulang di belakang palinggih. “Saat menggali lobang untuk menanam padagingan, saya temukan tulang yang besar-besar. Karena ada pangayah yang mengatakan tulang tersebut merupakan tulang macan, maka tulang tersebut dikubur kembali di sana,” urainya.
Ida Ayu Raka tak menampik tulang tersebut adalah tulang macan. “Mungkin macan itu sebagai rencangan pura di sana zaman tersebut, setelah meninggal dikubur tepat di belakang palinggih. Karena hendak dibuang ke laut, saya sarankan untuk menanam kembali bersama padagingan yang akan ditanam saat piodalan berlangsung,” terang ibu empat anak tersebut.
BACA JUGA
7 Kisah Unik dan Mengerikan Seseorang sebelum Jadi Pemangku di Bali
Editor : I Putu Suyatra